Asep Kurnia Muhtar, Dongkrak Ekonomi melalui Budidaya Minyak Atsiri

TRAINING BUDIDAYA: Caleg PPP Nomor 6 Asep Kurnia Muhtar mencoba menggali potensi ekonomi rakyat melalui budidaya tanaman atsiri. VERRY KUSWANDI/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Guna menggali potensi ekonomi kerakyatan, Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Nomor urut 6, Asep Kurnia Muhtar mengajak masyarakat membudidayakan tanaman atsiri. Niatnya mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, dengan harapan bisa membuat sebuah perubahan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, dengan cara budidaya tanaman dan minyak atsiri.

Kita bina mulai dari teknik tata cara budidaya, melalui program training budidaya minyak atsiri. Warga kita kumpulkan, dikasih penjelasan tentang wawasan minyak atsiri,” kata Asep warga Desa Cipancar Kecamatan Serangpanjang.

Pada program traini, Asep menuturkan, yang pertama apa yang dimaksud dengan minyak atsiri. Selanjutnya dijelaskan bagaimana cara menanam budidaya minyak atsiri, jenis sereh wangi. Ketiga analisa usaha minyak atsiri, sehingga masyarakat bisa merubah ekonomi.

“Asumsi misalnya dengan jarak tanam 1 x 1 meter, dalam 1 hektare, maka akan tertanam 10.000 lubang. Kita tanam 2 batang sereh wangi per lubang. Dengan pendapatan misalnya rata-rata 2 kilo per satu rumpun, maka sekitar 20 ton bahan baku yang didapat oleh petani,” jelasnya.

Dari 20 ton bahan baku tersebut, Asep melanjutkan, dengan dengan asumsi seharga Rp1.000, maka petani akan mendapatkan sekitar Rp20 juta per hektare awal pertama 6 bulan. Selanjutnya per 3 bulan selama 7 sampai 8 tahun. “Minyak sereh yang dihasilkan dari dari 20 ton, rendemen untuk minyak atsiri rata-rata 0,8 sampai dengan 1 persen. Jadi ketika memproses 20 ton bahan baku minyak bahan baku sereh wangi, maka akan mendapatkan minyak sampai dengan 200 kilo minyak,” katanya.

Asumsi harga, kata Asep, sesuai dengan pasar daftar harga sekarang kurang lebih sekitar Rp 220.000. “Tinggal dikalikan saja, berarti kurang lebih sekitar Rp44 juta dari sekali panen,” katanya.

BACA JUGA:  Sanggar Nay Sunda Lahirkan Penari Profesioanal

Peluang untuk pasar minyak atsiri, Asep menuturkan, cukup lumayan terbuka dan luas. Menurutnya, kebutuhan minyak atsiri sampai saat ini baru 0,8 persen untuk bisa memenuhi kebutuhan tingkat dunia. “Apalagi sekarang di wilayah-wilayah kita terutama home industri yang mulai membuka usaha. Mulai dari jenis farmasi, farfum dan kosmetik mulai menjalar dan mendirikan usaha. Sehingga kita juga bisa membantu teman-teman kita yang membuka usaha di bidang itu, dengan cara mensurvei secara langsung,” tuturnya.

Peluang tersebut, kata dia, harga akan lebih tinggi perbedaannya, dengan cara menjual ke buyer. “Kita juga bisa membantu para pengrajin pengusaha baru, dia tidak usah terlalu ke Jakarta. Jadi kita bisa mengambil langsung dari kelompok tani daerah,” ujarnya.

Jika terpilih menjadi anggota legislatif, Asep akan memetakan satu kecamatan ada satu kelompok tani atsiri. Kemudian mengusulkan alat destilasi sebagai bentuk bantuan. “Bantuan dalam artian, cicilan bagi para kelompok. Jadi kita berharap, memberikan bantuan kepada masyarakat tidak memberikan ikan tetapi kalinya. Harapannya ke depan menjadi masyarakat yang mandiri dan tangguh,” ungkapnya.

Asep juga bertekat membangun Sumber Daya Manusia (SDM) atau karakter petani yang mandiri dan tangguh. Dalam kiprahnya sebagai pengusaha minyat atsiri, Asep mempraktikannya di daerahnya Kecamatan Serangpanjang. Menurutnya, Kecamatan Serangpanjang awal mula pengembangan. Kemudian Kecamatan Sagalaherang, selanjutnya wilayah Ciater, Jalancagak, Kasomalang, Cisalak dan Tanjungsiang. Bukan hanya di daerah Subang Selatan, Asep akan mengembangkan ke daerah lain seperti Kecamatan Cipeundeuy, Pusakanagara, Purwadadi dan Kalijati. “Dengan harapan ikut serta membantu perkembangan ekonomi masyarakat se-Kabupaten Subang. Itulah visi dan misi saya untuk membangun negeri,” tandasnya.(vry)