PASUNDANEKSPRES.CO – Konsumsi rokok dan minuman beralkohol masyarakat Kabupaten Pangandaran tercatat lebih tinggi dibandingkan belanja ikan dan telur.
Kondisi ini mencerminkan adanya kecenderungan prioritas pengeluaran tertentu dalam kelompok konsumsi makanan masyarakat setempat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pangandaran dalam laporan Kabupaten Pangandaran dalam Angka 2025, rokok dan minuman beralkohol diklasifikasikan ke dalam kelompok pengeluaran makanan.
Baca Juga:Menikmati Cuanki Berkah Makmur Tambun, Cuma Rp7 Ribu Kenyang!Masih Ingat Resbob? Tersangka Kasus Penghinaan Suku Sunda dan Viking ini Segera Jadi Terdakwa
Menariknya, alokasi belanja untuk kategori tersebut justru melampaui pengeluaran untuk sumber pangan bergizi seperti ayam, telur, dan ikan.
Meski demikian, secara umum BPS mencatat bahwa total pengeluaran penduduk Pangandaran untuk konsumsi makanan masih lebih besar dibandingkan pengeluaran non-makanan.
Struktur Pengeluaran Warga Pangandaran
Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk Kabupaten Pangandaran pada 2024 tercatat sebesar Rp1.367.729. Dari jumlah tersebut, pengeluaran untuk kelompok makanan mencapai Rp809.992 atau 59,22 persen, sedangkan pengeluaran non-makanan sebesar Rp557.738 atau 40,78 persen.
Jika dibandingkan dengan tahun 2023, proporsi pengeluaran untuk makanan mengalami peningkatan. Pada 2023, pengeluaran makanan tercatat sebesar 55,72 persen, lalu naik menjadi 59,22 persen pada 2024.
Pada kelompok makanan tahun 2024, pengeluaran terbesar dialokasikan untuk makanan dan minuman jadi sebesar 15,56 persen, diikuti kelompok kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran sebesar 10,51 persen, serta padi-padian dan umbi-umbian sebesar 9,59 persen.
Sementara itu, pengeluaran untuk kelompok ikan, daging, telur, dan susu hanya mencapai 8,76 persen, lebih rendah dibandingkan pengeluaran untuk rokok dan tembakau yang mencapai 9,20 persen. Pada 2023, proporsi belanja rokok dan tembakau tercatat sebesar 8,81 persen dan meningkat pada 2024.
Pengeluaran Non-Makanan
Pada kelompok non-makanan tahun 2024, pengeluaran terbesar dialokasikan untuk perumahan, bahan bakar, penerangan, dan air dengan kontribusi 21,45 persen dari total pengeluaran. Sebaliknya, pengeluaran paling kecil terdapat pada keperluan pesta dan upacara adat yang hanya mencapai 1,13 persen.
Baca Juga:Raffi Ahmad Nyumbang Rp 1 Miliar untuk Korban Longsor CisaruaKecurigaan Tak Mendasar, Penjual Es Kue Jadul Diduga Berbahan Spons, Penuduh Minta Maaf
Jika dibandingkan dengan tahun 2023, proporsi pengeluaran non-makanan secara keseluruhan mengalami penurunan. Pada 2023, pengeluaran non-makanan tercatat sebesar 23,28 persen, sedangkan pada 2024 tercatat sebesar 40,78 persen seiring meningkatnya total nilai pengeluaran masyarakat.
Pengeluaran untuk aneka barang dan jasa, biaya pendidikan, serta kesehatan tergolong relatif rendah. Pada 2023, kelompok ini menyumbang 9,03 persen dari total pengeluaran, kemudian menurun menjadi 8,82 persen pada 2024. Pengeluaran untuk pakaian dan alas kaki tercatat sebesar 2,80 persen pada 2023 dan turun menjadi 2,46 persen pada 2024.
