Politik Identitas, Millenial Cerdas

DWI ARIFIN

(GENERASI LITERASI TERBIT – IPB UNIVERSITY)

Bicara politik, tak sedikit orang yang menghindar. Fakta hari ini menunjukkan bahwa politik oleh sebagian besar orang dipandang sebagai kotor, picik maupun licik. Fenomena ini disebabkan oleh karena perilaku politik dewasa ini yang tak sejalan lagi dengan hakikat politik yakni pintu untuk mencapai kebaikan bersama (Bonum Commune). Ada begitu banyak praktik tak sehat semisal KKN sarat bergelayutan di panggung politik. Kenyataan ini sungguh memuakkan.

Hari ini generasi milenial dituntut juga untuk cerdas politik. Namun dalam pandangan sebagian besar dari mereka, politik tak ubahnya sarang para penyamun, koruptor dan sebagainya. Pandangan ini akhirnya memunculkan kecurigaan bahkan ketidaksukaan pada politik.

BACA JUGA:  Upgrade Bioremediasi Kontaminasi Minyak Bumi Menggunakan Rapeseed Oil Terozonisasi

Di satu sisi, generasi milenial tak dapat disalahkan. tetapi di sisilain, muncul pertanyaan sampai kapan mereka harus acuh tak acuh pada politik? Bukankah dengan kekuatan idealisme orang muda, mereka mampu mengembalikan martabat politik? Layakkah generasi milenial berpolitik praktis di tengah sentimen golongan tua yang memandang mereka sebagai anak kemarin yang minim pengalaman. Politik itu kompleks. Terlalu naif bila hanya dipersempit pada moment pemilu saja.

Akhir-akhir ini politik ditolak masuk kampus dengan alasan UU yang melarang politik masuk diarea pendidikan, Selain itupula mahasiswa tidak boleh berpolitik praktis ini ditegaskan oleh Menristekdikti.

Semestinya pemudalah yang harus berperan aktif dalam membuat perubahan yang lebih baik untuk bangsa, bahkan pemuda tidak boleh alergi untuk ikut terjun di rana politik, mengingat, semua aspek kehidupan ber bangsa tidak terlepas dari peran politik strategis.

BACA JUGA:  Tingginya Angka Kematian Covid-19 di Jatim dan Bagaimana Perubahan Penduduknya?

Negara ini berdemokrasi siapapun bebas melakukan aksi politiknya yang perlu dipahami setiap aksi ada konsekuensinya. Pemuda dan politik praktis merupakan nuansa politik kekinian, sebagai atmosfer negara berdemokrasi. Pentingnya, pilihan politik kita jangan sampai memecah persatuan sebagai pemuda yang mempunyai fungsi, untuk mengisi kemerdekaan RI.

Banyak generasi millenial yang paham dengan pemilu. Mereka malah sangat concern dengan demokrasi kita. Sistem demokrasi era sekarang sepertinya mengalami kecacatan. Demokrasi hanya sebagai alat untuk menggembungkan isi perut dan dompet atas nama rakyat, agama dll.

Pemerintah dan masyarakat itu saling bertalian, semua harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap kondisi perpolitikan Indonesia. Kita tidak sedang dalam lajur kiri atau kanan, kita sedang membangun jembatan kokoh untuk menghubungkan pemerintah dan masyarakat.

BACA JUGA:  IUP Akankah Memberikan Kontribusi PAD untuk Purwakarta?