Ketika Tsunami Meluluhlantakan Usaha Warga Sekitar Pantai Carita, Banten

CARI SISA HARTA: Mapinah tengah mencari sisa-sisa barangnya yang diterjang ombak di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (25/12). FIN

Hasil Tabungan 20 Tahun Hilang Dalam Semalam

Korban keganasan Tsunami Gunung Anak Krakatau tidak hanya menimbulkan korban jiwa. Musibah ini juga melenyapkan nadi ekonomi warga sekitar. Seperti nasib Mapinah, warga sekitar Pantai Carita, Banten ini harus merelakan usaha penginapannya menjadi puing akibat terjangan ombak dari Selat Sunda, Sabtu (22/12) lalu.

KHANIF LUTFI – Serang

Mapinah terlihat sibuk mengais tumpukan sisa-sisa perkakas di bekas penginapannya, Pesisir Pantai Carita, Kabupaten Serang. Piring, gelas, kasur dan beberapa barang lainnya dikumpulkan. Semuanya disatukan. Ada beberapa yang masih utuh, sisanya sudah koyak diterjang ombak.

Wanita 61 tahun ini beberapa kali meneteskan air mata. Ia tidak percaya, penginapan yang dibangun dari hasil tabunganya selama 20 tahun hancur menjadi puing-puing reruntuhan. Mapinah memulai usahanya sejak 1997 lalu. Berawal dari warung makan pinggiran. Keuntungannya dikumpulkan, dibangunnya penginapan sederhana. Mula-mula hanya menggunakan bilik dari bambu. Tapi lama kelamaan dibangunnya dengan bata. Atapnya, menggunakan asbes.

Totalnya ada tujuh kamar yang ia sewakan. Ia juga bisa menyicil mobil. Semuanya ia kumpulkan dari berkah laut Pantai Carita. Warung makannya bisa dibilang banyak pelanggan. Banyak sopir truk yang mampir di hari biasa. Di hari libur, omzetnya bisa nambah sampai dua kali lipat. Belum lagi dari penginapannya. Ada saja tamu yang menginap.

Tapi semuanya berubah. Setelah diterjang ombak tsunami, Sabtu (22/12) malam. Penginapannya rusak parah. Warungnya tak berbekas. Mobil kreditannya rusak, bahkan BPKBnya hilang. Harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun ludes hanya dalam sekejap.

Emak ngga percaya. Kemarin seharian cuma menangis. Syok, tidak percaya kalau usaha emak habis, kata wanita yang akrab disapa Pinah sambil mengangkat reruntuhan warungnya.

BACA JUGA:  Bencana Hidrometeorologi Ancam KBB, Waspadai Intensitas Hujan Tinggi

Di bantu suaminya, Kodri (65) sejumlah perkakas seperti piring, gelas, kasur, televisi, dan beberapa lemari dikumpulkan. Meski sudah tak layak, ia hanya memisahkan miliknya dengan barang orang lain agar tak tercampur.

Ia juga masih ingat, detik-detik saat warung dan penginapannya dihantam ombak. Ia dengan suami dan anak sulungnya sedang duduk di warung. Ada sekira empat orang pengunjung yang duduk. Sambil bersenda gurau, tak dikira, ombak setinggi hampir tiga meter tanpa permisi langsung menghantam warungnya.

Beruntung, Mapinah langsung dibopong lari Kodri. Meski sempat terjatuh, tak ada luka berarti, hanya lecet.Sedangkan empat pengunjung warungnya, langsung berhamburan menuju ke kamarnya. Beberapa membangunkan istri dan anaknya. Bahkan, beberapa barang pengunjung masih tertinggal di penginapan.
Malam kemaren emak langsung diantar ke rumah anak emak.

Sampe sore di sana. Emak nangis aja, khawatir dagangan sama penginapan, kata Pinah sambil menyeka air matanya.

Sesampainya di rumah anaknya, banyak pertanyaan yang diajukan. Tapi tak satu pun dijawab anaknya. Pinah hanya diminta istirahat dan tidur di kamar. Mungkin, anaknya khawatir jika Pinah malah nangis.

Pinah melanjutkan ceritanya, ia hampir lupa, jika ada tamu di penginapannya. Bahkan, tamunya belum bayar biaya penginapannya. Tapi emak ikhlas. Emak juga dapet kabar kalau semuanya selamet. Alhamdulillah, tambahnya.

Hari mulai sore, Pinah juga terlihat keletihan. Ia mulai duduk di bawah pohon sambil menyeka keringatnya. Matanya menatap jauh ke laut. Deburan ombak yang kencang tidak membuatnya takut. Ia hanya berharap jika semua ini hanya mimpi.

Sementara di Tangerang, Lurah Serua Kota Tangsel Cecep Iswandi masih sibuk memperhatikan layar smartphone-nya.

Sesekali pria yang menjabat Lurah Serua, Ciputat, Kota Tangsel ini menjawab telepon. Suaranya sedikit membentak, seperti meminta kejelasan dari data yang diteleponnya. Para keluarga korban yang mengerumuni kaget mendengarnya. Mereka kembali duduk setelah mengetahui jasad yang ditemukan bukan dari warga Serua. Anaknya sudah ketemu belum, saya sudah kirimkan ciri-cirinya? tanyanya di ujung telepon. Matanya sudah memerah. Sejak Minggu (23/12) pagi, ia sudah tidak tidur usai bencana Tsunami di Anyer.Minggu kemarin, ia baru mendapat info 16 warganya menjadi korban.

BACA JUGA:  Banyak Gedung Abaikan Antisipasi Kebakaran

Ada delapan warga Serua meninggal dunia. Tujuh orang selamat dengan kondisi luka berat. Sementara salah satu warganya yang bernama Adinda Putri Anisa (13) masih belum ditemukan. Gadis cilik yang masih menginjak bangku SMP ini dikabarkan hilang saat berwisata bersama rombongan keluarganya.

Cecep dengan sigap menelepon para relawan Kota Tangsel satu persatu. Saat mereka menemukan jasad, para relawan kembali menelepon Cecep mengonfirmasi kembali ciri-ciri sang anak tersebut. Sudah saya kirim fotonya lewat Whatsapp, coba cek lagi mas, apa ciri-cirinya di foto yang dikirim seperti anak itu, pintanya. Orang yang di ujung telepon lalu mengiyakan dan menjawab nihil. Bukan pak, kita cari lagi, ujar seseroang yang ditunjuk sebagai koordinator relawan.

Tak lama kemudian, Cecep menempelkan para data korban di atas papan informasi. Posko ini akan terus beroperasi hingga sepekan kemudian. Dalam data tersebut, delapan orang meninggal ditempel. Mereka adalah Siti Nuralfisyah (37), Nihlatuz Zahra (11), M. Zein (2), Afriani Syafitri (36), Watini (48),Beti Apridaningsih (52), Rumisi (44) dan Nida (16). Korbanya dua anak-anak, satu remaja dan lima dewasa, bebernya kepada Fajar Indonesia Network.

Cecep kembali membuka catatan pada korban selamat dalam keadaan luka dan masih dalam perawatan berjumlah 7 orang. Diantaranya Syaiful Abror (37) Luthfatunnisah (13), M. Ali Rido (4) Catra (35), Sudiro (53), Matori Rasmadi (46) dan Ilham (28). Ada satu balita yang terluka terseret ombak, beruntung berhasil diselamatkan,katanya.

Cecep mengaku bahwa sebenarnya posko akan terus didirikan dalam tiga hari kedepan. Namun, karena ada korban yang belum ditemukan, tenggat waktunya ditambah menjadi seminggu. Bagi warga Serua yang merasa keluarganya menjadi korban dan ingin mengetahui informasinya, dipersilahkan datang ke posko.”Proses untuk masuk datanya ke dalam posko ini sangat mudah, yang penting ada datanya dari korban. Langsung kami data sebagai informasi,” tandasnya. (*/fin/tgr)