Seri Belajar Filsafat Pancasila 11

Memaknai Sila Pertama
“KETUHANAN YANG MAHA ESA”
“Landasan Teologis Sila ke 3”
Bagian Keempat

Oleh: Kang Marbawi

Salam untuk semua saudara sebangsa setanah air, dari berbagai suku, agama, etnis, budaya, kepercayaan dan warna kulit apapun. Kita adalah suadara sebangsa dan setanah air. Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia.

Minggu yang lalu kita telah mendiskusikan tentang sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah bertumpu kepada nilai-nilai kemanusiaan. Keimanan kita harus tercermin dalam penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Keimanan kita kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa, tercermin dalam keadaban perilaku kita sehari-hari. Keadaban individu adalah perilaku, sikap, pemikiran yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan dilandasi oleh keimanan individu kepada Tuhannya. Itulah cerminan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan yang menjiwai Kemanusiaan yang Adil Beradab.

Nah,bagian dari keyakinan terhadap Allah, Tuhan Yang Maha Esa juga tercermin dalam keyakinan untuk menjaga Indonesia tetap utuh. Sila Persatuan Indonesia tidak akan tumbuh kembang jika rakyat Indonesia tidak memiliki kesadaran teologis, Sila Pertama.

Kenapa sila pertama menjadi landasan teologis Sila Persatuan Indonesia?
Berketuhanan yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan menjadi landasan dari Sila Persatuan Indonesia. Orang Indonesia yang otentik -baca mencintai Indonesia seutuhnya, adalah orang Indonesia yang bangga dengan ke-Indonesiaannya. Bangga dengan segala apa yang ada di alam raya Indonesia. Suku, budaya, agama, kepulauan, bahasa, dan segala kekurangan dan kelebihan Indonesia.

Manusi Indonesia yang otentik adalah orang yang memahami bahwa dengan mencintai Indonesia, Persatuan Indonesia harus tercermin dalam tindakan. Kecintaan kepada keragaman Indonesia yang menyatukan itu dilandasai oleh nilai-nilai teologis agama. Dibuktikan dengan dengan kesediaan untuk menerima perbedaan agama, paham, cara beribadah, dan berkeyakinan. Karena menerima keragaman dan perbedaan yang dilandasi nilai-nilai agama akan memberikan kekuatan. “Hubbul wathan min al-iman”. Mencintai tanah air itu sebagian dari Iman. Dan hal tersebut -cinta tanah air, diwujudkan dalam kerelaan untuk menjaga Persatuan Indonesia.

Persatuan Indonesia harus terwujud dalam penerimaan kita akan hak semua agama dan kepercayaan untuk beribadah dan berkeyakinan. Termasuk dalam hal pembangunan tempat ibadah. Walau kadang sila pertama ini, tertutup oleh arogansi sekelompok orang yang mengatasnamakan mayoritas yang memaksakan keinginannya. Keinginan yang dimanisfestasikan dalam penolakan terhadap kelompok lain yang berbeda paham, keyakinan, agama dan kepercayaan.

Sila pertama ini menjadi dasar Persatuan Indonesia. Sebab persatuan tidak akan pernah hadir jika seseorang tidak memahami bahwa keragaman adalah “sunnatullah”. Bahwa Allah menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Silahkan buka Q.S. Al-Hujurat ayat 13. Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa penciptaan manusia itu tidak satu kelompok. Manusia itu bermacam bangsanya, sukunya, bahasanya, warna kulitnya, agamanya, budayanya, keyakinannya, hingga kepentingannya.

Namun semua itu -baca keragaman, justru harus menjadi alat untuk menyatukan dengan cara saling mengenal dan memahami. Berketuhanan yang menyatukan perbedaan. Namun tetap teguh pada aqidah masing-masing agama. Inilah yang menjadikan sila pertama menjadi landsaan teologis sila ke 3.

Demikian, semoga bermanfaat. Mari kita diskusikan dan semoga bermanfaat. Wallahualam bishawab.. Afwan Salam Kang Marbawi.