Peserta Didik Jenuh dalam PJJ, Guru Bisa Apa?

Oleh: DONY PURNOMO
GURU GEOGRAFI SMAN 1 PURWANTORO

Pembelajaran jarak jauh digelar sejak bulan Maret hingga kini, kurang lebih sudah berjalan sekitar 8 bulan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mendukung adanya PJJ ini mulai dari subsidi pulsa hingga pelatihan kepada guru untuk menyelenggarakan kegiatan PJJ yang menarik dan efektif.

Bantuan pulsa dari kemdikbud hingga hari bulan ini telah cair sebanyak dua kali yaitu pada bulan September dan Oktober ini. Banyak platform yang dapat dikunjungi untuk menunjang kegiatan PJJ agar peserta didik dapat mengakses aneka sumber belajar yang dibutuhkan.
Pelatihan guru untuk menunjang PJJ telah dilaksanakan oleh kemdikbud sejak tanggal 1 Oktober 2020 dan hingga kini masih berlangsung untuk angkatan berikutnya. Program guru belajar ini akan berakhir pada Desember 2020 pada proses pengimbasan.

Seiring berjalannya waktu penyakit yang menghinggapi peserta didik dalam PJJ adalah kejenuhan. Berdasarkan data yang dirilis oleh survey kredibel Kemendikbud bersama UNICEF yang diselenggarakan pada 18-29 Mei 2020 dan 5-8 Juni 2020 lalu. Selama survei, UNICEF menerima lebih dari 4.000 tanggapan dari siswa di 34 provinsi Indonesia, melalui kanal U-Report yang terdiri dari SMS, WhatsApp, dan Messenger. Hasil survei menyebut, sebanyak 66 persen dari 60 juta siswa dari berbagai jenjang pendidikan di 34 propinsi mengaku tidak nyaman belajar di rumah selama pandemi Covid-19. Dari jumlah tersebut, 87 persen siswa ingin segera kembali belajar di sekolah.

Hingga kini pemerintah belum mengiysaratkan tanda-tanda akan dibukanya seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Dengan adanya kondisi ini berarti guru harus terus menyelenggarakan PJJ dan mampu membunuh kejenuhan peserta didik dengan menyelenggarakan yang menarik bagi peserta didik. Untuk dapat menyelenggarakan kegiatan PJJ yang menarik dan bermakna ada alternatif pembelajaran 5M yang dapat dilakukan oleh guru diantaranya;
Pertama, Memanusiakan hubungan. Praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi positif antara anak, guru dan orangtua. Dalam tahap ini guru harus menghimpun data mengenai kesiapan orangtua dalam proses pembelajaran. Sediakan waktu antara anak dan orangtua untuk berdialog mengenai kondisi mereka dalam menjalani PJJ sehingga akan ditemukan formula yang tepat untuk menyelenggarakan proses pembelajaran.

BACA JUGA:  Mengenal Antibiotik Mikrobiologi

Dalam tahap ini orangtua, guru dan anak dapat membuat kesepakatan bagaimana proses pengerjaan tugas yang akan diberikan ke anak. Jika tugas yang diberikan berupa tugas tidak terstruktur dapat membuat kesepakatan jangka waktu pengumpulan tugasnya.

Pada tahap ini ada beberapa hal yang harus dihindari yaitu pengerjaan tugas yang sepenuhnya membutuhkan pendampingan orangtua, hindari pemberian tugas yang tidak memami kondisi anak dan orangtua serta hindari pemberian tugas dengan tempo waktu yang singkat dan pengumpulan bersamaan.

Kedua, Memahami konsep. Praktik pembelajaran yang menuntun peserta didik tidak hanya menguasai konten tetapi juga menguasi konsep materi pembelajaran. Dalam pembelajaran ini guru dapat membagikan penjelasan materi melalui video, gambar, tautan situs dan lainnya agar pembelajaran lebih terarah. Selanjutnya guru dapat memberikan tugas yang terkait dengan kondisi lingkungan sekitarnya yang sesuai dengan konteks materi pembelajaran. Biarkan peserta didik bereksplorasi dengan lingkungan sekitar mereka.