Peran Zakat Dalam Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs)

Oleh : Moh. Ali Ma’sum

Mahasiswa Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta

(Penerima Manfaat Beasiswa BAZNAS)

Dewasa ini diketahui bahwa masyarakat dunia tengah mencanangkan terobosan atau program untuk hal mewujudkan masyarakat dunia yang sejahtera dan berkemajuan baik di bidang science maupun social economy. Salah satu contohnya yaitu program Sustainable Development Goals yang biasa disingkat dengan SDGs, perkembangan atau kelanjutan dari era Millennium Development Goals (MDGs)

SDGs merupakan sebuah kesepakatan masyarakat dunia untuk mewujudkan dunia yang terbebas dari kemiskinan, berkehidupan yang bermartabat, adil, dan sejahtera, serta saling bekerjasama diantara mereka. (Kementerian PPN/Bappenas tahun 2018, yang dikutip dari Outlook Zakat Indonesia)

Penjelasan lain dari SDGs yang dikutip dari laman Wikipedia Indonesia merupakan 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi. Tujuan ini dicanangkan bersama oleh negara-negara lintas pemerintahan pada resolusi PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030.

Adapun 17 tujuan SDGs tersebut yaitu (1) tanpa kemiskinan, (2) tanpa kelaparan, (3) kehidupan sehat dan sejahtera, (4) pendidikan berkualitas, (5) kesetaraan gender, (6) air bersih dan sanitasi layak, (7) energi bersih dan terjangkau, (8) pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, (9) industri, inovasi dan infrastruktur, (10) berkurangnya kesenjangan, (11) kota dan komunitas berkelanjutan, (12) konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, (13) penanganan perubahan iklim, (14) ekosistem laut, (15) ekosistem daratan, (16) perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh, dan (17) kemitraan untuk mencapai tujuan.

Berdasarkan dari tujuan dari SDGs tersebut, ada beberapa tujuan yang berkesinambungan dengan prinsip-prinsip zakat dan tujuan mendasar dalam Islam, yang merupakan salah satu instrumen ekonomi dalam Islam yang sangat penting untuk menangani permasalahan-permasalahan terkait pembangunan sosial. Tujuan mendasar itu disebut dengan Maqasid al Syariah yang terdiri dari perlindungan keyakinan, kehidupan, keturunan, akal dan kekayaan. Meskipun ada beberapa perbedaan antara zakat dan SDGs, namun hal tersebut tidak membuat tujuan keduanya bertolak belakang.

Terkait dengan salah satu tujuan SDGs yang sejalan dengan zakat, yaitu untuk mengentaskan kemiskinan, secara umum sudah kita ketahui secara kasat mata bahwa salah satu permasalahan terbesar di negeri ini yang sampai saat ini masih diusahakan oleh pemerintah yaitu untuk menguranginya permasalahan kemiskinan.

Berdasarkan data yang dari laman website resmi Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 9,41%, menurun 0,25% poin terhadap September 2018 dan menurun 0,41% poin terhadap Maret 2018. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 25,14 juta orang, menurun 0,53 juta orang terhadap September 2018 dan menurun 0,80 juta orang terhadap Maret 2018.

Menurut data tersebut, saat ini Indonesia sudah mulai menunjukkan peningkatan kinerja dalam menanggulangi angka kemiskinan. Dimana angka kemiskinan mulai mengalami penurunan, dan bukan suatu kemustahilan jika suatu saat angka kemiskinan di Indonesia akan lebih kecil lagi.

Peran atau Kontribusi dana zakat dalam mengurangi kemiskinan di Indonesia pun bisa dibilang cukup efektif. Dimana pada tahun 2016 dan 2017 proporsi terbesar penyaluran zakat diterima oleh golongan fakir dan miskin yang mencapai lebih dari 60% di setiap tahunnya, bahkan di tahun 2016 proporsinya mencapai 73,13% dari total dana yang disalurkan (Data dari Outlook Zakat Indonesia). Artinya, dana zakat memang diperuntukkan demi mensejahterakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan.

Zakat juga bisa menjadi jalan bagaimana dunia memandang Islam, yang sampai saat ini masih banyak orang yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang radikal dan identik dengan kekerasan. Dengan menjadikan zakat sebagai kontribusi terbesar dalam mensejahterakan masyarakat serta mendukung dalam mewujudkan pencapaian SDGs, bisa mengubah citra Islam dimata dunia yang cinta akan perdamaian dan keamanan.

Maka, Penulis sangat setuju BAZNAS berperan/berpartisipasi dan bekerjasama dalam mendukung dalam mewujudkan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Namun demikian, diperlukan sebuah panduan untuk melaksanakan program-program yang didanai zakat agar pendistribusian dan pendayagunaan zakat sesuai dengan asnaf yang dikaitkan dengan tujuan SDGs. (*)