Solusi Tuntas Mengatasi Kriminalitas di Tengah Covid-19

Oleh : Renita (Aktivis Muslimah)

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Bandung, membekuk lima orang komplotan spesialis pencurian kendaraan bermotor. Dari para tersangka, polisi mengamankan 25 unit motor dan beberapa barang bukti lainnya. Kapolresta Bandung, Kombes Pol Hendra Kurniawan mengatakan, para tersangka ini mengaku telah melakukan pencurian motor sebanyak 85 Tempat Kejadian Perkara (TKP) di wilayah Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Cimahi.

“Mereka melakukan aksinya itu sejak Desember 2019 lalu sampai September 2020 kemarin. Sasaran mereka adalah motor yang diparkir di luar rumah atau di tempat sepi lainya,” kata Hendra saat gelar perkara di Mapolresta Bandung, Jalan Bhayangkara, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu 7 Oktober 2020 (galamedia.pikiran-rakyat.com, 07/10/2020).

Di tengah kondisi darurat virus corona atau Covid-19, aksi kejahatan masih kerap terjadi. Berbagai aksi kriminalitas ini kebanyakan dipicu oleh faktor ekonomi. Tidak dimungkiri bahwa pandemi Covid-19 memang memperburuk kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Selain itu, gelombang PHK besar-besaran yang terjadi juga menimbulkan pandemi kemiskinan dan kelaparan. Pun, kebijakan PSBB yang tak diikuti dengan pemenuhan kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat terdampak, semakin menambah besar ancaman kelaparan.

Di samping kelaparan, masyarakat juga terancam bahaya yang tak kalah ngerinya yaitu kriminalitas. Seperti diungkapkan oleh sejumlah kepolisian tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, menginformasikan adanya tindak laku curanmor yang meningkat sedangkan sebagian lainnya menurun. Sebut saja keterangan Kapolda Metro Jaya pada 19 Juni 2020, yang menyebutkan bahwa kasus pencurian kendaraan khususnya untuk sepeda motor naik enam persen diiringi dengan tindak laku kejahatan pencurian dengan kekerasan, dan pencurian dengan pemberatan (validnews.id, 28/07/2020).

Memang, kelaparan dan kriminalitas adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sekalipun tak semua kejahatan dilatarbelakangi tuntutan kebutuhan hidup, nyatanya kelaparan memang menjadi salah satu pendorong utama seseorang melakukan tindakan kriminal seperti pencurian, perampokan, penjambretan, pembegalan dan lainnya. Ditambah lagi, kebutuhan tinggi dan harga bahan pokok yang terus naik. Juga, adanya pembebasan ribuan narapidana yang dilakukan oleh pemerintah beberapa bulan lalu dengan dalih mengurangi risiko penyebaran virus di dalam sel tahanan. Tentu, semakin menambah tingkat kriminalitas yang terjadi di tengah pandemi ini.

Meningkatnya kejahatan di masa pandemi ini tak lepas dari sistem yang menjadi arah pandang pemimpin saat ini, yaitu sistem kapitalis-sekuler. Model kepemimpinan ini hanya berorientasi pada untung rugi. Wajar, jika keamanan dan keselamatan rakyat bukanlah prioritas utama.

Inilah fakta bagaimana sistem kapitalis-sekuler menyelesaikan kriminalitas di tengah pandemi. Sistem ini hanya menyelesaikan masalah dengan solusi tambal sulam, tidak menyentuh hingga ke akarnya. Maka, jelas sistem ini telah gagal menjamin keamanan dan keselamatan warga serta gagal menjamin kebutuhan hidup para pelaku kriminalitas. Karena, sistem ini adalah sistem rusak dan merusak yang hanya menimbulkan keresahan dan kesengsaraan rakyat.

Solusi Islam dalam Memberantas Kriminalitas

Islam datang dengan seperangkat aturan multidimensional yang mengatur manusia dengan manusia yang lain. Perangkat hukum Islam diturunkan Allah SWT dengan tendensi khusus yakni agar ia menjadi rahmat atas seluruh umat manusia.

Islam juga memiliki ciri khas dalam menyelesaikan segala problematika hidup manusia. Hukum islam merupakan hukum yang adil juga memancarkan rasa aman bagi rakyatnya, baik muslim maupun non muslim.

Dalam islam, tindakan pencurian merupakan bentuk kemaksiatan yang pelakunya harus mendapat sanksi tegas dan dikenai sanksi hudud. Hudud bermakna sanksi atas kemaksiatan yang telah ditetapkan (kadarnya) oleh syariat dan ketentuan tersebut menjadi hak Allah. Allah SWT berfirman:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al-Maidah [5] : 38).

Di antara syarat yang harus dipenuhi dalam kriteria pencurian hukuman potong tangan yaitu pencurian dilakukan dari tempat /penyimpanan yang terjaga, harta yang dicuri adalah harta yang terhormat, punya pemiliknya atau wakilnya. Kemudian, barang yang dicuri mencapai nishâb/batasan minimal dalam masalah pencurian yaitu tiga dirham atau seperempat dinar atau yang senilai dengan salah satu dari keduanya. Terakhir, terbuktinya pencurian oleh si pelaku. Baik dengan cara bukti dua orang saksi atau dengan cara pengakuan dari si pelaku.

Selain itu, dalam Islam sanksi tersebut berfungsi sebagai pencegah (zawajir) dan penebus (jawabir). Pencegah (zawajir) maksudnya dengan diterapkan sanksi, maka akan memberikan efek jera kepada pelaku. Pun, elemen masyarakat yang menyaksikannya akan menghindari untuk melakukan hal yang serupa. Adapun yang dimaksud penebus (jawabir), merupakan sebagai penebus sanksi akhirat. Sehingga, sanksi akhirat bagi seorang muslim akan gugur oleh sanksi yang dijatuhkan ketika di dunia. Tentunya, sanksi dilaksanakan oleh negara dengan adil dan tegas kepada siapa saja yang bermaksiat tidak memandang perbedaan status apapun.

Demikianlah sanksi yang diberikan oleh Islam kepada orang-orang yang melakukan tindak pencurian. Adanya sanksi tegas yang dijatuhkan terhadap pelaku pencurian, tentu akan meminimalisir tindak pencurian bahkan menghilangkannya hingga titik nol. Hal ini, tentu didukung dengan pembinaan individu agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Juga adanya kontrol masyarakat dalam rangka amar ma’ruf nahyi munkar. Selanjutnya, penerapan syariah secara kaffah oleh negara, sehingga umat akan menjalani kehidupan yang aman dan rakyat akan selamat dunia akhirat

Wallahu’alam Bii Showwab