“Pesantren kita itu adalah pesantren yang mandiri. Kami disini jadi terbiasa memasak sendiri, mencuci sendiri bereng teman-teman. Kami juga untuk bahan baku makanan hampir tidak pernah untuk beli, biasanya mencari bahan baku sendiri di kebun yang kita kelola. Oleh karena itu pesantren kita menyiapkan makanan-makanan yang bermutu, makanan-makanan yang sehat dan bergezi untuk seluruh santri, apalagi di bulan puasa gini, makanannya harus yang bergizi,” kata Devi.
Menariknya, seluruh proses pendidikan di pesantren ini dijalankan tanpa memungut biaya. Mayoritas santri berasal dari kalangan kurang mampu, yatim piatu, hingga anak-anak yang sebelumnya hidup di jalanan. Dengan mengelola pangan secara mandiri, pesantren mampu menekan biaya operasional, terutama kebutuhan makan santri yang sepenuhnya ditanggung oleh pengelola.
Pengasuh Pondok Pesantren, Muhammad Abdul Mukmin, menjelaskan bahwa pesantren ini berdiri atas kepedulian terhadap kondisi moral dan sosial generasi muda.
Baca Juga:Alasan Dedi Mulyadi Ajukan Pinjaman Daerah Rp 2 Triliun, Ungkap Rincian Penggunaan DanaKonflik Timur Tengah Memanas, Pemerintah Didesak Memediasi Masalah Asuransi dan Hotel di Tanah Suci
“Selain pembinaan keagamaan, para santri diberdayakan di bidang pertanian dan peternakan agar kelak memiliki keahlian saat kembali ke masyarakat. Seluruh kebutuhan dasar, mulai dari makan, listrik, hingga air, disediakan secara penuh tanpa target pungutan dari orang tua santri,” kata Mukmin.
Konsep pembelajaran seperti ini, kata dia, dinilai inspiratif karena menyentuh sisi kemanusiaan. Santri tidak hanya dibentuk secara spiritual, tetapi juga dipersiapkan menjadi pribadi mandiri yang siap berkontribusi secara nyata.
“Diharapkan, lulusan pesantren ini kelak mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat, menggerakkan ekonomi lokal, menularkan semangat kemandirian, sekaligus menjadi teladan dalam membangun ketahanan pangan dari lingkungan pendidikan pesantren,” harap Mukmin.
RENDIKA MARFIANSYAH.
