Memaknai Sila Pertama KETUHANAN YANG MAHA ESA Nurhadi dan Sofyan Tsauri Bagian Ketiga Belas

Seri Belajar Filsafat Pancasila 20

Oleh: Kang Marbawi

Salam sejahtera untuk saudara-saudaraku sebangsa setanah air.
Dalam diskusi ini, penulis akan menyampaikan hasil pengalaman dari sebuah sekolah dalam memerangi paham radikal agar siswa sekolah tersebut terpapar paham yang tidak mengakui adanya perbedaan atau intoleransi. Dari sana, terdapat nilai-nilai yang dapat kita petik dari kisah berikut ini.

Nurhadi, kepala SMK di Kota Tangerang Selatan, selama ini menganggap biasa saja terkait kegiatan dan aktivitas Rohani Islam (Rohis) di sekolahnya. Hingga satu saat diantara siswanya terlihat gejala pemikiran yang berbeda dengan yang lain dalam menjalankan agama yang dianutnya. Siswa tersebut, menganggap berhubungan atau berinteraksi dengan yang berbeda agama akan merusak akidah. Bahkan siswa tersebut mulai bersikap intoleran dengan temannya yang berbeda paham dengan dirinya.
Nurhadi pun dibuat pusing dengan kondisi siswa ini. Sebab ketika siswa tersebut diajak untuk berdiskusi, siswa tersebut “keukeuh” dengan pemahaman “keras”nya tentang pandangannya kepada orang yang berbeda.

Selama ini, menurut Nurhadi, kegiatan Rohis relatif banyak diserahkan kepada mentor-mentor, tanpa pengawasan dan pembinaan dari pihak sekolah. Sehingga dirinya tidak dapat mengawasi isu-isu apa saja yang sering didiskusikan dalam kegiatan Rohis.

Hingga datang Sofyan Tsauri. Mantan teroris yang telah insaf ini berdiskusi dengan siswa dan membeberkan awal pengalamannya terpengaruh oleh paham radikal teroris. Sofyan Tsauri juga menjelaskan pemahaman salah yang dulu dianutnya, terkait makna jihad, khilafah dan sikap menganggap pemerintah dan antek-anteknya sebagai thoghut yang halal untuk diperangi.

Kehadiran Sofyan Tsauri di sekolah Nurhadi ini difasilitasi oleh organisasi Guru Agama Islam. Kehadiran Sofyan di sekolah untuk berdialog dengan siswa -khususnya aktivis Rohis, memberikan dampak yang besar terhadap perubahan pemahaman para siswa dan aktivis Rohis tentang bahaya pemahaman radikal teroris. Siswa mendapatkan role model yang tepat dan otoritatif terkait bahaya pemahaman radikal teroris dari mantan teroris langsung.

Mantan teroris yang bergabung dengan jaringan Al-Qaeda sejak tahun 2002 ini menceritakan bagaimana awal mula kiprahnya terjerat paham sesat teroris. Pengajian yang diikutinya dulu, cendrung banyak menyalahkan pemerintah dan menafsirkan ajaran agama hanya secara tekstual. Pengajiannya juga mengajak untuk berjihad dengan memerangi orang yang berbeda dan pemerintah yang dianggap thoghut.

Pertanyaannya apakah benar agama mengajarkan paham atau ajaran kekerasan seperti yang dianut Sofyan Tsauri sebelum insaf?

Tentu jawabannya: tidak! Tidak satu pun ajaran agama mengajarkan kekerasan. Pemahaman yang salah terkait makna jihad telah menjadikan penganut agama mengggunakan kekerasan untuk membela agama. Sudut pandang yang sempit, bacaan yang miskin terkait tafsir ayat-ayat, atau teks kitab suci menjadikan pemahaman pemeluk agama terbatas. Kelindan berupa wawasan keagamaan yang sempit, mentor (guru) yang mengajarkan pahaman keagamaan yang salah dan sistem pendidikan yang tidak menghadirkan perbedaan menyuburkan paham keagamaan radikal dan kekerasan atas nama agama.

Pemahaman agama yang sempit menjadi tantangan bagi sila pertama Pancasila. Nilai-nilai sila pertama dan ajaran agama memiliki kesesuaian atau compatibilitas. Salah satunya adalah menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Pemaknaan jihad yang sempit hanya memerangi orang yang berbeda dan dianggap thoghut merupakan pemahaman yang jelas salah. Membela agama dengan cara melanggar nilai-nilai kemanusiaan jelas bukan ajaran agama apapun.

Sila pertama berkaitan dengan nilai kemanusiaan pada sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Agama adalah nilai Ketuhanan yang bertumpu pada nilai kemanusiaan. Agama hadir untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Jangan jadikan agama untuk membenarkan tindakan mereduksi nilai kemanusiaan. Sementara paham kekerasan atas nama agama sudah mulai meracuni sekolah sebagaimana dialami siswa Pak Nurhadi.
Mari kita renungkan.

Salam, Kang Marbawi.