Dampak Karhutla 2019 dan Esensi Khalifah di Bumi

Dampak Karhutla 2019 dan Esensi Khalifah di Bumi
ilustrasi.
0 Komentar

Penulis:

1.Drs.Priyono,MSi, (Dosen dan wakil dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
2.Rhojian Noor, (Mahasiswa semester I, peserta kuliah Demografi Fakultas Geografi UMS)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2019 di berbagai wilayah di Indonesia terus terjadi. Efek dari kebakaran cukup banyak dan luas, juga memiliki dampak terhadap berbagai aspek yang signifikan, dan juga lingkungan kota terdekat maupun negara tetangga. Hampir dapat dipastikan dampaknya akan meluas karena peran angin yang membawa asap kemana arah angin bertiup sehingga disamping mengganggu lingkungan, aktivitas ekonomi perdagangan, social masyarakat, kesehatan dan termasuk penerbangan .

“Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat luas karhutla dari Januari hingga September 2019 sebesar 857.756 ha dengan rincian lahan mineral 630.451 ha dan gambut 227.304 ha,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Agus Wibowo, dalam keterangannya, Selasa (22/10/2019). Data kebakaran yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia di Kalimantan Tengah (Kalteng) seluas 134.227 ha lahan terbakar, di Kalimanan Barat (Kalbar) lahan terbakar seluas 127.462 ha, dan di Kalimantan Selatan (Kalsel) seluas 113.454 ha. Wilayah kebakaran terdapat juga di Riau 75.871 ha lahan terbakar, di Sumatera Selatan (Sumsel) 52.716 ha dan Jambi 39.638 ha.

Baca Juga:Meledak, Pom Mini Terbakar di Jalan Kapten Halim PurwakartaInfrastruktur Jalan Mencengangkan, Bangunan Sekolah Memprihatinkan

Kebakaran hutan ini menyebabkan meningkatnya polusi udara yang terkontaminasi asap. Berdasarkan buku Lindungi Diri dari Bencana Kabut Asap yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, asap dalam kebakaran hutan mengandung zat berbahaya untuk kesehatan. Berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), ada lima kandungan berbahaya dalam asap kebakaran hutan, yakni Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), dan Ozon Permukaan (O3). Dampak asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tidak hanya dirasakan di dalam negeri daerah tempat terjadinya kebakaran Sumatra dan Kalimantan, tetapi juga dampaknya hingga Malaysia dan Singapura.

Kondisi ini sangat merugikan berbagai pihak di dalam negeri maupun di luar negeri. Kebakaran hutan dan lahan ini mengakibatkan asap yang tebal dan terganggunya aktivitas masyarakat seperti transportasi dan mobilisasi karena jarak pandangan terhambat atau iritasi langsung pada mata, selain itu berdampak juga bagi kesehatan masyarakat seperti pneumonia dan ISPA. Tidak hanya masyarakat merasakan dampaknya tetapi juga rusaknya ekosistem dan habitat flora dan fauna yang ada di wilayah kebakaran tersebut. Terdapat korban jiwa akibat kebakaran ini dikabarkan, seorang bayi empat bulan meninggal dunia diduga akibat terpapar kabut asap. Bayi itu berasal dari Desa Talang Buluh, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin. Dari hasil pemeriksaan medis, bayi tersebut didiagnosa pneumonia. Tidak hanya manusia, binatang pun menjadi korban dari keganasan kebakaran hutan. Terdapat satwa yang dilindungi terbakar hidup-hidup.

0 Komentar