Pesan Kedamaian Nagasaki

Oleh: Jaelani Husni

Warga Kasomalang

Bagi sebagian orang atau mungkin banyak dari kalangan masyarakat, ada yang mengartikan tahun politik sebagai arena pertarungan maupun pertaruhan hidup dan gengsi yang menjadikan kemenangan sebagai harga mati tanpa mempertimbangkan apakah cara yang ditempuh benar atau salah. Adapula bagi sebagian lainnya yang mendefinisikan tahun politik sebagai pesta demokrasi yang mesti disambut dengan suka cita, menerka, meyakinkan hati untuk menentukan pilihan terbaik nanti.

Hal ini beralasan jika kita melihat perkembangan konten di semua media sosial yang ada banyak diselimuti pro – kontra yang seringkali mengarah pada ketegangan, hujatan, saling hina, caci memaki, dan jenis kontroversi lainnya yang seyogyanya belum pernah terjadi secara intensif di dunia nyata. Pertanyaannya adalah ada apa dan mengapa bisa terjadi ?. apakah beda pilihan mesti memudarkan persatuan dan persaudaraan berbangsa ?.

Nagasaki dan Perang Dunia II

Saya kembali teringat kala berkesempatan mengunjungi Kota Nagasaki, sebuah Prefektur di bagian paling Selatan Negeri Jepang beberapa bulan ke belakang (29/04/2018). Negara yang menurut saya memiliki kebebasan berlebih dalam beberapa hal itu nyatanya berbanding terbalik dengan sikap dan karakteristik masyarakatnya yang murah senyum, sopan dan ramah, sesuatu yang tentu dimiliki pula oleh banyak orang Sunda di wilayah pegunungan maupun di perkampungan terpencil.

Siapa yang tidak mengenal pula peristiwa jatuhnya Bom Atom di Nagasaki yang banyak menewaskan masyarakat sipil kala titik nadir Perang Dunia II bergelora ?. Setidaknya, tercatat ada sekitar 80.000 orang meninggal dunia secara bertahap oleh karena daya ledak yang dihasilkan The Fat Man, sebutan Bom Atom yang dijatuhkan tepat di tengah Kota Nagasaki. Berdasarkan penuturan Tour Guide, faktor utama kematian masyarakat Sipil Nagasaki disebabkan oleh rasa haus, radiasi ledakan hingga luka bakar yang tak tertahankan. Selain itu, ada pula sejarah yang kurang begitu terpublikasi di kalangan masyarakat dunia bahwa persepsi tentang maju dan berkembangnya Bangsa Jepang pasca Bom Atom diakibatkan banyaknya para intelek dan guru yang diselamatkan.

BACA JUGA:  Penyelenggaraan Pilkada di Tengah Pandemi, Tepatkah?

Saya kira, asumsi tersebut kurang begitu adil dalam tinjauan sejarah. Bagaimanapun, siapa yang terlihat selamat tanpa mengenal status maupun profesi, semua diselamatkan atas nama kemanusiaan dan persaudaraan sesama Bangsa Jepang tanpa terkecuali. Disinilah letak perbedaan dampak persepsi dan opini yang dimunculkan !. Bangsa Jepang peduli terhadap sejarah bangsanya tanpa mengurangi sedikitpun apa yang terjadi dalam sejarah sebagaimana mestinya. Lalu, apa ibrah dari semua cerita diatas?.

Meraup Hikmah 

Kini, ditengah semakin majunya ruang dan waktu, kehidupan berbangsa kita kembali dihadapkan pada tahun politik yang mendebarkan sekaligus agak membingungkan. Di sosial media, aksi saling serang dengan hujatan sungguh memilukan. Kepulan asap hoax semakin tebal dilemparkan. Apa yang membuat Bangsa yang sebenarnya memiliki keluhuran budi, kebesaran budaya menjadi berperilaku demikian?.

Dalam hal ini, saya mengira bahwa sikap saling hantam dari oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab adalah bukti bahwa kita seakan kehilangan rasa daripada politik itu sendiri. Martabat politik santun telah dijatuhkan !. Pendidikan Politik tergerus ambisi kemenangan. Menghalalkan segala cara seakan menjadi jalan satu – satunya ntuk meraup simpati pemilih lainnya, guna meraih kemenangan tanpa melihat sedikitpun bahwa kita bersaudara, yakni berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, pesan kedamaian Nagasaki adalah partikel kecil sebuah oase untuk mengingatkan kita, menjadi pepeling bahwa tahun politik mesti dihadapi dengan suka cita, menjadikan kehidupan berbangsa lebih dewasa dalam memandang perbedaan, mendengungkan sikap tolong – menolong tanpa memandang siapapun, sama halnya dengan Bangsa Jepang pasca bom atom, bersatu, tetap bersaudara demi mengangkat harkat dan martabat negara tanpa perlu melakukan politik gontok – gontokan. (*)