Sempurnanya Jaminan Sosial dalam Islam

Oleh : Purnama Sari
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

Sudah satu tahun ini pandemi berlangsung. Begitu banyak permasalahan kesehatan yang tercipta, begitupun dengan masalah perekonomian di seluruh penjuru negeri, terutama di tanah air ini.

Kehidupan sosial masyarakat akan semakin terpuruk apabila situasi ini terus berlangsung. Telah terjadi pengurangan penghasilan bahkan banyak di antara masyarakat yang kehilangan mata pencahariannya.

Banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan hidup sambil menunggu mendapatkan mata pencaharian lagi.

Kewajiban Nafkah

Banyak keutamaan kewajiban dalam pandangan Islam, salah satunya adalah kewajiban mencari nafkah.

Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa harta yang terbaik adalah yang didapat dari jerih payah sendiri, bukan dari pemberian orang lain (HR. al-Bukhari).

Dalam Islam kewajiban mencari nafkah ini ada ketentuan dan rinciannya masing-masing.

Pertama bahwa kaum perempuan tidak dibebani kewajiban mencari nafkah.

Kedua bahwa kaum laki-lakilah yang diperintahkan untuk mencari nafkah dan menjamin kebutuhan pokok bagi tanggungan mereka secara makruf. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 233 dan surat ath-Thalaq ayat 6-7.

Kewajiban Sosial di Tengah Masyarakat

Bukan hanya kewajiban nafkah individu saja, Islam juga mengharuskan tertunaikannya kewajiban sosial. Islam mendorong kita untuk berjiwa pemurah dan gemar memberikan bantuan, tolong-menolong kepada sesama muslim yang sedang kesusahan. Juga atas mereka yang terhalang untuk mendapatkan harta dan orang yang meminta-minta karena kebutuhan.

Maka dari itu setiap muslim harus selalu ingat dan tidak ragu lagi untuk mengeluarkan hartanya bagi saudara yang sedang membutuhkan bahwa di dalam harta mereka terdapat hak orang lain juga. Itu dari aspek pribadi.

Namun demikian, dalam Islam haram hukumnya menjadi pengemis. Meminta-minta hanya bisa dibenarkan karena tiga alasan, yaitu:

1. Ketika harus menanggung utang orang lain.

2. Kehabisan harta sehingga butuh sandaran hidup.

3. Tertimpa kesengsaraan.

Kewajiban Negara

Peran negara sangatlah penting, karena sebesar apapun kekuatan yang dimiliki individu masyarakat, krisis negeri mustahil sanggup ditangani.

Karena itulah Islam mewajibkan negara bertanggung jawab penuh menjamin kehidupan sosial rakyatnya. Bukan sekadar menyediakan stok pangan atau obat-obatan. Terpenuhinya kebutuhan pokok seluruh rakyat juga merupakan kewajiban negara. Mulai dari memastikan terjangkaunya harga-harga kebutuhan pokok, bisa juga dengan memberi bantuan secara langsung terutama bagi yang tidak mampu.

Kita bisa melihat dalam bentangan sejarah di masa nabi saw. kebutuhan hidup rakyat terjamin dengan sempurna.
Nabi Saw. bersabda:

“Siapa (yang mati) dan meninggalkan utang atau tanggungan, hendaklah ia mendatangi aku karena aku adalah penanggung jawabnya.” (HR. al-Bukhari)

Begitupun di masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin jaminan sosial bagi masyarakat tertunaikan dengan baiknya.

Misalnya, pada masa Khalifah Umar bin al-Khathab ra., pernah terjadi masa paceklik yang berkepanjangan pada tahun 18 Hijriyah, usai pelaksanaan ibadah haji. Saat itu tidak turun hujan hampir sepanjang tahun. Tanah pun menjadi berwarna kelabu akibat debu. Para ahli sejarah menyebut masa itu sebagai Tahun Kelabu.

Kelaparan terjadi di mana-mana akibat gagal panen. Ribuan orang berbondong-bondong datang ke Ibukota khilafah, Madinah. Mereka meminta bantuan negara. Khalifah Umar ra. bergerak cepat dengan menyediakan dapur massal. Bantuan pasokan pangan dimintakan oleh beliau kepada para gubernur di luar Madinah. Negara terus melayani dan mencukupi kebutuhan rakyatnya. Maka Allah pun menurunkan pertolongannya dengan terhentinya masa kekeringan itu. Khilafah juga diperbolehkan untuk memungut pajak hanya jika kas negara (Baitul mal) dalam kondisi kosong. Dan diperuntukkan bagi terpenuhinya kebutuhan rakyat. Namun, pungutan pajak ini hanya saat mendesak/darurat saja. Juga tidak semua warga dipungut pajak. Hanya kaum muslim yang kaya yang dikenakan pajak.
Hebatnya lagi, warga non-muslim sama sekali tidak dipungut pajak, sekalipun ia kaya.

Begitu luar biasa indahnya cara sistem Islam menjamin kebutuhan rakyatnya.

Tidak dilakukan sebagai upaya pencitraan demi meraih simpati masyarakat, atau dilakukan alakadarnya dalam memberi bantuan. Terlebih pada saat yang sama dana untuk kebutuhan rakyat justru malah dikorupsi seperti yang lazim terjadi di alam kapitalis demokrasi saat ini.
Na’uzubillah.

Di saat wabah melanda, seorang pemimpin (khalifah) akan bekerja keras menjamin kebutuhan rakyatnya. Contohnya adalah Khalifah Umar ra., jangankan melakukan korupsi, ia enggan untuk makan makanan yang lebih baik dibanding dengan apa yang dikonsumsi rakyatnya ketika masa sulit berlangsung. Di saat masa paceklik melanda, beliau mengharamkan atas dirinya mengonsumsi minyak samin sebelum semua rakyatnya bisa hidup dengan layak.

Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffahlah jaminan sosial yang sempurna akan kita jumpai.

Telah terbukti selama ratusan tahun sejarah panjang kekhilafahan Islam melakukan hal tersebut.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.