“Wisata Bencana” Dibalik Covid -19 pada Era New Normal

Oleh: Arif Jauhari & Priyono (Dosen Fakultas Geografi Universitas muhammadiyah Surakarta)

Indonesia saat ini sedang mengalami musim hujan, dengan kondisi topografis dan geografisnya kemungkinan bakal terjadinya bencana terkait dengan cuaca atau yang biasa disebut dengan bencana hidrometeorologi akan semakin besar. Parameter meteorologi meliputi curah hujan, kelembaban, temperatur dan angin. Mengacu pada ukuran tersebut, bencana hidrometeorologi diantaranya adalah hujan dengan butiran es, banjir, banjir bandang, angin kencang, puting beliung, longsor, abrasi, dan gelombang pasang. Inilah super market bencana.

Disamping ancaman bencana hidrometeorologi, saat ini di negara kita tercinta juga menghadapi ancaman letusan gunungapi dan setiap saat adalah gempa bumi. Laporan kebencanaan geologi oleh Badan Geologi Kementrian ESDM, mencatat 4 gunungapi berada pada tingkat aktivitas Level III (Siaga), meliputi Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur), Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah), Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara) dan Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara). Di beberapa tempat sudah dilakukan pengungsian terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil dan menyusui, penderita sakit parah, lansia serta penyandang disabilitas.

Ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi (walaupun kami berharap tidak terjadi), sering menimbulkan rasa empati juga keinginan berbagi. Hal ini merupakan kondisi yang sangat positif sebagai bentuk kepedulian dan kemanusian. Pada kondisi darurat,  kecepatan dan ketepatan penanganan bencana sangat menentukan keberhasilan dari proses tanggap darurat, tetapi kadang keingintahuan masyarakat yang sangat tinggi menyebabkan mereka berbondong-bondong menuju lokasi bencana “hanya untuk tahu” apa yang terjadi. Sebenarnya kalau kita amati, baik media massa maupun pusat informasi sudah cukup mengabarkan kondisi tanggap darurat. Kadang demi “kepo maksimal” dan konten media sosial mereka rela menuju lokasi tanggap darurat.

Berjubelnya non relawan atau potesi tanggap bencana tentunya akan menambah beban dan masalah bagi pengungsi, korban dan juga pelaksana tanggap darurat. Kecepatan penanganan akan menjadi terhambat, situasi menjadi penuh sesak. Lebih miris lagi adalah keamanan dan keselamatan para pendatang dapat terancam atau bahkan menjadi beban bagi pelaksana tanggap darurat. Beberapa kejadian pada bencana longsor yang penulis amati, mereka berswafoto dengan gembira, mengabaikan keamanan juga empati pada korban bencana. Pengalaman di lapangan juga menyebutkan salah satu pembengkakan kebutuhan adalah konsumsi. Kondisi kedermawanan pada tanggap darurat kadang menyebabkan pembagian konsumsi salah alamat, bukan pada pengungsi dan pelaksana tanggap darurat, tetapi kepada para “wisatawan bencana”. Hal ini tentunya akan membikin “sedikit” kekacauan di dapur umum dan petugas distribusi konsumsi.

Kondisi pandemi covid-19 ini telah banyak memakan korban dan kapan berakhirnya juga belum dapat ditentukan, sehingga akhirnya pemerintah menyerukan kepada masyarakat untuk melakukan normal baru. Normal baru adalah adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Melalui Gerakan “Ingat Pesan Ibu Patuhi 3M” masyarakat diwajibkan untuk memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak/hindari kerumunan. Selain itu juga dikenal protocol VDJ (ventilasi, durasi dan jarak), protokol ini mengarahkan masyarakat untuk menghindari ruangan dengan ventilasi buruk, durasi berinteraksi dengan orang lain tidak terlalu lama (15 menit) serta menjaga jarak minimal 1,5 meter dengan yang lain dan tentunya menghindari kerumanan massa.

Ketertiban penerapan normal baru ini tentunya bertujuan untuk hidup sehat dan memutus rantai penularan covid-19. Apabila kita semua sadar akan kebutuhan sehat, semestinya penerapan normal baru ini menjadi suatu keharusan. Berkaitan dengan “wisata bencana”, normal baru secara otomatis akan mengikis bahkan mungkin menghilangkannya, demi keberhasilan tanggap darurat dan terutama demi rasa kemanusian. Menyeimbangkan orientasi keamanan massa, kenikmatan wisata bencana dan tanggung jawab komunal akan menjadi tindakan terpuji disaat pandemic sedang melanda. Korban yang berjatuhan yang tidak mengenal usia,derajat dan sebaran spasial adalah sebuah keniscayaan dan harus diminimalisir dengan perilaku disiplin dan empati dengan tidak mengurangi kepedulian social. (*)