Tantangan Sekolah Islam Terpadu

Oleh :
Ramdan Hamdani, S.Pd
Praktisi Pendidikan

MUNCULNYA sekolah-sekolah swasta pilihan yang dikenal dengan Sekolah Islam Terpadu  (SIT)  sejatinya merupakan jawaban atas kebutuhan (sebagian) masyarakat akan hadirnya lembaga pendidikan yang benar-benar mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.

Dengan sarana pembelajaran yang memadai dan didukung oleh tenaga-tenaga pengajar pilihan, SIT pun menjadi rebutan para orangtua saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tiba. Seleksi  super ketat serta tiket masuk selangit rupanya tak menyurutkan animo orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tersebut. Sebaliknya, jumlah pendaftar semakin meningkat dari waktu ke waktu dan membuat sebagian sekolah terpaksa menambah daya tampungnya. Tak heran apabila  kehadiran SIT pun  dianggap sebagai “ancaman” bagi eksistensi sekolah lain yang ada di sekitarnya.

Tingginya minat masyarakat untuk menitipkan anak – anaknya di Sekolah Islam Terpadu tersebut memang bukan tanpa alasan. Konsep pendidikan yang diaplikasikan di sekolah  – sekolah semacam ini relatif berbeda jika dibandingkan dengan sekolah – sekolah lainnya. Keterpaduan antara kompetensi pengetahuan, keterampilan serta sikap spiritual dan sosial menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan proses pembelajaran, jauh sebelum pemerintah memberlakukan Kurikulum 2013 (Kurtilas) yang diklaim menitik beratkan pada pembentukan karakter peserta didik.  Berbagai program unggulan pun disusun untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan, yaitu lahirnya generasi unggul yang berdaya saing tinggi dan berakhlak mulia.

Namun, dalam perjalanannya berbagai persoalan pun muncul seiring kian besarnya minat masyarakat terhadap SIT. Ada dua hal krusial yang menjadi sorotan masyarakat sekaligus kendala yang dirasakan oleh sebagian besar SIT. Pertama, mahalnya biaya pendidikan. Besarnya anggaran yang harus disiapkan untuk dapat menyekolahkan anak di SIT menjadi persoalan tersendiri bagi sebagian masyarakat yang menginginkan layanan pendidikan terbaik bagi anak – anaknya.  Anggaran tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sekolah akan sarana pembelajaran yang memadai serta program – program unggulan yang memang menjadi ciri khas SIT. Selain itu SIT merupakan sekolah yang bernaung di bawah yayasan dengan tenaga pengajar berstatus bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Artinya, biaya untuk menggaji para guru dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat.

Kedua, terbatasnya guru Qur’an. Mata pelajaran Tahfizh Tahsin Qur’an (TTQ) merupakan  mata pelajaran wajib yang diajarkan di seluruh SIT. Dengan jumlah jam paling banyak untuk setiap pekannya TTQ pun menjadi andalan SIT dalam upaya melahirkan generasi unggul dan berakhlak mulia. Sayangnya, pesatnya perkembangan SIT di berbagai daerah dalam beberapa tahun terakhir nyatanya tidak diimbangi dengan pertumbuhan lembaga – lembaga pendidikan yang berorientasi untuk mencetak guru – guru Qur’an. Akibatnya, kekurangan guru Qur’an pun kerap kali dialami oleh sebagian besar SIT.

Menyikapi permasalahan tersebut, ada dua langkah strategis yang sebaiknya diambil oleh pihak yayasan  yang selama ini menaungi SIT. Pertama, mendirikan unit usaha tertentu dan memfasilitasi para guru untuk mendirikan serta mengembangkan koperasi sekolah. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengurangi beban biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan operasional sekolah serta untuk menggaji para guru. Banyaknya siswa yang dimiliki oleh SIT merupakan peluang bagi koperasi sekolah apabila dikelola dengan baik.  Selain itu membangun kemitraan dengan lembaga lain yang bersifat tidak mengikat pun perlu dilakukan oleh para pengurus yayasan.

Kedua, mendirikan Lembaga Tahfizh untuk memenuhi kebutuhan guru – guru Qur’an. Kekurangan guru Qur’an sebagaimana yang dialami oleh sebagian besar SIT dapat diatasi dengan cara mendirikan sekolah Qur’an. Pihak yayasan dapat memberikan beasiswa kepada siapa saja yang berminat untuk mempelajari Al-Qur’an lebih dalam untuk kemudian dikaryakan sebagai guru di SIT. Kebijakan seperti ini tentunya akan mampu menjawab kebutuhan SIT akan guru-guru Qur’an dibandingkan dengan memperebutkan para lulusan dari lembaga Tahfizh lainnya.