Surya Paloh di Pesantren

HARI-hari tanpa televisi dan gadget. Bisa?

Itu dirasakan saya selama 6 tahun.

Tahun 1999-2005.

Di sebuah pondok pesantren.
Padahal itu pondok modern.
Tapi bukan pesantren namanya kalau santri bebas nonton tv dan punya hape.

Lalu dari mana mendapat informasi? Santri diutamakan fokus belajar. Tidak terganggu informasi yang tidak penting. Apalagi info hoax.

Toh tidak kenal artis pun tidak apa. Tidak tau acara tv pun gak akan sengsara. Tidak akan membosankan.

Acara tv apa yang seru di tahun-tahun itu? Saya tidak tahu. Tidak masalah, hari-hari di pesantren akan selalu seru dan padat kegiatan.

Tapi, saya termasuk yang beruntung. Bisa mendapat akses khusus. Ketemu dengan tamu-tamu pesantren. Mulai dari artis, tokoh politik, tokoh TNI, Polri hingga para ulama pesohor.

Hanya sederet artis seperti Wulan Guritno, Sandra Dewi, Glenn Fredly yang pernah saya kenal. Kebetulan berkunjung ke sana.

Tokoh politik: Presiden BJ Habibie, Akbar Tandjung, Mbak Tutut, Surya Paloh hingga mantan Presiden Soeharto pernah melihatnya langsung. Di ruang terbuka, maupun tertutup.

Yang menarik, justru pertemuan di ruang tertutup. Hanya untuk kalangan terbatas. Saya termasuk santri yang punya akses ke kalangan terbatas itu. Sebagai pengurus santri juga sebagai jurnalis santri.

Dari sekian pertemuan tertutup, ada satu pertemuan yang menarik perhatian saya. Di banding yang lain. Pertemuan itu biasanya pertemuan sambutan dan jamuan khusus dari pengurus pesantren. Ke tamu khusus.

Tamu khusus di malam itu sosok yang kemarin saling sindir dengan Presiden Jokowi. Dialah Surya Paloh. Entah di tahun berapa. Pertemuan dan jamuan khusus itu.

Mungkin sekitar tahun 2003 atau 2004. Sebab menjelang Pilpres. Surya Paloh keliling untuk meraih dukungan publik dan dukungan politik.

Mengikuti konvensi Capres Golkar. Bersaing dengan Wiranto, Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie dan Prabowo. Sebelum Hanura dan Gerindra lahir. Juga sebelum Nasdem lahir. Mereka semua di bawah naungan beringin: Golkar.

Tak banyak berubah. Surya Paloh dari dulu begitu. Pidatonya meledak-ledak. Suaranya menggelegar. Terasa sangar, dengan brewok yang khas itu. Narasinya tidak banyak berubah: tentang nasionalisme. Persatuan, kebhinekaan. Nasionalis sejati.

Selain “dagang” gagasan. Surya juga fasih bicara media dan pesantren. Darah Aceh tentu tak asing dengan dunia pesantren. Dunia santri. Kemanusiaannya terasah. Maka di banyak membenahi sekolah dan madrasah di Aceh.

Itulah sebabnya saat Tsunami Aceh, Surya terdepan mengabarkan melalui medianya. Media Indonesia dan Metro TV. Juga menghimpun donasi khusus untuk membantu para korban bencana.

Bencana yang melambungkan presenter Nana–Najwa Shihab. Juga melalui media milik Surya Paloh: Media Indonesia, saya dan para santri bisa tahu informasi tentang Tsunami.

Begitu pedulinya terhadap para santri, Surya Paloh mengirim gratis ribuan eksemplar koran Media Indonesia untuk para santri. Saya gembira. Juga semakin mengagumi sosok Surya Paloh.

Setiap hari saya baca di kamar (kobong). Juga di bawa ke sekolah. Dari Media Indonesia saya tahu perang Afganistan. Detik-detik moncong meriam membombardir Afganistan di malam hari. Saat isu terorisme mencuat.

Walau koran gratis tidak berlangsung lama, tapi cukup bagi saya membuka wawasan. Membuka “dunia luar” ke dalam dunia pesantren.

Karena koran itulah, pemikiran jari terbuka. Suatu terobosan yang radikal. Yang dilakukan pesantren. Yang dilakukan Surya Paloh.

Karena koran itulah, terbawa ke alam bawah sadar. Saya bekerja di perusahaan koran. Hingga sekarang.

Tapi belum brewokan seperti Bang Surya. Belum mendirikan partai atau bergabung ke partai. Apalagi menjadi Ketum tiga periode barturut-turut.

Selamat Bang Surya, menjadi Ketum Nasdem lagi.
Terimakasih.
Dari santri yang mendapat subsidi koran.
15 tahun lalu.(*)

Penulis: Lukman Enha–Pimred Pasundan Ekspres