Totalitas Islam Hadapi Pandemi

Oleh: Ammy Amelia

Pegiat Literasi dan Member Akademi Menulis Kreatif

Dikutip dari jabarekspress.com (25/09/2020), sedikitnya 50 peti mati untuk korban pasien positif Covid-19 yang disiapkan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkintam) Kabupaten Bandung telah habis digunakan.

Hal ini diperkuat dengan pernyaan Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman Disperkintam, Erna Marlena, yang mengatakan bahwa pihaknya selama ini telah menyediakan peti-peti mati untuk pasien yang meninggal akibat terpapar Covid-19. Dan seiring dengan meningkatnya jumlah korban, maka Disperkintam kembali menyiapkan peti-peti mati yang nantinya disalurkan ke rumah sakit rujukan.

Erna juga menyebutkan bahwa pihaknya telah menyiapkan lubang yang tersedia untuk korban Covid-19 yaitu sekitar 300 lubang dengan pertimbangan aksebilitasnya lebih mudah untuk mobil dan tidak terlalu jauh dari jalan utama.

Sungguh miris. Kian hari, korban terpapar Covid-19 semakin meningkat drastis. Hal tersebut bukanlah hal yang niscaya, jika penanganan pandemi tidak diatasi dengan seksama. Tragisnya, pemerintah justru dengan siaga menyiapkan lubang pemakaman, padahal seharusnya mereka mencari jalan dan kebijakan untuk menghindari bertambahnya angka kematian.

Menurut data dari Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Propinsi Jawa Barat per 5 Oktober 2020, jumlah korban meninggal telah mencapai 480 jiwa. Nominal tersebut bukanlah angka yang sedikit. Karena di sisi Allah Swt. nyawa seorang kaum muslimin memiliki nilai yang lebih berharga, bahkan dari dunia dan seisinya. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.”
[HR. An-Nasa’i]

Jelas, solusi pandemi ala kapitalisme hanya berujung kerusakan kronis. Selain berdampak pada sektor kesehatan, efek lanjutannya pun tak kalah berbahaya. Krisis ekonomi hingga sosial menjadi bagian dari ancaman yang tak terelakkan. Padahal seharusnya hal tersebut dapat dihindari sejak awal terjadinya pandemi. Jika solusi yang diterapkan merujuk pada solusi terbaik, yaitu solusi Islam.

Solusi kesehatan dalam Islam mengacu pada penanggulangan pandemi dalam waktu singkat. Dengan penguncian area wabah (lockdown), menjamin terpeliharanya kehidupan normal diluar area yang terjangkiti wabah. Hal tersebut menjadi solusi efektif dalam rangka memutus mata rantai penularan wabah. Sehingga dapat menekan jumlah angka kematian korban.

Adapun negara, secara totalitas menjamin dan bertanggung jawab atas kehidupan rakyatnya selama masa karantina dengan menyediakan berbagai fasilitas demi keberlangsungan hidup rakyatnya. Mulai dari jaminan ketahanan pangan, stabilitas ekonomi selama pandemi, lapangan pekerjaan, fasilitas kesehatan, bahkan merancang konsep pendidikan yang menunjang.

Negara memainkan peran sentralnya di tengah pusaran ancaman wabah, karena negara menyadari tugasnya sebagai pelindung dan perisai rakyat yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat.

Sejatinya hanya Islam, solusi sempurna nan paripurna karena bersumber dari Sang Pencipta Alam Semesta. Solusi yang ditawarkan bukanlah solusi diatas kepentingan duniawi, namun solusi manusiawi yang menyelesaikan permasalahan secara lugas, tegas dan tuntas.

Wallahu’alam bishawab.