Toilet

Kang Marbawi
0 Komentar

Keadaban pun seharusnya hadir di toilet dalam bentuk sekat antar closet berdiri (urin/urinoir protector). Dan itu penting! Walau di toilet umum, tetap saja urusan panggilan alam itu adalah urusan privacy. Sekat itu, memberikan ruang privacy, agar “aurat” dan polusi dari sepah-sepah biologis tak terendus yang lain. Keadaban juga harusnya hadir di toilet. Minimal menjaga kebersihan bilik panggilan alam juga ramah untuk yang berkebutuhan khusus.

Agama pun, serius soal toilet ini. Ada aturan soal bagaimana kita berperilaku adab ketika mau masuk, di dalam dan keluar toilet. Berikut dengan doa-doanya. Soal adab di toilet ini, bisa merujuk kepada Sahabat Ali Bin Abi Thalib. Muasal menantu Nabi Muhammad saw mendapat gelar karromallahu wajhah itu adalah, selain karena Beliau tidak pernah menyembah berhala, Beliau juga selama hidupnya, tidak pernah melihat aurat dirinya sendiri. Apalagi punya orang lain.

Pun negara hadir di bilik toilet.  Sebut saja program DAK (Dana Alokasi Khusus) untuk Sanitasi di salah satu kota di Jawa Barat mencapai Rp. 4 M. Dan anggaran sebesar itu, hanya ngurusi toilet untuk warga yang tak punya dan tak layak peturasannya.

Baca Juga:Pengamat Apresiasi BRI Terbitkan Green Bond Rp5 Triliun untuk Biayai Proyek Ekonomi HijauTerdepan Dalam Penerapan Prinsip ESG, BRI Dinilai Unggul di ‘Investasi Hijau’

Itu realita! Dizaman yang sudah 4.0 ini dan di kota, masih terdapat warga yang tak memiliki jamban yang tak layak. Bilik toilet adalah gambaran kehidupan nyata dan hadirnya negara. Mungkin keadaban itu bisa dijaga di tempat-tempat tertentu, karena adanya sumber daya yang bertanggungjawab dan dukungan anggaran.

Tingkah seseorang di toilet adalah gambaran keadaban yang jujur. Bisa dipastikan, toilet adalah ruang privacy yang tak tersentuh. Kecuali dirinya, dan tentu “Tuhan” yang tahu apa yang dilakukan dan dipikirkan.

Toilet menjadi ruang refleksi dari keadaban individu atau masyarakat. “Artefak sisa” yang tertinggal di toilet itulah yang menunjukkannya. Ada yang tak beradab dan tak tanggungjawab. Kita pun tetap harus ikut cawe-cawe. Bukan karena “bukan buangan gue”, kemudian abai dan hanya bisa bersungut-sungut. Toilet! Adalah kaca refleksi keadaban diri kita yang jujur. Pun sering kali menjadi munculnya “aha elebrenis” ide-ide kreatif. Namun kerapkali, kita tak pernah merefleksi diri dalam keadaban di toilet. (*)

0 Komentar