Pojokan 70

Belajar Filsafat

Buntu

Tak taulah saya. Kenapa pikiran ini sering kali mengalami kebuntuan. Tak ada pikiran orisinil dan memang tak pernah ada pikiran orisinil saat ini. Semua pemikiran dan bahkan tindakan, jika dirunut sejarahnya, pasti akan menemukan kesamaan dan atau referensi dengan pikiran dan tindakan pada masa lalu. Entah pikiran dan tindakan siapa.

Kebuntuan yang disebabkan oleh rutinitas dan cendrung membosankan. Dunia kita seolah putaran jarum jam. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, hanya berkutat di seputar pekerjaan rutinitas itu. Tak beranjak keluar. Seperti pepatah “katak dalam tempurung”. Terpenjara pikiran sendiri. Kebuntuan juga kadang datang dari “kurang piknik” pikiran (membaca buku, diskusi, dialog,dst) dan jasmani.
Tak hanya kurang piknik, jarang melihat dan bertemu dengan orang yang berbeda dengan kita (pikiran, cara pandang, pilihan, etnisitas, agama, budaya, ekonomi, dst), bisa menyebabkan kebuntuan. Rutinitas, kurang piknik (pikiran dan jasmani) melahirkan kebosanan. Kebosanan menumpulkan daya imaginasi dan kreatifitas. Tak imagiantif, malahirkan kejumudan. Kejumudan melahirkan pembenaran pikiran sendiri. Diam ditempat, tak mau bergerak maju. Yang maju dianggap bid’ah. Parahnya kejumudan selalu diiringi perasaan benar sendiri, yang lain salah. Yang salah harus ikut yang merasa benar atau disingkirkan.
Kebuntuan imaginasi menyebabkan tak bisa melihat pelangi di cakrawala. Langit seolah tertutup mendung awan prasangka. Kita tak mau tahu, ada yang berbeda dengan kita. Melihat yang berbeda dipenuhi sakwasangka, tak benar, salah, sesat, bahaya, dan harus disingkirkan. Untuk menjaga ego, kepentingan dan paham benar sendiri. Dengan jubah menegakkan aqidah atau kontistusi. Kebuntuan yang menumpulkan kewelasasihan hati. Kewelasasihan yang hilang diganti “keras hati”, begitu kata Kitab Suci.

Seperti buntunya pikiran dan ketumpulan hati para diktator dan para vigilante – penganut kekerasan, yang memandang orang yang berbeda adalah “najis” yang harus dienyahkan. Jutaan korban menjadi tumbal kebuntuan pikiran dan ketumpulan hati mereka. Dan negeri kita pun masih disesaki orang-orang yang buntu dan tumpul hati. Dan para vigilante merebak mencari pengikut.

BACA JUGA:  Semua Bisa Sekolah, Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) Melalui Pendidikan Kesetaraan