Qurban itu Kemampuan ataukah Kemauan ?

Oleh:

1.Agus Anggoro Sigit,S.Si,M.Sc ( Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta )

2.Drs.H.Priyono,M.Si ( Dosen F.Geografi UMS , kolumnis Radar Solo Jawa Pos dan Jabar ,Pasundan ekspres )

3.Ema Kusumawati,S.Pd,M.Sc ( Guru Geografi SMA N 1  Jetis Yogyakarta )

Tersebar sebuah video  dalam media sosial whatsapp yang menceritakan tentang qurban seorang nenek tua  miskin harta tapi kaya hati. Dikisahkan oleh seorang ustaz yang lugu tentang  salah satu santrinya yang sudah lansia  bernama mbah Painem . Dia santri dalam kategori  di lingkungannya termasuk paling tidak mampu, tidak memiliki harta yang berharga seperti TV, HP,perhiasan,sepeda dan rumahpun terbuat dari bambu,  dan lantainya masih tanah liat. Kehidupan yang sederhana, kondisi ekonomi yang sulit tidak menjadi halangan untuk berqurban sebagai kewajiban seorang muslim kepada TuhanNya. Qurban adalah bukti kedekatan hamba terhadap Allah swt. Sang Ustaz beri closing statement yang menggelitik dan memotivasi bahwa urusan qurban bukan kemampuan  tetapi kemauan. Ada kemauan , ada usaha maka berqurbanlah. Mbah Painem punya alasan transendental ketika ditanya : kenapa Embah suka qurban ? dan dijawab : agar kelak jika dipanggil Allah swt dalam keadaan penak ( Mati yang Enak ). Alhasil, dia rutin melaksanakan qurban  setiap tahun dengan cara memelihara kambing sendiri, yang dipersiapkan untuk qurban. Jadi qurban sudah dipersiapkan jauh hari .

Kisah di atas memberi pelajaran pada kita sekaligus menjadi bahan renungan bahwa soal qurban ternyata tidak hanya berdimensi duniawi tapi juga ukhrowi sehingga semangatnya  memadukan semangat keduanya dunia akherat. Meskipun dalam pandangan islam bahwa hanya orang islam yang mampu yang dipanggil untuk melaksanakan ibadah ini tetapi konsep mampu ternyata bisa menjadi alasan yang berkepanjangan dan sulit diukur meskipun dengan cara perbandingan gampang dilogika. Jika seorang muslim bisa membeli sepeda motor seharga rp 10.000.000 berarti dia mampu, akan tetapi banyak kita temukan mereka punya lebih dari satu motor bahkan hp lebih dari satu Hp tetapi belum berqurban.

Meskipun hari raya Idul Adha 1442 H atau hari raya qurban sebagai hari bersejarah dalam islam yang ditunggu tunggu kehadirannya  masih satu bulan namun persiapan untuk berqurban dengan menyembelih hewan qurban baik berupa sapi, domba dan kambing sudah dilakukan sejak beberapa minggu yang lalu. Melalui media sosial nampaknya semakin mempermudah untuk mewujudkan cita cita religi karena komunikasi dengan media sosial tanpa mengenal batas geografi dan batas waktu, kapan dan dimanapun bisa berlangsung. Melalui medsos, di lingkungan masjid sampai yang lebih luas bahkan bisa antar negara sampai jelajah dunia. Bagi orang yang beriman dan sering bersyukur , berbekal dari QS Al Kausar yang cukup pendek tapi bermakna komprehensif. Kata kunci berkurban sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepda Allah swt  menjadi perangsang orang islam untuk melaksanakan qurban.

Kata mendekatkan diri kepada Allah swt mengandung unsur kepasrahan pada sang pencipta bahwa manusia mohon selalu dalam pengawasan dan lindungannya, yang pada ujungnya  bisa melaksanakan segala perintah dan menjahui larangannya. Implikasi kedekatan diri tersebut akhirnya mengalir kepada kepatuhan seorang hamba kepada TuhanNya. Qurban sebagai perintah Allah dimaknai juga sebagai bukti kedekatan manusia terhadap Allah swt, bukan darah sembelihan hewan yang dinilai akan tetapi ketakwaannya . Jadi betul apa yang dikatakan oleh mbah Painem bahwa qurban bukan urusan yang terkait dengan kemampuan , akan tetapi berkaitan dengan kemauan, sebuah rasa kedekatan dengan sang Khalik.

Qurban adalah sebagai pengejawantahan bahwa di dalam ibadah tersebut terkandung makna betapa islam selalu mengajarkan kepeduliaan terhadap sesama, sehingga setiap perintah ibadah dalam agama maka dimensi sosial akherat selalu mendapat perhatian . Itulah makna keseimbangan dunia akherat. Spirit beribadah yang selalu memperhatikan keseimbangan ini harus selalu terjaga sehingga jangan  sampai terjadi masyarakat di sekitar  orang beriman yang memiliki komitmen tinggi terhadap agamanya tetapi tidak tersentuh indahnya islam yang suka berbagi sesama dan suku peduli terhadap manusia di sekitarnya. Fenomena ini sebagai tanda bahwa keseluruhan ibadah ritual memiliki dimensi sosial baik langsung maupun  tidak langsung. Bahkan lebih transparan dan berpihak pada kaum miskin. Ini terbukti dengan diturunkannya QS  Al ma’un(QS no 107) dengan 7 ayat pula , yang isinya syarat dengan pehatian pada kaum miskin yang memerlukan uluran tangan. Ibadah ritual yang berefek pada ibadah sosial akan memiliki dampak terhadap pengurangan kemiskinan yang masih membelenggu di tanah air.

Beribadah qurban hampir sama dengan fenomena antara membangun masjid dengan memakmurkan masjid nampaknya, artinya banyak umat islam sangat bergairah mendirikan masjid dengan megah dimana mana karena tingginya apresiasi Allah terhadap mereka namun belum diikuti oleh memakmurkan masjid dan memakmurkan jamaahnya . Begitu juga  dengan qurban yang berimplikasi sosial. Banyak umat islam yang mampu secara materi akan tetapi tidak mampu untuk berbagi maka Rosulullohpun memberikan teguran .

Rosululloh bersabda : barang siapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban, namun dia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat sholat kami ( HR Ibnu majah, Ahmad dan Al Hakim ).  Ada dua pendapat mengenai intrepretasi hadist tersebut yaitu yang pertama, orang yang mampu tapi tidak mau kurban maka orang tersebut berdosa dan pendapat kedua, orang yang berharta tapi tidak berkurban maka dilarang mendatangi tempat shalat Idul Adha Rosulullah.

Mari saudaraku, mumpung kesehtan fisik dan kesehatan harta kita masih menempel di badan kita dan sebagian dari harta kita adalah milik orang lain. Berkaca dari QS Al Ma’un dan Al kausar, yang nomor ayatnya berurutan yaitu 107 dan 108 , kita bumikan  Al Qur’an agar islam menjadi rahmatan lil ‘alamin. Berqurban adalah sarana untuk mendekatkan manusia dengan Allah swt termasuk ciptaannya. (*)