Sabar sebagai Bentuk Kematangan Spiritual

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A, Imam Besar Masjid Istiqlal

Ibn Hajar al-‘Asqallani sangat populer sebagai ulama besar, terutama dalam bidang hadits. Dialah yang meng-syarah atau memberikan anotasi terhadap Kitab Shahih al-Bukhari yang disusun Imam Bukhari yang terkenal itu. Ia meninggalkan desanya menuju Kota Mesir untuk menuntut ilmu.

Sekian lama di sana, ia tidak merasa pintar dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampungnya. Dalam perjalanan ia memotong gunung dan melintasi padang pasir. Karena kelelahan ia mampir beristirahat di dalam gua.

Di dalam gua itu ia merenungi nasibnya sebagai orang yang gagal. Dalam keadaan bersedih ia menyaksikan tetesan air terus menerus dari stalagtit. Entah berapa lama tetesan itu terjadi sehingga membuat lubang di dalam batu yang ada di bawahnya. Dari situ ia belajar bahwa air yang sedemikian lembut pun berhasil melubangi batu cadas.

Bagaimana dengan dirinya? Akhirnya ia mengurungkan niatnya pulang ke desanya dan memutuskan untuk kembali ke Mesir. Dengan semangat membatu ia berhasil lulus dengan berbagai prestasi istimewa diraihnya. Namanya pun diabadikan sebagai Ibnu Hajar (Putra Batu), yang diambil dari pengalamannya menyaksikan batu cadas di dalam gua.

Sabar adalah salah satu anak tangga yang mesti dilalui oleh orang-orang yang mendambakan keberuntungan, termasuk keberhasilan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sabar dalam Al-Qur’an tidak identik dengan pendiam, atau tidak melawan ketika dianiaya.
Substansi sabar ialah melakukan pengendalian diri di saat kita memiliki kemampuan. Kemampuan untuk mencekal berbagai keinginan nafsu di saat kita memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, kita memiliki uang untuk membeli sesuatu tetapi nurani memberikan bisikan bahwa tidak etis membeli sesuatu itu di saat tetangga di sekitar kita sedang menderita.

BACA JUGA:  PUISI RINDU