Ini Cerita Munaroh, Korban Selamat dari Kecelakaan Maut Bus Terguling di Kawasan Ciater

ANTAR JEMPUT: Total 34 mobil ambulan berangkat dari RSUD Kelas B menuju Kota Depok, membawa korban kecelakaan bus terguling.

Cuaca nampak cerah sore itu, tidak ada tanda-tanda hujan sedikitpun. Keadaan lalu lintas, seperti setiap akhir pekan, di wilayah jalur pariwisata memang selalu padat. Begitu juga arus lalu lintas di sekitar Jalan Raya Subang- Bandung, sekalipun padat namun tetap, laju setiap kendaraan nyaris tidak ada hambatan atau lancar.

INDRAWAN SETIADI, Subang

Di Pusat Kota Subang, akhir pekan yang biasanya ceria berubah menjadi mencekam. Bunyi sirine ambulan sejak berkumandang adzan magrib tidak berhenti hilir mudik. Suara itu semakin mengudara, meruang, sekaligus juga mengundang tanya, ada peristiwa apa?
Kecelakaan hebat rupanya telah terjadi di Kampung Nagrog, Desa Cisaat, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. Tepat di turunan Palasari, bus pariwisata PO Purnamasari dengan No Polisi E 7508 W mengalami rem blong. Kecelakaan tersebut menewaskan delapan orang penumpangnya, termasuk juga supir. Puluhan penumpang lainnya luka berat dan ringan, pada Sabtu sore, sekitar pukul 17.15 WIB, semua korban dievakuasi menuju Puskesmas Jalancagak dan RSUD Kelas B Subang.

Inilah cerita Muniroh (52), korban selamat sekaligus Ketua Rombongan Kader PKK juga Posyandu Kelurahan Bojong, Kecamatan Cipayung, Depok. Dia duduk percis di belakang sopir, dan secara sadar dia mengaku mengetahui percis bagaimana detik-detik kecelakaan maut itu terjadi. Muniroh dan rombongan barusaja berkunjung ke area wisata Gunung Tangkuban Perahu, mereka hendak akan pulang ke Depok, melalui Tol Cipali, tepat di kawasan Ciater, mobil berhenti.

“Bus sempat berhenti, tidak jauh dari lokasi kecelakaan. Supir dan kernetnya sempat memeriksa rem. Dari percakapan mereka saya percis mendengar kalau rem panas,” jelasnya saat ditemui di ruang IGD RSUD Ciereng Subang oleh Pasundan Ekspres.
Cerita Muniroh berlanjut, supir dan kernet bus memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hanya saja laju kendaraan tidak seperti biasanya, secara tiba-tiba melaju kencang. Awalnya Muniroh menduga laju kencang tersebut akibat dari keadaan jalur yang menurun. Ketika akan menikung, Muniroh semakin sadar bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja.

“Ketika menikung itu, kita penumpang semua yang ada di dalam sudah terdorong ke kanan. Tidak berselang lama, bus terguling dan terseret sampai ke bahu jalan sebelah kanan. Saya cepat ke luar bus, karena saya kira sebelah kanan itu jurang,” tambahnya.
Beruntung Muniroh hanya lecet di bagian kaki saja. Ketika dia sudah di luar, menyaksikan beberapa penumpang lainnya Muniroh mengaku sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dari mulutnya hanya istigfar yang dia bisa.

“Badan saya lemes aja seketika, cuma bisa istigfar,” tambahnya lagi.
hingga pukul 22.00 WIB, deru ambulan masih hilir musik ke luar masuk pelataran RSUD Ciereng Subang. Beberapa keluarga korban sebagian ada juga yang datang dari Depok, sedangkan rombongan Pemkot Depok, tiba dini hari dengan membawa 15 ambulan, sekitar pukul 07.00 WIB, hari Minggu (19/1) semua korban meninggal luka berat, luka ringan diberangkatkan ke Depok dari RSUD Ciereng Subang, dengan 15 ambulan milik Pemkot Depok, 19 ambulan dari Pemda Subang.(*/vry)

BACA JUGA:  Monumen Keselamatan Transportasi Udara Mulai Dibangun