Tabloid ‘Indonesia Barokah’ Sudutkan Prabowo? Ini Ulasan Isinya

Tabloid ‘Indonesia Barokah’ Sudutkan Prabowo? Ini Ulasan Isinya
Bawaslu Subang mengkaji isi Tabloid Indonesia Barokah
0 Komentar

Dikupas pula bahwa strategi ini dijalankan oleh Presiden Vladimir Putin pada pemilu di Rusia tahun 2008 dan 2014 serta Donald Trump pada Pilpres AS tahun 2016 lalu.

Diuraikan bahwa Prabowo menjalankan strategi itu dapat dilihat dari sejumlah informasi tidak akurat atau hoaks yang disebarluaskan oleh tim suksesnya. Mulai dari kasus mobil Neno Warisman yang disebut pembakaran hingga pemukulan Ratna Sarumpaet padahal operasi plastik.

Tidak melulu tentang Prabowo dan kritikan terhadap Reuni 212. Tabloid Indonesia Barokah juga mengupas bahaya hoaks, sejarah khawarij sebagai awal mula radikalisme serta laporan tentang program Jokowi untuk kemajuan pesantren. Namun ada pula rubrik Fikih yang membahas hukum tentang solat tapi dikaitkan dengan berita sisipan tentang tantangan terhadap Prabowo untuk salat. Dengan nara sumber tim Jokowi yaitu La Nyalla Mattaliti.

Baca Juga:KONI Kisruh, Pengurus Layangkan Mosi Tidak Percaya ke YoyoJNE Dorong Pelaku UMKM Gunakan Strategi Digital

Apakah tabloid ‘Indonesia Barokah’ melanggar kode etik jurnalistik? Dewan Pers hingga kini tengah mengkaji dan melayangkan surat panggilan kepada awak redaksi. Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetya mengatakan, isi tabloid itu berupa roud up pemberitaan dari media lain. Tidak ada verifikasi, klarifikasi dan konfirmasi kepada nara sumber. “Hasilnya (kajian) belum utuh, kami melihat (Indonesia Barokah) lebih berupa berita roud up pemberitaan yang sudah ada dari media lain,” ujar Yosep, Jumat (25/1) kepada sejumlah media.

Hanya saja Stanley menyatakan tidak menutup kemungkinan Dewan Pers akan merekomendasikan ditangani Polri. Jika sudah mendapat keterangan dari pengelola dan redaksi tabloid ‘Indonesia Barokah’.

Sedangkan Bawaslu menyatakan, hingga saat ini pihaknya masih menunggu hasil kajian Dewan Pers. “Karena ini terkait apakah bagian dari produk jurnalistik atau tidak, kita sedang menunggu koordinasi dengan unsur Dewan Pers,” kata Komisioner Bawaslu M Affifudin seperti dilansir oleh sejumlah media online.(red)

 

Laman:

1 2
0 Komentar