Wait And See :Pts Kena Imbas Pandemi Covid-19

Oleh : Drs.Priyono,MSi

(Dosen Fakultas Geografi UMS)

Pandemi covid-19 merubah tatanan seluruh kehidupan baik berkeluarga, bermasyarakat maupun berbangsa dan bernegara. Seluruh bidang kehidupan semua  kena dampak pahitnya tak terkecali perguruan tnggi swasta seluruh Indonesia yang mempunyai jumlah mahasiswa sebanyak 4,5 juta ditambah 1 juta mahasiswa baru yang masuk tahun akademi 2020-2021.

Tujuh puluh persen mahasiwa perguruan tinggi swasta(PTS) kesulitan membayar kuliah sehingga mereka harus cuti akademik meskipun pemerintah telah membantu untuk meringankan SPP atau uang kuliah tunggal(UKT) sebesar 1 triliun, sebagian besar untuk swasta. tapi tak bisa membantu secara keseluruhan. Kebanyakan yang menunggak bersal dari PTS kecil dengan student body 1000-2000 mahasiswa sedangkan PTS  sedang dan besar, angkanya semakin menurun. Bahkan seperti Universitas Muhammadiyah Surakarta(UMS) yang merupakan perguruan tinggi besar di Indonesia atau terbesar di Jawa Tengah dengan jumlah mahasiswa 30.000 terkena imbasnya relative kecil bahkan masih bisa mensubsidi pulsa kuliah per mahasiswa sebesar rp 200.000. Jadi sekitar 6 miliar rp dikeluarkan untuk bantu pulsa. Universitas Islam Malang(UNISMA) keluarkan 10 miliar rp. Universitas Muhammadiyah Malang lebih besar lagi.

Hingga saat ini, saat pengumuman hasil seleksi SBMPTN 2020, posisi mhs baru UMS yang sudah registrasi sebanyak 5.120 dari 8.000 yang ditargetkan atau kuota maru. Jumlah pendaftar tahun ini sebesar 12.020 yang akan berkompetisi merebutkan 8.000 kuota. Hampir dapat dipastikan jumlah pendaftar setelah pengumuman PTN akan mengalami peningkatan yang significan, inilah momen yang sangat ditunggu PTS baik PTS kecil, sedang maupun besar. Meskipun hampir sebagian program studi di UMS telah memenuhi kuota bahkan berlebih tetapi beberapa prodi ada yang masih kurang dari 40 persen dari kuota artinya meraka masih wait and see. Mereka berharap bagi yang sudah lolos seleksi segera registrasi dan bagi yang belum mendaftar, segera mendaftar sesuai program studi yang disukai. Fenomena semacam ini hampir terjadi menyeluruh di PTS Indonesia. Mereka wait and see moment terindah dalam siklus tahunan.

Inilah yang akan terjadi berlakulah seleksi alam. Bagi PTS yang memiliki kualitas lebih baik akan diserbu peminat karena fasiltas kampus yang memadai, kualitas SDM dan reputasinya sedangkan PTS yang kurang berkualitas akan menunggu limpahan dari PTS bergengsi.

Berdasarkan fenomena mahasiswa yang menunggak tersebut, bila pandemi  tidak segera berakhir maka akan berdampak lebih parah terhadap PTS terutama yang kecil akan bisa menjadi ancaman secara operasional dan bisa jadi untuk memnggaji karyawan dan dosennya akan mengalami kesulitan. Apa yang akan terjadi ? Tentu lebih menyedihkan, bisa gajinya dipotong, ditunda atau bahkan merumahkan untuk beberapa bulan. Begitu dahsyatnya efek samping dari cobaan dari Alloh ini.

Jadi dapat disimpulkan berlaku untuk unit usaha apapun bahwa kata kuncinya adalah kompetisi dan kompetensi.  Jumlah mahasiswa di PTS berbanding lurus dengan kualitas PTS dan sebaliknya. Setuju atau tidak dengan hipotesa ini, fakta yang akan berbicara. Oleh karenya bagi PTS, ketika booming mahasisw kemudian membangun sarpras yang megah dan merekrut dosen yang memadai, perlu dikaji ulang mengingat ada fluktuasi student body yang sulit untuk diperkirakan. (*)