Ramadhan dan Kapitalisasi Kesalehan di Media Sosial

Oleh : Firly Annisa

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)

Ramadhan adalah bulan ibadah. Demikian ahli agama sering kali menyampaikan melalui ceramah kepada umat muslim di manapun. Bahkan momentum Ramadhan itu menjadikan setan telah dipenjara, agar umat dapat lebih khusyuk beribadah.

Pada sisi lain, amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia pada saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya. Demikian tausiyah mengenai bulan Ramadan sebagai bulan ibadah sangat merasuk di umat muslim. Hal tersebut mendorong aktivitas ibadah bagi masyarakat muslim di dunia dan di Indonesia khususnya.

Dapat kita jumpai pada bulan suci Ramadhan manusia berlomba-lomba meningkatkan aktivitas ritual keagamaan dibanding bulan-bulan lainnya. Masjid menjadi sangat hidup dari sejak subuh hingga malam hari. Bada’ salat subuh diisi dengan kuliah subuh dari para ustad maupun ustadzah.

Siang hari banyak muslim membaca Alquran di masjid. Menjelang buka puasa, masjid semakin ramai oleh jamaah yang hendak berbuka puasa sambil (lagi-lagi) mendengarkan kultum dari para ahli agama Islam. Hal tersebut lantas dilanjutkan ibadah shalat Isya dan tarawih berjamaah.

Serangkaian ibadah tersebut masih dilanjutkan dengan bada’ tarawih dilakukan tadarrus Alquran yang di banyak masjid dilakukan hingga jam 10 malam dengan menggunakan pengeras suara (toa). Lantas menjelang 10 hari terakhir, banyak umat muslim melakukan i’tikaf di masjid-masjid jami’ (besar).

Ibadah di Media Sosial

Kemeriahan ibadah bulan suci Ramadhan juga merambah dalam praktik media sosial. Media sosial sebagai media yang sangat populer di kalangan generasi milenial (Y, lahir 1981-2005) dan generasi alfa (Z, lahir 2006-sekarang), dijadikan sebagai medium penyampai aktifitas personal kepada publik.

Sejak tiga tahun belakangan, keintiman visual pemilik akun media sosial dibangun sedemikian rupa kepada para followers (pengikutnya). Melalui Instagram dan vlog (video blog) yang diunggah di channel Youtube misalnya.

Pemilik akun menjadikan aplikasi tersebut sebagai medium untuk berbagi aktivitas harian termasuk ritual ibadah kepada followers. Aktivitas berbagi pesan-pesan agama atau “pamer” ibadah ini terutama dilakukan oleh mereka yang disebut sebagai selebgram (selebritas Instagram) dan influencer (mereka yang memiliki pengaruh tinggi terhadap para followers).

Kesalehan yang dikreasikan melalui media sosial ini merupakan bentuk baru dari kesalehan yang selama ini publik pahami. Media sosial telah membawa cara baru membentuk kesalehan diri terkait dengan keyakinan agama melalui ruang-ruang yang sebelumnya sangat dijaga dalam ruang publik. Berbagai pilihan tayangan ini mengundang banyak komentar. Ada yang setuju tidak jarang pula yang mengkritik.

Kapitalisasi Kesalehan

Realitasnya sejalan berkembangnya teknologi dan media sosial, saat ini ibadah tidak lagi hanya dilakukan di musala, masjid, ataupun majelis-majelis taklim. Ibadah ternyata juga dilakukan di media sosial, maka dapat dilihat telah terjadi pergeseran aktivitas peribadatan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Dalam contoh media sosial di atas, telah terjadi apa yang disebut sebagai kapitalisasi ibadah sebagai upaya membentuk kesalehan diri.

Mengapa? Karena pembuatan vlog itu ditujukan sebagai cara untuk meraih pundi-pundi uang dengan harapan konten Vlog mendapatkan subscribers dalam jumlah banyak. Semakin banyak subscriber maka secara otomatis pendapatan secara ekonomi akan meningkat.

Era digital, khususnya melalui media sosial telah mengubah paradigma ibadah maupun kesalehan. Ibadah tidak lagi berhenti di ruang-ruang konvensional: masjid, musala, dan majelis-majelis taklim, namun juga termediasikan oleh media sosial. Kesalehan yang awalnya sangat privat, saat ini dapat dengan mudah dilihat oleh publik melalui vlog yang dibuat oleh para artis atau figur publik. (*)