Kisah Didi Kempot: Dari Pengamen Jalanan hingga Sukses Bergelar Godfather of Broken Heart

JAKARTA– Sebelum dinyatakan meninggal dunia, Selasa (5/5), Didi Kempot memiliki agenda besar dalam perayaan 30 tahun dirinya berkarier di dunia musik: konser megah di Gelora Bung Karno pada Juli mendatang.

Kala menyampaikan niat hajatan itu pada 10 Maret 2020, Didi Kempot mengaku tak pernah bermimpi untuk bisa konser dengan skala stadion seperti Gelora Bung Karno.

Namun popularitasnya meroket dalam dua tahun terakhir, ditambah dengan penggemar fanatik yang selalu setia mengikuti Didi konser dari kampung ke kampung, promotor konser pun datang kepadanya.

“Tidak pernah bermimpi konser di GBK dan sekarang terwujud. Dari dulu saya kerja keras, dan akhir-akhir ini milenial tidak malu nonton musisi tradisional,” kata Didi, Maret lalu.

Konser itu sekaligus bertepatan dengan tiga dasawarsa Didi Kempot bernyanyi campur sari. Musisi kelahiran 31 Desember 1966 ini sejatinya telah bermusik sejak 1984. Ia menjalani karier bermusik dari tahap yang amat bawah, menjadi pengamen.

“Saya mengamen mulai 1984, masih remaja usia 18 tahun. Belajar gitar otodidak, gitar itu saya dapat dengan nekat, menjual sepeda pemberian ayah saya untuk dibelikan gitar,” kata Didi di Solo, Juli 2019.

Namun bakat seni musik yang berasal dari sang ayah mengalir deras dalam nadinya. Hal itu kemudian membantu Didi dalam menciptakan lirik yang mampu membuat pendengarnya tergugah.

Kemampuan Didi pun mengantarkan dirinya ke ruangan rekaman setelah menjalani kehidupan yang penuh lara di jalanan ibu kota. Tapi rezeki Didi bukan hanya sampai ke rekaman. Ia melesat hingga Belanda dan Suriname.

Didi Kempot sudah menghasilkan puluhan album, setidaknya yang tercatat ada Stasiun Balapan (1999), Modal Dengkul, Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004) dan Ono Opo (2005).

Bahkan, dirinya menyebut sudah membuat sampai 700 lagu sepanjang dia berkarier meskipun kini pencatatannya masih dalam proses.

Hingga kemudian, pada Juni 2019, Didi Kempot mendadak viral. Para penggemar yang menyebut dirinya sebagai sadbois atau sadgerls atau Sobat Ambyar membuat nama Didi Kempot mendadak muncul menjadi trending topic.

Bukan hanya namanya, melainkan ada ragam titel yang muncul untuk Didi Kempot alih-alih penyanyi campursari, yaitu Bapak Loro Ati Nasional, hingga Godfather of Broken Heart.

Pihak promotor pun datang menawarkan konser kepada Didi. Namun mereka mengakui bahwa penyanyi legendaris campursari itu memiliki jadwal yang amat padat.

“Konser bertajuk Ambyar Tak Jogeti digelar tanggal 10 Juli 2020, itu hari Jumat. Sabtu dan Minggu enggak bisa karena beliau jadwal padat,” kata Direktor Garindo Media Tama, Dian Eka, Selasa, 10 Maret lalu.

Konser itu pun sempat mengalami dampak wabah virus corona hingga diputuskan untuk ditunda hingga 14 November 2020. Namun apa daya, takdir berkata lain, Didi Kempot meninggal dunia pada 5 Mei 2020.(red/CNNIndonesia.com)