Sistem Sekuler-Liberalisme Mencekik, Ketahanan Keluarga Tercabik

Oleh : Ine Wulansari
Pendidik Generasi

Tak ada satu orangtua pun yang membayangkan, dirinya akan digugat anak kandungnya sendiri. Anak yang dibesarkannya, diberi pendidikan, dan berbagai kebutuhan hidup, justru melakukan hal yang di luar norma dan akal sehatnya.

Seperti yang dialami seorang ibu yang dilaporkan anak kandungnya di Kabupaten Demak. Ibu yang berinisial S ini, mendekam di sel tahanan Polsek Kota Demak. Penyebabnya, karena sang ibu jengkel pada anaknya, kemudian ia membuang baju-baju anaknya. Terjadilah perkelahian dan saling dorong hingga sang anak terjatuh, dan hal ini pun dilerai oleh warga. Kemudian anaknya melaporkan ibunya atas dugaan penganiyaan dan kekerasan dalam rumah tangga. (detiknews.com, 9 Januari 2021)

Hal serupa dialami seorang ibu di Nusa Tenggara Barat. Ibunya dilaporkan oleh anak kandungnya sendiri karena masalah motor. Namun laporannya ditolak langsung oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono. (Tribunnews.com, 29 Juni 2020)

Dua kasus di atas hanya sebagian dari tindakan pelaporan anak terhadap orangtuanya. Fakta ini menunjukkan, fenomena anak durhaka tak lahir dengan sendirinya. Alpanya orangtua dalam mendidik serta tak hadirnya mereka sebagai teladan bagi anak-anaknya, secara tak langsung telah menjadi jembatan lahirnya generasi yang tak hormat pada orangtuanya. Hal ini tentu saja dipicu oleh gempuran sistem sekuler, yang menjadikan interaksi dalam keluarga hanya sebatas kebutuhan materi. Sehingga menjadikan landasan hubungan antara ibu dan anak semua diukur dengan untung rugi semata.

Derasnya arus pemikiran liberalisme yang menyerang keluarga-keluarga di Indonesia, menyebabkan pertimbangan dalam keluarga bukan merujuk pada halal dan haram, melainkan materi di atas segalanya. Apabila salah satu anggota keluarga tak memberi manfaat, akan disingkirkan meskipun itu orangtuanya sendiri.

Tekanan akibat gaya hidup, kesenjangan ekonomi, dan lemahnya nilai pemahaman agama yang menjadikan seseorang kehilangan fitrahnya sebagai manusia. Begitulah serangan liberalisme yang demikian deras, menghancurkan ketahanan keluarga yang telah dibangun.

Masalah utama dalam keluarga sebenarnya adanya liberalisme keluarga. Pemahaman liberalisme telah berhasil mengikis pemahaman keluarga tentang hak dan kewajiban antara anggota keluarga. Penyebabnya yakni, meninggalkan nilai-nilai Islam dalam keluarga. Kemudian, liberalisme telah berhasil mencabut fitrah seorang ibu demi memenuhi kebutuhan keluarga. Akibatnya para ibu meninggalkan rumah dan mengabaikan peran utamanya sebagai pendidik dan pencetak generasi cemerlang.

Inilah yang menjadi penyebab lahirnya generasi durhaka, diasuh dan dibina dalam sistem sekuler-liberalisme. Rapuhnya pertahanan keluarga akibat liberalisme, menghasilkan generasi yang memiliki pribadi tak beradab dan bergaya hidup bebas. Bebas berpendapat, bebas beragama, bebas berbuat sesuka hati, dan kebebasan ini dilindungi oleh negara.

Bukan hanya keluarga yang tak menjalankan perannya dengan baik, negara pun turut andil melahirkan fenomena anak durhaka ini. Misalnya, negara begitu lemah dan membiarkan tontonan porno, kekerasan beredar bebas dan mudah diakses. Peredaran miras dan narkoba tak kunjung diberantas. Pendidikan yang disajikan pun berbasis sekuler yang cacat, dan menghasilkan orang yang cakap ilmu namun bobrok perilakunya. Sebab pendidikan sekuler memisahkan urusan agama dengan kehidupan.

Mewujudkan keluarga yang mampu melakukan fungsinya secara memadai, hanya akan terlaksana dalam sistem Islam. Islam sebagai ideologi yang memiliki seperangkat aturan sempurna, akan mengatur manusia, alam semesta, dan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Begitu pun dengan keluarga, peran dan pendidikannya. Aturan Islam akan tegak ketika tiga pilar pembentuknya ada, yaitu : ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan penerapan syariat oleh negara.

Pertama, ketakwaan individu yang memahami Islam menyeluruh dan menjadikan syariat sebagai penyelesaian segala masalah. Setiap anggota keluarga akan memahami hak dan kewajibannya. Ibu sebagai pendidik dan pencetak generasi, yang akan menjalankan perannya secara optimal, fokus mendidik anak-anaknya dengan pengajaran Islam dan menjadi teladan bagi mereka. Ayah sebagai kepala keluarga akan menjalankan perannya dalam mencari nafkah dan mengayomi keluarga. Maka dapat dipastikan generasi yang dibina dalam payung Islam, menghasilkan generasi yang cemerlang, menghormati, dan berbakti kepada orangtuanya. Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw. bersabda:

“Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka hendaknya ia berbakti kepada orangtuanya dan menyambung silaturahmi.” (HR. Ahmad)

Keluarga pun akan terbebas dari tindak kekerasan, karena masing-masing memahami perannya. Sehingga seluruh anggota keluarga akan hidup harmonis.

Kedua, kontrol masyarakat. Beramar makruf nahi munkar jika ada saudaranya yang berbuat salah. Masyarakat akan berbondong-bondong mengingatkan. Sehingga jika ada masalah yang terjadi, tidak akan dibiarkan berlarut-larut dan akan segera diselesaikan dengan aturan Islam.

Ketiga, peran negara yang akan menjalankan syariat Islam kaffah demi terwujudnya ketahanan keluarga yang kokoh. Negara bertanggungjawab mencegah gangguan dari luar dan menciptakan lingkungan yang penuh dengan suasana ilmu, kerja keras, dakwah, dan jihad. Maka didikan orangtua akan berpengaruh besar karena ada dukungan dari masyarakat dan negara. Kemudian negara menjamin fasilitas pendidikan yang berbasis Islam. Anak-anak sejak dini akan ditanamkan nilai-nilai dasar keislaman, menghafal Al-Qur’an, dan memfasilitasi keterampilan fisik. Sehingga akan lahir intelektual yang menguasai berbagai ilmu dan berakhlak mulia.

Sungguh, hanya dengan penerapan Islam kaffah yang akan mewujudkan ketahanan keluarga kuat, masyarakat mulia, dan umat terbaik.

Wallahu a’lam bish shawab.