5 Penyakit yang Paling Banyak Dibiayai BPJS Kesehatan

5 Penyakit yang Paling Banyak Dibiayai BPJS Kesehatan (ilustrasi pelayanan kesehatan di rumah sakit)
5 Penyakit yang Paling Banyak Dibiayai BPJS Kesehatan (ilustrasi pelayanan kesehatan di rumah sakit)

KESEHATAN – Selama era pandemi Covid, Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan telah mencatat rangkuman biaya pertanggungan perawatan sejumlah penyakit katastropik.

Penyakit katastropik merupakan penyakit kronis dan tidak menular yang masuk ke dalam anggaran kesehatan.

Ada beberapa penyakit yang paling banyak dibiayai oleh BPJS Kesehatan yaitu penyakit jantung, kanker, dan stroke.

Walaupun angka pasien yang datang ke RS terbilang menurun pada tahun 2020 lataran pandemi Covid-19, akan tetapi, angka pasien kembali naik di tahun 2021 dan 2022.

Disamping itu, Bpjs Kesehatan juga membiayai skrining atau cek kesehatan.

Direktur Jaminan Pelayanan BPJS Kesehatan Lily Kresnowati memaparkan, pembiayaan untuk penyakit katastropik selama 2 tahun terakhir, masih didominasi oleh berbagai penyakit seperti di bawah ini:

5 Penyakit yang Paling Banyak Dibiayai BPJS Kesehatan

  1. Penyakit jantung,
  2. Kanker,
  3. Stroke,
  4. Gagal ginjal,
  5. Thalasemia.

Kelima peyakit tersebut masuk ke dalam 5 besar penyakit yang terbanyak dalam biaya kesehatan.

“Tahun 2021, penyakit katastropik yakni sebanyak 25 persen dari total pembiayaan seluruhnya,” terangnya dalam konferensi pers, Selasa (5/7) via Jawapos.

Sama hal nya pada tahun 2022, lanjutnya, tidak banyak perubahan berarti. Lima besar penyakit tersebut masih diduduki oleh penyakit yang sama.

“Tahun 2021, pembiayaan penyakit jantung menelan Rp 8,671 triliun, kanker Rp 3,5 triliun, stroke, 2,163 triliun, gagal ginjal Rp 1,78 triliun, dan thalasemia Rp 806 miliar,” jelasnya.

“Tahun 2022, pembiayaan untuk sampai Mei 2022 saja yakni sakit jantung Rp 4,3 triliun, kanker Rp 1,6 triliun, stroke Rp 1,1 triliun, dan gagal ginjal Rp 700 miliar karena membutuhkan cuci darah,” imbuhnya.

Menurutnya, semua pembiayaan tersebut masih paling banyak didominasi pada pelayanan primer yaitu 16 persen. Sisanya adalah sejumlah 84 persen untuk membiayai pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut.

“Makanya upaya kami saat ini adalah dengan memperkuat pelayanan primer di fasilitas kesehatan tingkat satu salah satunya memperkuat pelayanan skrining atau cek kesehatan sehingga tidak berujung ke fasilitas kesehatan rujukan,” pungkasnya. (Jni)