Kebutuhan Pangan Andalkan Suplai dari Luar Daerah

KEBUTUHAN POKOK: Kabupaten Bandung Barat masih menjadi salah satu daerah penyupai kebutuhan sayuran dan daging bagi kota Cimahi. EKO SETIYONO/PASUNDAN EKSPRES

Lahan Pertanian Cimahi Tersisa 137 Hektare

CIMAHI-Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi mengakui kebutuhan pangan daerahnya masih mengandalkan suplai dari luar wilayah. Saat ini, suplai pangan dari luar kota Cimahi mencapai 70 persen. Sedangkan pemenuhan dari dalam wilayah hanya sekitar 30 persen.

“Kita kebanyakan di-support dari luar Cimahi, dari Cimahi hanya sekitar 30 persen, sisanya dari luar,” terang Sekretaris Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, Chanifah Listyarini saat ditemui usai launching Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Kota Cimahi, Selasa (18/12).

Untuk beras, ungkap Rini, sapaan akrabnya, hampir 60 persen disuplai dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara dari wilayah Jawa Barat, seperti dari Cianjur, hanya sekitar 40 persen.

“Kalau yang di Cimahi (beras lokal Cimahi) hanya mencukupi kebutuhan 3 persen,” katanya.

Minimnya produksi beras untuk pemenuhan pangan bagi warga Cimahi dikarenakan faktor lahan yang minim. Saat ini, lahan sawah di Kota Cimahi hanya tersisa 137 hektare. Jumlah itu pun masih terus berkurang, mengingat alih fungsi lahan yang terus terjadi.

Kemudian untuk kebutuhan sayur-sayuran dan daging, lanjut Rini, Kota Cimahi mengandalkan stok dari wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Contoh untuk sayur-sayuran dan daging, biasanya para pedagang bisa disuplai dari Lembang, KBB.

“Kalau konsumsi (suplai sayuran dari petani Cimahi) kita baru men-support kurang lebih 20 persen. Itu di Kelompok Wanita Tani (KWT) Kota Cimahi,” jelas Rini.

Perihal ketersediaan pangan jelang Natal dan Tahun Baru, dirinya memastikan masih mencukupi. Gejolak harga pun diakuinya belum terlalu terlihat.

Toko tani ini akan menjual produk-produk komoditas pangan yang, namun harganya diklaim dibawah pasaran. Seperti beras yang dijual dengan harga Rp44.000/5kg, minyak goreng Rp22.000/2liter, gula pasir Rp11.000/kg, telur ayam Rp25.000/kg, daging sapi Rp90.000/kg, daging ayam Rp35.000/ekor, cabai merah Rp5.000/pack, bawang merah Rp13.500 per 1/2 kg serta bawang putih Rp12.000 per 1/2 kg.

Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna yang me-launching langsung toko tani Kota Cimahi itu menuturkan, keberadaan TTIC ini untuk merupakan salah satu upaya untuk menjaga kestabilan harga dan stok pangan.

“Kami juga buatkan untuk membantu kebutuhan masyarakat, juga untuk menjaga stok pangan dan kestabilan harga. Ini bisa dibeli masyarakat umum, harganya dibawah pasar tanpa kualitsnya bagus,” ujar Ajay.

Diakui Ajay, keberadaan toko tani ini tak akan bisa memenuhi kebutuhan pangan se-Kota Cimahi. Pasar tradisional tetap menjadi tumpuan utama. Namun, kata dia, setidaknya TTIC ini bisa menjadi salah akses untuk membantu masyarakat dalam pemenuhan pangan murah dan berkualitas.

“Kebutuhan pangan ini tak bisa di-stop, karena kebutuhan sehari-hari. Tapi (TTIC) ini belum tentu bisa mensuplai semuanya,” katanya.

Untuk pemenuhan kebutuhan pangan di TTIC, pihaknya sudah bekerja sama dengan para petani lokal di Kota Cimahi maupun komunitas di bawah naungan Dinas Pangan dan Pertanian Provinsi Jawa Barat.

“Untuk suplai TTIC, kita koordinasi dengan pihak lain. Ada kelompok di bawah naungan Dinas Pangan Jawa Barat yang menyuplai ke sini. Misalnya beras dari kelompok daerah Subang,” terang Ajay.

Dengan berbagai suplai itu, Aja meminta kepada Dinas Pangan dan Pertanian untuk menjaga keberadaan TTIC ini. Jangan sampai, kata dia, ketika sudah diresmikan, tiba-tiba beberapa hari kemudian sudah tutup.
“Jangan sampai buka, seminggu kemudian tutup karena penyuplai tidak ada,” tandasnya.(eko/din)