Dari Jaya hingga Sepi, Lika-liku Pedagang Bertahan di Pasar Kosambi

Dari Jaya hingga Sepi, Lika-liku Pedagang Bertahan di Pasar Kosambi
(Foto: Wisma Putra/detikJabar)
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO – Seorang pria berambut penuh uban tampak asyik mendengarkan lagu-lagu lawas yang diputar dari sebuah tape di kios beras miliknya di Pasar Kosambi, Kota Bandung.

Alunan musik terdengar cukup keras, mengalir di antara lorong pasar, sekaligus menghibur para pedagang dan pengunjung yang datang. Meski hari masih pagi, suasana pasar yang terletak di Jalan Ahmad Yani itu terlihat lengang.

Pemandangan seperti ini bukan lagi hal asing dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga:Kronologis Meninggalnya Lula Lahfah, Sempat Curhat Takut dengan SakitnyaRekomendasi Bebek Lezat di Kuningan, Pas Buat Kantong Pelajar

Banyak warga kini lebih memilih berbelanja ke supermarket atau swalayan ketimbang ke pasar tradisional.

menyambangi kios beras tersebut dan bertemu langsung dengan pemiliknya, Rahmat Kurnia (60).

Saat ditemui, Rahmat tampak santai. Tak satu pun pembeli terlihat mendekati kiosnya.

Namun, kondisi itu tak membuatnya berdiam diri. Rahmat tetap sibuk menyusun karung, serta memasukkan dan mengeluarkan beras dari tempat penyimpanan.

Jika berbicara soal sejarah Pasar Kosambi, Rahmat adalah salah satu saksi hidup yang memahami betul perkembangan pasar peninggalan era Hindia Belanda tersebut.

Seluruh hidupnya ia habiskan untuk berjualan beras. Rahmat merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha turun-temurun keluarganya.

Bahkan, sejak kakeknya, H Holil, masih hidup, ia sudah kerap membantu aktivitas berdagang.

Baca Juga:Demo PPPK Paruh Waktu di Sukabumi Mendadak Batal, Muncul Spanduk Penolakan Demo Depan PendopoSiasat Memoles Pantai Batuhiu Lebih Nyaman, Bebaskan dari Menjamurnya Pedagang Kaki 5

Jualan real 2002, saya generasi ketiga, tapi pas zaman kakek saya bantu saja. Kakek jualan di Pasar Kosambi sejak tahun 1954, dulu belum gini, tampilanya pasar tradisional,

Rahmat mengisahkan, sebelum dirinya meneruskan usaha keluarga, bisnis beras itu lebih dulu dilanjutkan oleh sang ayah, H Mustofa, pada 1994.

Kala itu, tampilan Pasar Kosambi belum seperti sekarang. Perubahan besar terjadi setelah pasar ini beberapa kali dilanda kebakaran.

Meski beras merupakan bahan pokok yang selalu dicari, Rahmat mengaku telah merasakan pahit dan manisnya berjualan di pasar tradisional.

“Saya bantu tahun 1990-an, saya merasakan masa jaya pas usaha dipegang ayah dan ibu, apalagi pas krismon jaya langsung, alhamdullilah,” ujarnya.

Menurut Rahmat, perbedaan Pasar Kosambi dulu dan sekarang juga terlihat dari penataan pedagang. Dahulu, pembagian jenis dagangan sangat jelas, hanya dipisahkan antara lantai satu dan lantai dua.

0 Komentar