Waspadai Kebijakan Minol Yang Merusak Generasi

Oleh : Ika Nur Wahyuni

Acara proses pisah sambut Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Karawang yang dihadiri oleh Bupati Karawang dr. Hj. Cellica Nurrachdiana pada Senin (11/01/2021). H. Dadang Ramdani, M.Si menjadi Kepala Kantor Kemenag menggantikan H. Sopiandi, S.Pd.I, M.Si. Dalam sambutannya Bupati menyampaikan rasa terima kasihnya atas dedikasi H. Sopian selama ini.

Bupati juga menuturkan kolaborasi diantara mereka terjalin baik untuk mewujudkan Karawang sebagai Kota Santri yang berbudaya dan beragama. Untuk itu Bupati mengajak Kepala Kantor Kemenag yang baru H. Dadang Ramdani untuk melanjutkan cita-cita tersebut. (Kutipan-news.co.id, 11/01/2021)

Di lain sisi Komisi I DPRD Kabupaten Karawang mulai menggodok serius payung hukum dalam mengatur dan mengendalikan peredaran Minuman Beralkohol (Minol). Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda DPRD, Saepudin Zuhri mengatakan dengan adanya Perda Minol maka akan ada aturan hukum yang mengatur dalam upaya peredaran, pengawasan, dan penindakan terkait minuman keras yang kerap disebut Minol ini.

Zuhri menambahkan, kendati pihaknya sepakat bahwa Minol itu haram dan menghendaki 0 persen alkohol di Karawang tetapi dengan tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Menteri Perdagangan maka Perda ini nantinya lebih kepada mengatur peredaran Minol di tengah masyarakat.
Minuman Beralkohol (Minol) hanya bisa didapat di Hotel Bintang 3 ke atas, restoran serta tempat hiburan bertanda khusus. Tidak seperti sekarang ini, Minol bisa dijumpai dimana saja. Di kampung-kampung, warung kelontong, atau toko-toko yang menyediakan jamu-jamuan. (Infoka.id, 03/06/2021)

Untuk membangun Kota Pangkal Perjuangan ini sebagai Kota Santri yang berbudaya dan beragama pasti akan sulit diwujudkan apabila keberadaan Minol malah dilegalkan. Seharusnya semua pihak baik Pemerintah Daerah (Pemda), Kemenag, dan masyarakat bekerjasama untuk memberantas peredaran Minol. Bahkan Pemda memberikan payung hukum untuk memberikan sanksi tegas berefek jera. Baik kepada para pemakai, pengedar, dan pemasok Minol.

Dan salah satu bentuk khamr adalah Minol. Nabi Muhammad SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, “Khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar, barangsiapa meminumnya, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya.” (HR. Ath-Thabrani)

Islam sangat tegas mengenai khamr. Karena khamr adalah induknya kejahatan, penghilang akal sehat Hukumnya jelas haram dan pelakunya dianggap telah melakukan dosa besar serta dikenakan hukuman had berupa cambukan dalam hitungan 40 atau 80 cambukan. Bahkan dalam hadits Nabi SAW yang lain disebutkan peminum khamr tidak diterima shalatnya selama 40 hari lamanya.

Selain itu dilihat dari segi kesehatan, Minol dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, pankreas, memicu kanker hingga merusak syaraf. Yang lebih dahsyat lagi, daya rusak Minol terhadap generasi muda. Alih-alih mencerdaskan generasi, Minol justru mampu membuat kehilangan generasi (lost generation). Wacana sebagai Kota Santri yang berbudaya dan beragama akan kehilangan makna.

Inilah yang terjadi apabila kita menerapkan sistem demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Satu kebijakan bertentangan dengan kebijakan yang lain bahkan hal-hal yang jelas diharamkan oleh agama pun bisa dihalalkan atas nama mengikuti perundang-undangan pemerintah pusat maupun atas nama investasi sekedar untuk meraup keuntungan. Meskipun dampak buruk yang ditimbulkan lebih besar.

Menerapkan sistem buatan manusia yang bisa dirubah sekehendak hati dan disesuaikan dengan kepentingan dan syahwat penguasa adalah suatu kesalahan besar. Sudah waktunya menggantikan sistem rusak yang bernama demokrasi dengan sistem Islam yang berasal dari wahyu Illahi. Islam selain sebagai agama juga sebagai mabda yang berisi seperangkat aturan yang mengatur kehidupan individu, bermasyarakat dan bernegara.

Keseimbangan akan tercipta karena sistem ini bukan hanya mengatur masalah keduniawian saja, tetapi sistem ini juga melindungi keimanan dan membuat manusia menjadi pribadi-pribadi yang taat. Pada akhirnya menjadikan Karawang sebagai Kota Santri yang religi dan berbudaya akan terwujud nyata.

Wallahu’alam bisshawab.