Terjadi Ketegangan saat Evakuasi Mayat Pria Gantung Diri, Bingung Dibawa ke Mana

PAMANUKAN– Kasus pria gantung diri pemakaman di Pamanukan masih menyimpan tanya. Setelah proses evakuasi dengan prosedur penanganan Covid-19 masih belum dipastikan siapa identitas pria tersebut dan berasal dari mana.

Bahkan, sempat ada ketegangan dan perdebatan antara tim medis, aparat juga awak media serta jalannya koordinasi yang kacau untuk memutuskan, hendak dibawa kemana mayat pria tersebut.

Proses evakuasi pria yang ditemukan gantung diri tersebut terbilang lama. Dari mulai geger pukul 03.00 WIB di media sosial serta berbagai grup WhatsApp, baru sekitar pukul 08.30 WIB dilakukan evakuasi.

Tim dari Puskesmas Batangsari dan Pamanukan serta Tim Inafis Polres terjun untuk mengetahui motif dari peristiwa tersebut, serta menyelidiki ada tidaknya indikasi Covid-19.

Protap evakuasi Covid-19 dilakukan karena ditemukan satu unit motor berplat nomor Jakarta yakni B 4236 FKI, daerah dari zona merah. Membuat proses evakuasi penuh kehati-hatian dan menggunakan protap Penanganan Covid-19.

Kapolsek Pamanukan Kompol Dadang Cahyadiawan menyebut, awal mula penemuan mayat berdasarkan laporan warga sekitar pukul 02.30 WIB.

“Bersama TNI dan Polri, saat mengecek ke TKP, korban sudah dalam posisi tergantung di sebuah pohon dengan seutas tali. Kami belum dapat memastikan apakah ini gantung diri atau ada unsur penganiayaan,” ucapnya.

Kompol Dadang menambahkan, tidak ada identitas apapun yang terdapat dalam diri pria tersebut. Hanya ditemukan sebuah handphone yang terkunci sandi serta satu unit motor.

“Untuk identitas kita belum mengetahui, masih dalam pelacakan,” ungkapnya.

Saat proses evakuasi, terlebih dahulu tim medis maupun tim inafis Polres Subang melakukan sterilisasi baik di area sekitar maupun pada tubuh dan motor korban gantung diri.

Perdebatan dan ketegangan terjadi manakala, hendak diputuskan mau dibawa kemana mayat pria tersebut.

Sesuai protap dari kepolisian yang telah melakukan penyelidikan dan cek TKP, kewenangan untuk pemeriksaan lebih lanjut masih tanda tanya.

Sebab, Muspika yang hendak membawa mayat ke RSUD Ciereng diminta untuk berkoordinasi terlebih dahulu. Sebab, dari informasi yang ada di lapangan, RSUD Ciereng tidak akan menerima pasien termasuk yang terindikasi Covid-19 bila tak ada koordinasi sebelumnya. Namun di sisi lain, jika mayat dibawa ke Puskesmas, mereka enggan disalahkan.

Termasuk opsi pemulasaraan dan penguburan jenazah juga sempat mengemuka. Belum jawaban dari pihak gugus Covid-19.

Perdebatan dan koordinasi di lapangan dalam pantauan Pasundan Ekspres menjadi PR bagi instansi terkait. Termasuk soal adanya informasi sulitnya koordinasi dengan RSUD Ciereng.

Saat ini mayat tersebut akhirnya dibawa ke Puskesmas Pamanukan. (ygi/man)