36 Nyawa Melayang di Jalur Ciater Sepanjang 2018-2020

RUSAK PARAH. Bus Pariwisata Purnamasari dengan Nomor polisi E 7508 W rusak parah akibat terguling dalam kecelakaan tunggal di tikungan Nagrog, Ciater, Sabtu (18/1) lalu. Sebanyak 8 penumpang tewas di lokasi kejadian. YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Kecelakaan lalu lintas di jalur Ciater, khususnya di tanjakan Cicenang menjadi perhatian serius pihak kepolisian. Untuk kasus yang terbaru, 17 Januari lalu yang menewaskan 8 orang tewas, polisi menyebutnya sebagai kecelakaan menonjol (lakajol).

Kepala Satuan Lalu lintas Polres Subang AKP Bambang Sumitro SH mengatakan, kecelakaan yang kerap terjadi di jalur selatan Kabupaten Subang khususnya di jalur Ciater-Cicenang disebabkan karena median jalan yang cukup ekstrim, menanjak dan menurun dengan tikungan yang tajam.

“Jika diperhatikan sudah ada bed arrester (lajur penyelamat) di sana. Namun memang kecelakaan yangterjadi banyak didominasi oleh human eror ataupun kendaraan yang tak laik jalan,” ujarnya, Kamis (23/1).

Ia merinci, sepanjang tahun 2018 hingga 2020 terjadi beberapa kecelakaan. Di antaranya pada 10 Februrari 2018 terjadi kecelakaan bus pariwisata dari Tangerang yang terguling dan mengakibatkan 27 orang tewas. Bus membawa rombongan warga tangerang.

Sedangkan pada tanggal 30 April 2019 terjadi lagi kecelakaan bus pariwisata yang membawa rombongan puluhan siswa SMK yang menyebabkan 2 orang siswa terluka. Kemudian terjadi kecelakaan truk boks terguling pada 10 September 2019 yang menewaskan 1 orang. Terakhir pada tanggal 17 Januari 2020 bus pariwisata terguling menyebabkan 8 orang tewas.

“Kecelakaan yang menonjol tersebut di daerah Cicenang-Ciater didominasi kecelakaan tunggal, menabrak atau terguling. Hal tersebut dikarenakan rem blong atau human eror (ngantuk). Jika dihitung sudah puluhan jiwa melayang. Belum lagi kecelakaan biasa,” tandasnya.

Dijelaskan Bambang, kebanyakan kecelakaan yang terjadi di jalur tersebut ketika kendaraan dari arah Bandung menuju Subang. Maka ia menyarankan agar memeriksa dulu kondisi laik kendaraannya. “Jika memang kurang laik, maka lebih baik diperbaiki terlebih dahulu. Seingga bisa meminimalisir kecelakaan,” ujar Bambang.

Sebenarnya kata Bambang, rambu-rambu sudah dipasang agar para pengendara bisa sadar, jangan memacu kecepatan, memindahhkan perseneling dan lainnya. Termasuk dipasang imbauan agar berhati- hati ketika melintasi jalur tersebut. “Sudah banyak rambu, imbauan dan lainnya, namun tetap balik lagi kepada pengendaranya,” sambungnya.

Sementara Bupati Subang H Ruhimat menyatakan turut berduka atas peristiwa kecelakaan di Ciater yang menewaskan 8 orang rombongan dari Depok. Hal tersebut menjadi pembahasan dan mengupayakan agar kecelakaan serupa tidak terulang. Di antaranya dengan meningkatkan kembali operasi tonase kendaraan untuk bis dan kendaraan berat.

Sementara itu pengendara Subang, Rianto (34) mengaku sudah melihat banyak digelar istighosah karena jalur terebut sering terjadi kecelakaan. “Mudah-mudahan tidak ada lagi kecelakaan yang menelan korban, jika dilihat hampir tiap tahun jalur tersebut meminta nyawa,” pungkasnya.

10 Februari 2018
Kendaraan : Bus Pariwisata terguling
Korban : 27 orang tewas

30 April 2019
Kendaraan : Bus Pariwisata terpersok

Korban : 2 Siswa SMK terluka

10 September 2019
Kendaraan : Truk Boks terguling
Korban : 1 orang tewas

17 Januari 2020
Kendaraan : Bus Pariwisata terguling
Korban : 8 orang tewas. (ygo/man)

BACA JUGA:  Ayah dan Anak Tewas Tenggelam