Rapuhnya Hubungan Keluarga dalam Sistem Sekuler Liberalisme

Oleh : Iis Nur
Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah

Astagfirullah….
Sungguh Indonesia sudah di ambang darurat moral, tidak ada lagi rasa hormat pada orang tua, tidak ada rasa kasih sayang pada orang tua. Hanya karena materi yang tidak seberapa jumlahnya, seorang anak tega ingin memenjarakan ibunya bahkan ada ibu yang sudah jadi tahanan.

Di Demak, hanya karena masalah ibu yang menjual baju anaknya hingga terjadi keributan antara ibu dan anak yang ujungnya adanya pelaporan dengan tuduhan dugaan penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga. (Detiknews.com tanggal 9/01/2021).
Kasus lainnya, di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seorang anak berinisial M (40) ingin memenjarakan ibunya K (60) hanya karena masalah motor. Namun pelaporan tersebut ditolak oleh Kasat Reskim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono yang telah viral di facebook (tribunnews.com tanggal 29/06/2020).

Kasus diatas hanya beberapa yang terekspos media dari beberapa kasus. Hilangnya rasa takut durhaka dan rasa takut berdosa pada Allah menyebabkan banyak anak tega menyakiti, berbuat kasar bahkan ingin memenjarakan ibu kandungnya. Tidak ada lagi rasa hormat pada ibu yang telah bertarung nyawa untuk kehidupan anaknya, tidak ada lagi rasa segan dan patuh pada ibu yang surga ada ditelapak kakinya, ridha Allah ada dalam ridhanya. Kepatuhan, kerendahan diri dan tidak membangkang kepada ibu adalah salah satu jalan menuju surga Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Thabrani, An Nasai dan Ibnu Majah, suaru hari Mu’awiyah bin Jahimah mendatangi Rasululllah. ” Wahai Rasulullah, aku ingin berperang. Maka aku memohon saran darimu. Nabi bertanya, apakah kamu memiliki seorang ibu? Jawab Mu’awiyah, Ya. Lantas Nabi pun bersabda, kalau begitu tetaplah bersamanya. Karena surga berada dibawah ke dua kakinya.”

Buruknya akhlak anak saat ini disebabkan bukan karena kurangnya perhatian ibu, terutama ibu yang menjadi tulang punggung. Namun dalam sistem kapitalis liberalisme mengharuskan ibu dalam keadaan yang serba sulit di tengah wabah pandemi bekerja keluar meninggalkan tugas utamanya sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Kerapuhan hubungan anggota keluarga semua bermula karena negara telah menerapkan aturan sekuler liberalis yang datang dari paham kapitalisme, dengan memisahkan pendidikan agama dari kehidupan, dan menjunjung tinggi kebebasan menjadi alasan mereka untuk berbuat sesuka hati, hingga menghasilkan generasi yang tidak beradab dan generasi yang durhaka.

Sebab keharmonisan ibu dan anak hanya akan tercipta dalam negara yang menerapkan syariat Islam dalam aturan kehidupan baik itu kehidupan bernegara ataupun kehidupan sehari-hari. Dalam Islam membentuk sebuah keluarga tidak lain bertujuan untuk beribadah kepada Allah Swt, melestarikan keturunan dan mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah warahmah. Ridha Allah adalah tujuan utama hingga setiap anggota keluarga harus taat dan patuh pada seluruh aturan Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Islam mendidik generasi untuk menghormati orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan menghargai sesama bahkan mewajibkan anak untuk memuliakan kedua orang tua. Berbuat baik dan berbakti pada kedua orang tua merupakan amalan paling utama bukan hanya untuk mencapai ridha Allah saja, tetapi juga untuk memperoleh keberkahan hidup dan kemudahan rezeki.

Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah saw. bersabda : ” Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya maka hendaklah ia berbakti kepada orang tuanya dan menyambung silahturahmi.” (HR Ahmad)

Generasi yang unggul dan beradab bukan hanya dihasilkan oleh pendidikan dari kedua orang tua namun harus ada dukungan negara dalam menciptakan keluarga yang harmonis, dapat menghalau segala gangguan yang muncul dari luar, menciptakan lingkungan yang baik, juga menjamin stabilitas politik dan keamanan serta pembangunan fasilitas pendidikan.

Hanya dalam naungan Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah dapat menghasilkan generasi unggul. Dalam khilafah sejak dini generasi sudah ditanamkan nilai-nilai dasar keislaman, menghafalkan al-Qur’an, memfasilitasi keterampilan fisik dan memfasilitasi untuk menekuni berbagai jenis ilmu.

Wallahu a’lam bi ash shawab