KPK Telusuri Sumber Dana Suap Meikarta

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memanggil mantan Presiden Direktur Lippo Cikarang, Toto Bartholomeus. Toto dipanggil tim penyidik KPK untuk dimintai keterangan sebagai saksi terkait sumber dana suap perizinan proyek pembangunan Meikarta di Bekasi, Jawa Barat.

Toto diperiksa penyidik selama 12 jam. Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menerangkan, penyidik bermaksud mengklarifikasi sumber dana terhadap peran Toto pada dugaan suap tersebut.
“Kami klarifikasi dugaan peran yang bersangkutan tentang sumber uang suap tersebut,” kata Febri Diansyah di Jakarta, kemarin.

Pemeriksaan Toto sebagai saksi bagi tersangka sekaligus Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Sahat M Nahor, kata Febri, cukup beralasan. Kendati Toto sudah tidak menjabat sebagai petinggi Lippo. KPK menduga, Toto masih memiliki peran penting dalam perusahaan tersebut.
“Meskipun secara formil saksi tidak lagi menjabat sebagai Presdir, namun kami duga secara materil masih memiliki peran kuat di Lippo Group,” kata Febri.

Sementara itu, Toto keluar dari Gedung KPK sekitar pukul 22.25 WIB. Memakai setelan jas, Toto hanya melempar senyum kepada awak media. Ia enggan menjawab ketika ditanya mengenai pertanyaan penyidik yang dilontarkan kepadanya. “Maaf, saya capek,” ujarnya singkat.

Selain itu, Febri mengakui KPK telah mengantongi identitas sosok yang disebut dengan kode ‘Babe’ dan ‘Tina Toon’ dalam kasus tersebut. Kata Febri, kode-kode tersebut digunakan para terduga pihak yang terlibat dalam pembahasan perizinan pembangunan proyek Meikarta.

“Kami sudah mengetahui ‘Babe’ siapa, ‘Tina Toon’ siapa, beberapa lainnya juga sudah kami ketahui. Bukti yang dikumpulkan semakin kuat saat ini,” papar Febri.

Saat ditanya mengenai keterkaitan kode ‘Babe’ dengan tersangka sekaligus Direktur Operasional PT Lippo Cikarang Billy Sindoro, Febri enggan menjawab. Ia hanya menekankan, sosok yang berada di balik kode ‘Babe’ diduga sebagai penyuap yang berperan penting pada kasus ini.

“Orang berkode Babe ini salah satu pihak yang diduga pemberi, memiliki peran culup penting juga,” jelasnya.

Tak hanya ‘Babe’ dan ‘Tina Toon’, KPK juga berhasil mengungkap beberapa kode lain yang diduga digunakan pihak-pihak yang terlibat. Di antaranya ‘Melvin’, ‘Windu’, dan ‘Penyanyi’. Kode-kode ini terungkap dalam jumpa pers yang digelar KPK terkait kasus Meikarta beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, KPK telah menetapkan sembilan tersangka dalam kasus tersebut. Di antaranya, masing-masing Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, dua konsultan Lippo Group Taryadi dan Fitra Djaja Purnama, serta pegawai Lippo Group Henry Jasmen.

Kemudian, tersangka lain yang merupakan pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi di antaranya Kepala Dinas PUPR Jamaludin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Sahat M Nahor, Kepala Dinas PMPTSP Dewi Trisnawati, dan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Neneng Rahmi.

KPK menjelaskan, Neneng Hasanah Yasin diduga menerima dana suap sebesar Rp7 miliar, dari yang dijanjikan Rp13 miliar, dari Billy Sindoro dkk. Dugaan suap tersebut berkaitan dengan izin pembangunan proyek Meikarta seluas 774 hektare. Suap tersebut diduga diberikan dalam sejumlah tahap yang dilakukan pada April hingga Juni 2018. Dana tersebut disalurkan melalui sejumlah pejabat Pemkab Bekasi.(Riz/fin)