Tantangan Dan Peluang Guru Geografi Indonesia Dalam Pembelajaran Mitigasi Bencana Di Sekolah: Indonesia Sumber Inspirasi Primer

Oleh :
1.Temy Yulianti, S.Pd(Guru Geografi Madrasah Aliyah Negeri 20 Jakarta Timur)
2.Drs.Priyono,MSi( Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Nusantara…betapa indah
Nusantara …betapa kaya
Nusantara … di hatulistiwa

Nusantara…. betapa kaya
Nusantara…. betapa subur
Nusantara…. di khatulistiwa

Indonesia, negara kita tercinta adalah sebuah negara yang karena keindahannya, dalam salah satu lagu oleh penyanyi lawas legendaris negeri Khatulistiwa Koes ploes dalam lagu berjudul Nusantara 2 di preambule artikel ini diibaratkan dengan tanah surga, sehingga tanaman apapun bisa ditanam di negeri ini karena tanah fluvialnya. Bahkan jika kita mencoba menggali kembali lagu-lagu saat kita kecil, seperti lagu Desaku Yang Kucinta, Kampuang Nan Jauah Di Mato, digambarkan betapa keindahan alam Indonesia begitu permai sehingga tak dapat terlupakan.

Salah satu contoh keindahan alam adalah di pulau Sumatera yang menyimpan sejuta pesona keindahan. Salah satunya adalah keindahan hasil tenaga endogen yang kita kenal dengan patahan semangko yang membentang mulai dari Aceh hingga ke Lampung. Pesona topografi karst batu gamping yang mewariskan sumber daya alam dan eco karst, terbentang dia bagian utara dan selatan Jawa dan sebagian di luar Jawa merupakan keindahan yang khas. Gumuk pasir di Pantai Parangtritis sebagai hasil interaksi Gunung Merapi di bagian utara dengan unsur geografi yang lain seperti hujan, angina, ombag membentuk bentul lahan gumuk pasir yang aduhai di sepanjang pantai.

Bahkan kalau kita melihat pulau Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia, delapan tahun terakhir, jumlah kedatangan wisatawan ke Bali terus mengalami peningkatan (Utama, 2016). Bagaimana tidak? Bali adalah sebuah pulau yang memiliki beragam keindahan alam yang dapat memanjakan mata para wisatawan. Menjadikan Bali menjadi pulau yang pendapatan karena kegiatan pariwisata nomor satu di Indonesia.

Belum lagi jika kita ke pulau Sumatera, maka begitu banyak lagi keindahan yang seolah tidak ada habisnya. Kita mungkin sangat kenal dengan danau toba. Dengan beragam keindahan yang dimiliki, pemerintah menetapkan Kawasan Danau Toba (KDT) sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) bidang pariwisata yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (Buaton & Purwadio, 2015).

Yang ditulis diatas hanyalah sebagian kecil keindahan Indonesia. Sesungguhnya jika kita menelusuri setiap jengkal tanah Indonesia dari Papua di sebelah timur sampai kota Sabang di sebelah barat, maka kita akan melihat sejuta keindahan. Dan, karena Indonesia memiliki tempat-tempat yang indah dan eksotis, negara kita digambarkan seperti batu zamrud yang berada di khatulistiwa.

Namun, tahukah kita dibalik keindahan semua tempat tadi, ada potensi bencana yang tersembunyi. Potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat mengancam bahkan merugikan kehidupan manusia, baik materiil maupun moril seperti yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia , tersebar di medsos dan ditutup dengan doa sbb:

Yang di udara terhempas jatuh

Yang di darat diguncang gempa

Yang di sungai diluapkan airnya

Yang di gunung disemburkan isinya

Yang di bukit dilongsorkan tanahnya

Rasanya kita diingatkan bahwa selama ini kita terlalu fokus dengan covid, terlalu takut kematian karna covid, kita cuma ikuti protokol kesehatan, semoga tidak mengabaikan protokol keimanan, ” Padahal kematian bisa datang dg berbagai cara, ketika Allah berkehendak..
Kita cuma fokus siapkan imun, perbanyak juga
siapkan IMAN untuk bekal di akhirat

Ya Allaah, ampunilah dosa-dosa kami
Jika memang sudah tiba masanya,Wafatkanlah kami dalam keadaan Husnul Khotimah
Aamiin yaa Robbal’alamiin
:

Mengapa Indonesia rawan bencana?
Sebagaimana telah diajarkan melalui pelajaran IPS saat di tingkat sekolah dasar ataupun tingkat menengah pertama, bahwa letak Indonesia secara geografis berada diantara dua benua dan dua samudra. Letak ini memiliki potensi ancaman bencana klimatologis.

Yang menjadikan Indonesia paling rawan bencana adalah letak geologis dan letak geomorfologis. Berdasarkan UU No. 24 Tahun 2007 disebutkan bahwa Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor (Linda, 2011)

Fakta yang kita lihat akan membuktikan besarnya potensi kerawanan gunung berapi di Indonesia. Keberadaan Indonesia berada pada jalur pertemuan lempeng tektonik dengan barisan gunung api aktif atau dikenal sebagai the ring of fire (cincin api). Indonesia memiliki 13% dari jumlah gunung api di dunia, yaitu: 129 gunung api berstatus aktif dan 500 gunung api berstatus tidak aktif, selain itu 60% dari jumlah gunung api tersebar memiliki potensi letusan yang cukup besar.

Indonesia memang indah, namun tersembunyi potensi bencana yang sangat mengerikan. Beberapa wilayah memiliki kerentanan bencana yang jika terjadi bencana akan menimbulkan kerugian yang sangat besar.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa peningkatan kerentanan bencana ini akan lebih diperparah lagi apabila masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana sama sekali tidak menyadari dan tanggap terhadap adanya potensi bencana di wilayahnya.
Sebagai bagian dari upaya yang komprehensif dan berkesinambungan untuk mengurangi potensi dampak kerugian akibat bencana ini, maka pendidikan kebencanaan harus dimasukan dalam kurikulum.

Bahkan kepala Kepala Pusdatin BNPB mengatakan bahwa Kemendikbud harus segera memasukkan pendidikan kebencanaan dalam kurikulum pendidikan SD dan SMP. Beliau menghimbau agar menjadikan mata pelajaran Geografi menjadi pelajaran wajib di SD dan SMP, sehingga mata pelajaran Geografi di SMA akan lebih mudah mewadahi pendidikan kebencanaan. Bukan membuat mata pelajaran khusus pendidikan kebencanaan, yang akan membebankan siswa.

Namun, materi kebencanaan yang terdapat dalam mata pelajaran geografi tidak serta merta membuat para guru geografi menjadi pakar atau ahli dalam mengajarkannya. Penelitian yang dilakukan Intan Putri menunjukkan hasil bahwa guru masih terkendala dalam penguasaan materi karena kurangnya literature lain selain buku pegangan guru dan siswa. Guru juga masih terkendala dalam menggunakan metode pembelajaran karena menganggap kelas akan jadi tidak kondusif, begitu juga dengan media guru kurang menguasai cara menggunakan proyektor sebagai alat untuk menampilkan media secara visual (SARI, 2019).

Beberapa kendala lain diantaranya adalah bahwa siswa di beberapa sekolah tidak berada pada wilayah rawan bencana, sehingga siswa sulit membayangkan seperti apa wujud bencana tersebut. Contoh, siswa di pegunungan tentu tidak mengetahui bagaimana kedahsyatan gelombang tsunami.

Ini sejalan dengan Penelitian yang dilakukan oleh Agus Sudarsono di SMP Negeri 1 Cangkringan Kabupaten Sleman menunjukan hasil bahwa pada umumnya siswa mempunyai pemahaman yang memadai tentang becana, khususnya becana alam gunung meletus, namun sebagian besar kurang mengetahui bencana alam tsunami dan gempa bumi tektonik (Satriyo Wibowo, 2017).

Belum banyak tersedia di berbagai platform ataupun mesin pencari tentang media pembelajaran yang tepat untuk mengajarkan materi kebencanaan. Padahal hasil penelitian yang dilakukan oleh Wasis Suprapto di kelas VII SMPN 2 sanden kecamatan Sanden kabupaten Bantul menunjukan hasil yang baik tentang proses dan hasil pembelajaran mitigasi bencana meningkat dengan mengguna‐kan media CD pembelajaran.

Berikutnya adalah buku-buku tentang pengenalan bencana dan mitigasinya masih sulit didapatkan. Hal ini pernah diteliti oleh Yustia Suntari di Jakarta Utara memberikan informasi bahwa sebagian besar guru juga pernah mengajarkan materi tentang bencana, namun hanya sedikit yang pernah secara spesifik membahas banjir air rob. Hal ini karena minimnya literature tentang banjir rob.

Persepsi atau pemahaman baik guru, kepala sekolah atau siswa tentang kebencanaan juga masih berbeda-beda. Dari beberapa hasil penelitian ini, kita bisa mengetahui bahwa pemahaman siswa dan guru mengenai materi kebencanaan masih cukup memadai namun masih sebatas bencana yang terjadi di wilayah masing-masing.

Indonesia adalah negara yang memiliki keindahan alam sekaligus memiliki resiko ancaman bencana yang menghantui penduduk setiap saat. Ancaman banjir, gempa bumi, gunung meletus merupakan sebagian kecil dari rangkaian bencana yang dapat terjadi kapan saja.
Manusia tidak dapat mengubah potensi bencana karena Tuhan sudah menakdirkan kita berada di alam penuh potensi bahaya. Yang dapat dilakukan adalah meminimalisasi resiko bencana dengan upaya mitigasi bencana.

Sebagai mata pelajaran yang di dalamnya terdapat materi mitigasi bencana, para guru geografi menghadapi beberapa tantangan dalam melakukan proses pembelajaran.
Dari beberapa tantangan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka guru geografi memiliki peranan sangat penting untuk terus melakukan berbagai hal agar proses pembelajaran yang terkait mitigasi bencana dapat terlaksana dengan baik sehingga siswa memiliki pengetahuan dan pemahaman akan mitigasi bencana.

Jika pendidikan kebencanaan sudah dapat terlaksana dengan baik, maka mitigasi bencana akan berjalan dengan baik pula sehingga resiko kerugian jika terjadi bencana dapat diminimalisir, bahkan dapat berdamai dengan bencana.