Ada Chef Perancis di Dapur Darurat Korban Longsor Cisarua, Sulap Bahan Sederhana jadi Menu Spesial.

Ada Chef Perancis di Dapur Darurat Korban Longsor Cisarua
David Cailleba, pria asal Perancis yang lebih dikenal jagat maya dengan akun @Buletukangmasak tengah memasak di dapur umum bencana longsor Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (28/1/2026).
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO – Di tengah riuhnya hilir mudik relawan dan sisa-sisa tanah merah yang masih basah di Desa Pasirlangu, sebuah aroma sedap menyeruak dari area SDN 1 Pasirlangu. Bukan sekedar bau masakan instan, melainkan aroma tumisan bumbu yang digarap dengan teknik profesional.

Di balik uap panas wajan raksasa, tampak sesosok pria asing dengan cekatan memotong sayuran.

Dia adalah David Cailleba, pria asal Perancis yang lebih dikenal jagat maya dengan akun @Buletukangmasak.

Baca Juga:Belanja Warga Pangandaran untuk Beli Roko Lebih Besar Ketimbang MakananKreator Konten Sewa Pacar di Tasikmalaya Resmi Jadi Tersangka

Dia dengan santai berjibaku di dapur umum bencana longsor Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (28/1/2026).

Langkah kaki David sampai ke Pasirlangu diakuinya sebagai sebuah garis tangan.

“Saya ke sini karena takdir Allah SWT,” katanya sambil melempar senyum.

Sebuah undangan di grup whatsapp komunitas Indonesian Chef Association (ICA) menjadi pemantiknya. Tanpa pikir panjang, pria yang kini menetap di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, langsung tancap gas menuju lokasi.

Menariknya, David menyelipkan bumbu humor dalam aksi kemanusiannya.

Saat ditanya alasan utama hadir di Pasirlangu, dia berkelakar bahwa ini cara agar dirinya tak mengganggu sang istri di rumah, karena sedang tak ada jadwal memasak.

“Daripada saya tak berbuat apa-apa, ya lebih baik ke sini. Setidaknya saya bisa memberikan bantuan tenaga untuk masyarakat dengan membuatkan makanan yang halal dan baik,” ujarnya rendah hati.

Jangan bayangkan menu dapur umum yang membosankan. Di tangan David dan rekan-rekan ICA, bahan-bahan sederhana seperti kol, wortel, jagung, dan sawi disulap menjadi hidangan kelas atas.

Baca Juga:Seteru Teddy dan Sule soal Hak Waris Bintang Belum Temui Titik TerangLagi Musim Durian Ni, Yuk! Mengenal Ragam Durian Lokal Unggulan Nusantara

Sapi lada hitam, mi goreng sosis sampai ayam goreng menjadi menu andalan yang dibagikan ke warga.

Meski memiliki latar belakang kuliner barat, David sangat memahami lidah dan kondisi pengungsi. Dia memiliki aturan khusus, semisal membatasi cabai.

“Saya masak makanan yang sehat saja. Jangan terlalu banyak cabai, saya khawatir nanti masyarakat banyak yang harus antre ke toilet,” katanya tertawa, menunjukkan kepeduliannya yang detail terhadap kondisi sanitasi di pengungsian.

Setiap harinya, David bersama tim menyiapkan sekitar 700 paket makanan untuk tiga kali waktu makan. Jika ditotal, ribuan perut warga telah merasakan sentuhan tangan dingin sang koki Perancis ini.

0 Komentar