Kedatangan ke pasar ini bukan semata untuk berbelanja kebutuhan pokok, melainkan juga sebagai ajang rekreasi.”Macam-macam, semua kalangan, malah seperti tempat wisata, pokoknya sebelum 2000, pasar ramai,” tuturnya.
“Segala ada, lengkap, kuliner banyak, Nama Kosambi menasional, legend, walaupun ada Pasar Baru tapi tetap Pasar Kosambi legend,” ujarnya.
Menurut Rahmat, kawasan Kosambi juga dikenal dengan kuliner dan pusat perdagangan yang legendaris. Hal itu membuat nama Pasar Kosambi dikenal luas, tak hanya oleh warga Bandung.
Baca Juga:Kronologis Meninggalnya Lula Lahfah, Sempat Curhat Takut dengan SakitnyaRekomendasi Bebek Lezat di Kuningan, Pas Buat Kantong Pelajar
“Selain pasar, ada Roti Cipta Rasa, terus Resko, penjual daging sapi AN Soestrisna yang kini dilanjutkan generasi berikutnya, Kosambi punya itu, pokonya se Bandung terkenal,” paparnya.
Jualan Daging Sapi Lewat Radio
Jauh sebelum era digital seperti sekarang, pedagang Pasar Kosambi sudah memanfaatkan media massa untuk promosi.
Salah satunya dilakukan oleh penjual daging sapi AN Soetrisna, yang kala itu memasang iklan melalui radio.
Media berkesempatan mengunjungi kios daging sapi AN Soetrisna yang kini diteruskan oleh anaknya. Yana (51), anak bungsu dari AN Soetrisna, mengisahkan perjalanan usaha keluarga tersebut.
“AN Soetrisna, AN itu Ajun Nana dan Soetrisna merupakan merk dagang. AN Soetrisna sudah berjualan sebelum tahun 1970 dan meninggal pada tahun 1989. Lalu diteruskan ibu Yayah Rokayah dan anaknya, meninggal pas COVID-19 tahun 2020. Anak bapak ada tujuhm sekarang diteruskan saya, tapi yang bantu keluarga,” kata Yana yang merupakan keturunan Garut.
“Bentuk iklannya itu dongeng, disisipkan iklan, penyiarnya Tisna Suntara, orang Bandung pasti tahu. Sudah kepikiran sejak dulu promosi, tapi kan radio sedang booming dulu,” ujarnya.
Kini, kondisi usaha daging sapi pun tak lagi sama seperti dahulu.
Baca Juga:Demo PPPK Paruh Waktu di Sukabumi Mendadak Batal, Muncul Spanduk Penolakan Demo Depan PendopoSiasat Memoles Pantai Batuhiu Lebih Nyaman, Bebaskan dari Menjamurnya Pedagang Kaki 5
“Jauh banget dari perekonomian, dulu kita motong sehari dua ekor. Kalau sekarang kita beli daging yang siap jual enggak motong, ambil ke Ciroyom atau ambil ke teman,” pungkasnya.
MUAMMAR QADDAFI
