Perlunya Penanganan Dini untuk Mengatasi Penyakit Diabetes Mellitus

Oleh : Mahmudah

Dewasa ini jumlah penderita diabetes terus mengalami peningkatan dan tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja tetapi anak-anak dan remaja juga dapat terkena penyakit ini. Data perkiraan terakhir jumlah penderita diabetes menurut International Diabetes Federation (IDF) tahun 2013 bahwa total penderita diabetes mellitus di dunia sebanyak 382 juta orang. Jumlah penderitanya di dunia diperkirakan akan terus meningkat, pada tahun 2035 akan bertambah menjadi 592 juta pederita diabetes. Diabetes mellitus sendiri ialah penyakit kronik yang biasanya dapat diketahui dari adanya peningkatan kadar gula dalam darah. Sampai saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan diabetes mellitus secara total. Akan tetapi komplikasinya dapat dicegah baik komplikasi jangka panjang ataupun komplikasi jangka pendek. Permasalahan utama dari penanganan penyakit diabetes mellitus adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sedini mungkin serta kurangnya tenaga kesehatan yang memenuhi kebutuhan baik dari segi kualitas dan kuantitasnya.

Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi diabetes mellitus adalah pemberian edukasi kepada masyarakat terkait penyakit diabetes itu sendiri untuk meningkatkan pengetahuan pasien. Edukasi kepada masyarakat dapat dilakukan melalui kampanye. Hal ini diperlukan karena dengan adanya pengetahuan yang baik maka akan lebih mudah untuk memberikan arahan dalam menjalankan tata laksana penanganan diabetes. Perilaku yang dilandasi pengetahuan akan lebih mudah diterima dan diterapkan dari pada perilaku yang tanpa dilandasi pengetahuan. Pengetahuan mempengaruhi perilaku seseorang karena adanya pengetahuan tersebut, seseorang akan mempunyai alasan dalam menentukan dan melakukan suatu tindakan.

Pemberian edukasi kepada masyarakat sedini mungkin dapat membantu mencegah dan mengurangi komplikasi penyakit diabetes mellitus. Jika masyarakat memiliki pengetahuan yang baik maka mereka akan menjalankan gaya hidup sehat serta akan segera melakukan pemeriksaan dini, sehingga bisa segera ditangani jika dinyatakan menderita penyakit diabetes mellitus. Dengan demikian angka prevalensi dan komplikasi diabetes mellitus akan menurun. Apabila sejak anak-anak sudah menjalankan gaya hidup sehat maka kebiasaan tersebut akan lebih mudah untuk tetap dijalankan hingga dewasa. Apabila anak tersebut terdiagnosa diabetes mellitus maka ia akan menjalankan diet dengan baik karena sudak terbiasa menjalankan gaya hidup sehat dan sudah mengetahuai pengetahuan yang baik sejak ia masih anak-anak.

Semakin tingginya prevalensi diabetes mellitus serta komplikasi yang ditimbulkan semakin banyak, mengakibatkan peningkatan kebutuhan tenaga kesehatan yang berkompeten. Menurut Pulungan et al (2019), meningkatnya angka penderita DM tipe-1 pada anak mengakibatkan terjadinya peningkatan perawatan sehingga kebutuhan tenaga kesehatan yang berkompeten juga meningkat. Selain itu, angka kesintasan diabetes tipe 1 yang bertambah, menimbulkan komplikasi jangka panjang, sehingga dibutuhkan kesiapan dari petugas kesehatan dalam menanganinya.

Salah satu penyebab terjadinya diabetes mellitus adalah pola hidup dilihat dari makanan yang dikonsumsi dengan aktifitas fisiknya. Pranomo & Sulchan (2014) meyatakan bahwa, 87% remaja suka mengkonsumsi fast food ataupun junk food. Perkembangan teknologi juga menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh remaja saat ini. Berdasarkan pernyataan tersebut bisa disimpulkan bahwa gaya hidup remaja saat ini cenderung kurang baik. Perkembangan zaman yang semakin maju berdampak negative terhadap gaya hidup anak-anak dan remaja. Diperlukan pengawasan dari orang tua terhadap konsumsi makanannya untuk mengurangi konsumsi makanan yang tidak sehat. Seseorang yang mengkonsumsi makanan yang tidak sehat diikuti dengan aktivitas fisik yang kurang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, salah satunya yaitu diabetes mellitus.

Pendidikan pasien dan keluarga pada remaja dengan DM tipe-2 sangat penting dan akan mempengaruhi perubahan perilaku pada diet dan aktivitasnya. Sebagian besar bukti klinis mengenai DM tipe-2 pada anak-anak, melibatkan perubahan gaya hidup (peningkatan aktivitas fisik dan perubahan asupan makanan) serta penggunaan hanya Metformin, atau dengan insulin (Temneanu et al, 2016). Jadi dalam penatalaksanaan diabetes mellitus supaya dapat berjalan dengan baik maka diperlukan pendidikan yang baik, tidak hanya pendidikan pasien saja melainkan juga pendidikan untuk keluarga pasien. Pengetahuan keluarga yang baik akan memotivasi dan memfasilitasi penderita DM untuk menjalankan terapi diet yang dianjurkan. Sehingga penderita DM bisa mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.(*)