PASUNDANEKSPRES.CO – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali melakukan inspeksi dadakan atau sidak.
Kali ini, Gubernur Jabar yang akrab disapa KDM itu sidak ke salah satu SMA Negeri di Subang, Jawa Barat.
Dalam kunjunginya itu, Dedi Mulyadi ngamuk dan sempat debat panas dengan kepala sekolah (Kepsek) mengenai kebersihan lingkungan pendidikan.
Baca Juga:Hasil Playoff Piala Dunia 2026: Italia Tersingkir, Swedia dan Turki Lolos!Update Ranking FIFA Rabu: Peringkat Timnas Indonesia Turun Lagi, Ini Penyebabnya
Sebelum debat dengan Kepsek, Dedi Mulyadi juga dibuat marah saat menemukan kondisi sekolah yang dinilainya tidak mencerminkan spirit pendidikan.
Kemarahan KDM bermula saat ia mendapati seorang petugas di pos jaga sedang asyik bermain ponsel di jam kerja.
Lalu, Dedi Mulyadi mempertanyakan estetika dan kelayakan pos tersebut yang dianggapnya sangat tidak pantas untuk sebuah lembaga pendidikan.
Mulai dari sajadah yang kotor, pakaian menggantung di dinding hingga furnitur lama yang berantakan.
“Menurut bapak pantas gak ini pos?,” tegur Dedi Mulyadi.
Meski dikritik dan ditegur, Dedi Mulyadi memberikan uang tunai sebesar Rp500.000 agar petugas tersebut membeli cat berkualitas tinggi, meja baru, serta bantal agar ruangan menjadi terang dan bersih.
Tak sampai di sana, lalu Dedi Mulyadi dihampiri sang Kepsek yang berupaya mengklarifikasi.
Debat pun terjadi karena sang Kepsek menimpali dan menyanggah teguran Dedi Mulyadi.
Gubernur Jabar itu sampai berseloroh agar Kepsek tersebut tak membantahnya.
Baca Juga:KDM Potong Jalur Panjang Pengajuan Program Renovasi Rumah, Bantuan Segera Bisa Diakses OnlineBahlil Ngaku Mantan Sopir Angkot, Isi BBM 50 Liter per Hari Tangki Sudah Penuh
Ia meminta agar Kepsek itu seharusnya mengakui kesalahannya dan setuju akan kebersihan sekolahnya yang dinilai kumuh.
“Udah pak jangan dibantah pak. Jangan suka nyanggah, akui sebuah kesalahan, kalau kumuh ya kumuh,” ujar Dedi Mulyadi menegur.
Kemudian Dedi pun menegaskan bahwa tujuan menegur itu bermaksud untuk membenahi.
Dedi juga menegur Kepsek terkait minimnya inisiatif kebersihan.
Ia menyentil sang Kepsek yang sudah menjabat selama empat tahun namun membiarkan lingkungan sekolah terlihat kumuh dan berantakan.
Dedi Mulyadi bahkan membeberkan fakta bahwa dirinya sendirilah yang selama ini turun tangan membersihkan halte dan halaman di depan sekolah karena tidak adanya aksi dari pihak internal.
“Sekolah itu harus jadi pelopor kebersihan. Pendidikan output-nya bukan hanya akademis, tapi orang-orang yang peka terhadap lingkungan,” tegas Dedi Mulyadi saat membantah pembelaan diri sang Kepsek.
