PPKM Diperpanjang, Inikah Solusi Cemerlang?

Oleh: Rifdah Reza Ramadhan
(Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam STAI DR. KH. EZ. Muttaqien Purwakarta)

Pemerintah dengan resmi memperpanjang kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat terhitung sejak 26 Juli hingga 2 Agustus 2021.

Keputusan kebijakan tersebut diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada Minggu (25/7/2021) malam. “Dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, aspek ekonomi, dan dinamika sosial, saya memutuskan untuk melanjutkan penerapan PPKM Level 4 dari 26 Juli sampai dengan 2 Agustus 2021,” kata Jokowi melalui tayangan YouTube Sekretariat Presiden.

Bila dilihat tapak tilasnya, kebijakan PPKM guna menangani pandemi Covid-19 di Indonesia ini sejak awal tahun 2021 mendapatkan banyak kritikan. Salah satunya datang dari seorang Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia Dicky Budiman.

Beliau menilai bahwa tak banyak yang signifikan yang dilakukan pemerintah dalam PPKM darurat. “Itu (PPKM Darurat) adalah respons darurat, tetapi esensinya enggak ada yang berbeda signifikan, potensi perburukan masih akan terus terjadi,” kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Kamis (1/7/2021).

Ini bisa menunjukan bahwa perpanjanjangan kebijakan tidak mampu menyelesaikan permasalahan secara optimal. Apalagi bila dilihat faktanya bahwa banyak sekali masyarakat yang kebingungan menghadapi kebijakan ini, dimulai dari pekerjaan yang terhambat, kebutuhan yang kian meningkat dan lain sebagainya.

Hal ini bisa dilihat dari ucapan Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay yang berharap pemerintah dapat memberikan bantuan sosial tepat sasaran. Dia pun mengatakan, tanpa jaring pengaman sosial dan bantuan sosial, kebijakan memperpanjang PPKM dinilai tidak akan efektif.

“Subsidi dan bantuan sosial itu kan tidak di seluruh Indonesia. Hanya di daerah yang diberlakukan PPKM darurat atau PPKM level 4. Perhitungan terhadap hal ini juga harus dilakukan secara cermat. Harus dipastikan tidak ada masyarakat yang dilupakan,” jelas Saleh.

BACA JUGA:  Jejak Khilafah yang Abadi

Beliau juga menyarakankan supaya dalam pengumuman perpanjangan atau pelonggaran kebijakan PPKM, pemerintah dapat memberikan alasan secara terbuka tanpa ada yang ditutup-tutupi.

“Pemerintah harus menunjukkan bahwa semua potensi yang dimiliki sudah dikerahkan secara maksimal. Harus dijelaskan juga bahwa masukan dari masyarakat selalu didengar. Karena itu, perbaikan selalu dilakukan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh semua pihak,” kata Saleh.

Apalagi saat ini, sebagian besar karyawan mal sudah dirumahkan. Pengusaha mal menyebut 84 ribu karyawan mal terancam PHK jika PPKM Darurat diperpanjang. Serikat buruh pun khawatir terjadi ledakan PHK jika PPKM Darurat diperpanjang.

Ini menggambarkan bahwa ada banyak kekurangan dari kebijakan ini. Masyarakat pun belum cukup mendapatkan penjelasan atau pun edukasi dari Pemerintah akan langkah apa yang harus dijalani guna bertahan hidup pada kondisi PPKM saat ini. PPKM mungkin tidak menjadi persoalan atau permasalahan besar bagi kalangan atas yang serba berkecukupan, tapi PPKM jelas berdampak besar bagi masyarakat secara umum apalagi masyarakat menengah kebawah.

Belum lagi penularan Covid-19 yang sangat tinggi yang membuat WHO mendesak Indonesia agar memperketat dan memperluas PPKM. Ini semakin memperlihatkan bahwa PPKM yang selama ini sudah dilaksanakan di Indonesia belum berjalan secara ketat dan solutip. Pasalnya bila kebijakan terus menerus begini maka tidak akan sampai pada penyelesaian. Yang ada hanyalah pembebanan yang semakin dalam bagi masyarakat.

Solusi yang disampaikan saat ini seakan hanya formalitas yang terkesan membenahi tapi dibelakang itu banyak sekali masyarakat yang kebingungan dan merengutkan dahi. Lantas mau kemana kita cari solusi cemerlang bila PPKM diperpanjang hanya dengan pengulangan kebijakan yang jelas-jelas tidak menyelesaikan.

Kejadian ini haruslah membuka mata bahwa permasalahan baru akan terus hadir bila akarnya tidak dibenahi. Inilah cerminan dari pengaplikasian sistem Kapitalisme saat ini. Sistem kapitalisme banyak melahirkan permasalahan seperti adanya defisit anggaran yaitu pengeluaran anggaran lebih besar dari penerimaannya, lalu membuat mayarakat kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan dan ekonomi secara merata. Apalagi di waktu yang bersamaan pula kita dengan sering melihat rentetean koruptor yang dengan mudahnya melahap uang masyarakat dengan jumlah yang sangat banyak.

BACA JUGA:  Mewujudkan Negara tanpa Radikalisme

Semua ini diawali dari penerapan sistem yang salah, lalu meghasilkan kelalaian yang disepelekan, yaitu seperti rakus akan dunia, menghalalkan segala cara guna merealisasikannya dan tak punya rasa bersalah mengambil hak-hak orang banyak.

Bila menengok bagaimana Islam menyelesaikan permasalahan wabah maka kita akan menemukan jalan keluar yang menyelesaikan.

Salah satunya menengok kebijakan Khalifah yang tidak dicampuri oleh bantuan asing dan mengutamakan kepentingan umat. Vaksin pun tidak bergantung kepada negara lain dan peneliti pun dihargai dengan dana yang besar untuk memaksimalkan penelitiannya guna menemukan vaksi yang optimal bagi masyarakat pada saat itu.

Bisa dilihat pula dalam Tulisan Profesor Ahmad Rusydan Utomo, PhD, yang berjudul “Kebijakan Islam dalam Menangani Wabah Penyakit, 2020”. Di sana disampaikan bahwa Khalifah pernah menerapkan penggunaan vaksin kepada masyarakat saat wabah cacar air pada saat abad ke 19 yaitu yang melanda Khilafah Utsmani.

Maka kebijakan hari ini sangat perlu untuk memaksimalkan lockdown dengan dibarengi pemenuhan kebutuhan masyarakat, vaksinasi yang merata dengan edukasi kesehatan dan memaksimalkan 3T yakni pemeriksaan (testing), pelacakan (tracing) dan perawatan (treatment). Ditambah pengelolaan APBN yang sehausnya tidak dijalankan secara liberal. Hal ini jelas sulit bila dilakukan dengan menggunakan sistem Kapitalisme sekarang. Maka butuh peran dan kelola negara secara keseluruhan dan komprehensif dan semua ini hanya bisa ditemui dalam sistem Islam.

Maka Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya solusi yang pantas guna menyelesaikan segala problema yang hadir, mulai dari permasalahan kecil hingga besar yang seperti yang sedang kita rasakan. Karena sejatinya Islam adalah Rahmatan Lil Alamin yaitu sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Yang mana tidak akan membawa permasalahan layaknya sistem hari ini melainkan menyelesaikan permasalahan umat.(*)

BACA JUGA:  Bagaimanakah Tipe Soal yang Ideal untuk UTS Online?