Urgensi Pendidikan Literasi Media Dalam Keluarga

Oleh Andreas Rony Wijaya, S.Mat.
 Alumni S1 program studi Matematika di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah

Pada era digital sekarang ini hampir semua orang memanfaatkan media internet dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu media internet yang paling banyak digunakan adalah media sosial. Keberadaan media sosial di tengah masyarakat tentunya membawa berbagai kemudahan. Akan tetapi, bak pisau bermata dua, penggunaan media sosial juga dapat merugikan penggunanya.

Padahal pengguna media sosial bukan hanya dari kalangan dewasa saja, melainkan banyak juga pengguna yang masih anak-anak. Kita pasti sering mendengar berbagai kasus kekerasan dan kejahatan seorang anak yang diakibatkan dari media internet, anak-anak yang kecanduan game online, anak-anak yang ingin menjadi artis instagram ataupun youtuber, sampai dengan bullying di media sosial.

BACA JUGA:  Corona Melanda, Rakyat Merana, Kemana Negara?

Anak-anak usia sekolah mulai ketergantungan pada penggunaan gawai, dan tidak mungkin menghindarkan anak begitu saja dari penggunaannya. Dilema memang, jika dilarang maka anak akan menjadi generasi yang gagap teknologi (gaptek), namun jika diberi kebebasan maka banyak dampak negatif yang diterima oleh anak. Kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak, sering terinspirasi dari apa yang disaksikan dan dibaca melalui media sosial. Anak merupakan sosok yang suka meniru apa yang mereka lihat, dan tanpa berpikir panjang apakah hal tersebut baik atau tidak untuk dilakukan.

Secara teknis, anak-anak memang sudah menguasai media sosial. Namun, anak-anak belum bijak dalam menggunakannya. Anak-anak belum sadar akan dampak negatif dari media sosial jika tidak digunakan pada tempatnya. Saat ini media sosial dipenuhi oleh konten negatif seperti ujaran kebencian, berita bohong, konten pornografi, video-video kekerasan, dan konten lainnya yang tidak mendidik. Konten-konten negatif tersebut dapat mempengaruhi perkembangan anak dan mempengaruhi perilaku keseharian anak.
Oleh karena itu, anak perlu diberikan pemahaman bagaimana menggunakan media digital dengan bijak dan memahami konten-kontennya. Pemahaman tersebut dilakukan melalui proses literasi, yakni literasi media digital. Literasi media merupakan suatu kegiatan pendidikan media yang memiliki tujuan agar masyarakat mampu memahami, menganalisis, sekaligus mampu menciptakan dan memproduksi informasi dalam media.

BACA JUGA:  Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Seseorang dikatakan mempunyai kemampuan literasi media yang baik ketika mampu membedakan suatu konten masuk dalam kategori fakta atau hoaks. Keterampilan yang paling utama dalam literasi media adalah membaca dan menulis. Sayangnya, pengguna media sosial belum memiliki keterampilan yang baik dalam membaca dan menulis di media sosial. Banyak yang menulis suatu unggahan atau mengomentari sesuatu tanpa membaca dan memahaminya terlebih dahulu.

Berdasarkan data Internet Inclusive Index 2019 yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit, literasi media digital di Indonesia berada pada peringkat 63 dari 100 negara yang masuk survei. Seakan mendukung survei tersebut, menurut The Worldis Most Literate Nations Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara soal literasi. Indonesia berada jauh di bawah Singapura yang berada di peringkat 36, sedangkan yang menduduki peringkat pertama adalah Finlandia dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100 persen. Rendahnya kemampuan literasi media dari pengguna media sosial ini membuat pengguna mudah dibohongi dengan berita hoaks dan ujaran kebencian.

BACA JUGA:  Konflik Kepentingan dan Ancaman Ekonomi Dibalik Masuknya 500 Tenaga Kerja Tiongkok

Keluarga Sebagai Poros