Ritel Gulung Tikar, Rakyat kembali Sekarat

Oleh: Wike Wijayanti

Mahasiswa IKIP SILIWANGI

Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan mengenai maraknya ritel-ritel modern yang gulng tikar seperti yang terjadi pada  PT Hero Supermarket Tbk. (HERO Group) yang memutuskan untuk menutup seluruh gerai Giant pada akhir Juli 2021 karena terjadi pengalihan kepemilikan ke brand ritel lain yang diperkirakan lebih berpotensi mengalami pertumbuhan lebih tinggi. Adapun penyebab lainnya juga seperti mobilitas berkurang, karena adanya PSBB dan PPKM dan rendahnya daya beli. Hanya saja penyebab utamanya adalah pandemi saat ini yang tak kunjung usai sehingga wajar saja hal ini terjadi, karena selama pandemi tentu banyak sekali terjadi perubahan seperti gaya hidup yang lebih bersih, memakai masker dan begitupun dengan perilaku belanja warga saat ini yang mengalihkan belanja yang pembeliannya tidak sebanyak biasanya atau yang biasa berbelanja akhirnya menunda belanja.

Ditambah lagi ketika ritel-ritel mengalami gulung tikar masalah yang kembali timbul adalah akan adanya arus PHK secara massal, yang berimbas pada jumlah pengangguran yang makin tinggi, dan berdampak pada meningkatnya angka kemiskinan, gizi buruk, kriminalitas, perceraian, dan sebagainya. Ketakstabilan ekonomi dalam negeri juga empengaruihi yang ditandai dengan defisit neraca perdagangan, kebijakan impor yang mematikan produsen lokal, serta inflasi yang menyebabkan melemahnya mata uang rupiah  yang menyebabkan harga barang dan jasa cenderung meningkat dan tentu akan menurunkan daya beli masyarakat. Selain itu, pendapatan masyarakat yang makin berkurang pun akan menurunkan daya beli. Apalagi  ditambah angka pengangguran yang tinggi, tentu menyebabkan daya beli masyarakat makin turun drastis lantaran masyarakat tak memiliki uang untuk membeli barang yang harganya tinggi. Inilah yang menyebabkan toko ritel besar tak memiliki pembeli.

Semua ini efek dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme di hampir seluruh negara. Sistem ini juga yang paling bertanggung jawab atas berlarutnya pandemi yang tidak berkesudahan, semua serba naik dari tarif listrik, BBM, sampai harga pangan pokok akan tetapi APBN yang harusnya untuk memenuhi keperluan raykat hanya dibebankan pada rakyat pemasukannya melalui pajak akan tetapi penggunaannya bukan menjadi untuk urusan rakyat ditambah lagi kebijakan yang sama sekali tidak memihak rakyat ibarat menabur garam diatas luka yang masih menganga. Beda hal ketika sistem kehidupan diatur oleh Islam penanggulangan wabah tidak akan berlangsung lama karena didorong oleh spirit menyelamatkan umat manusia, bukan sekadar menyelamatkan ekonomi dunia. Jika seluruh dunia mau tunduk pada aturan Islam, pandemi dan juga krisis global akan cepat berakhir atas izin Allah.

Wallahu’alam Bishawab