RSUD Cikalongwetan Hanya Layani Pasien Kelas III

Ridwan Putra Abdullah , Direktur RSUD Cikalongwetan.

CIKALONGWETAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cikalongwetan Kabupaten Bandung Barat (KBB), sementara ini hanya bisa melayani pasien rawat inap untuk kelas III. Hal itu disebabkan masih minimnya sarana dan prasarana yang dimiliki RSUD yang baru satu tahun berdiri ini.

Direktur RSUD Cikalongwetan, Ridwan Putra Abdullah mengatakan masih minimnya sarana dan prasarana ruang rawat inap untuk kelas VVIP, VIP, I dan II. Sehingga, ini berdampak pada pelayanan rawat inap di kelas tersebut yang belum bisa terlayani.

“Pelayanan yang tersedia saat ini baru untuk kelas III. Untuk pasien yang akan rawat inap di kelas II, I, VIP, dan VVIP belum bisa terlayani,” kata Ridwan kepada Pasundan Ekspres, Rabu (7/11/2018).

Dia menambahkan saat ini baru 50 ruang inap yang sudah digunakan dari jumlah 150 ruang rawat inap yang dimiliki RSUD Cikalongwetan. Adapun, sisanya masih belum memiliki prasarana pendukung seperti bed, furnitur, alat medis dan lain sebagainya.

“Banyak pasien yang harus rawat inap, tapi ketersedian ruangan tidak memadai, akhirnya banyak pasien kelas lain dirujuk ke Rumah Sakit lain,” ujarnya.

Apalagi, sejak dibuka layanan bagi peserta BPJS Kesehatan awal Oktober lalu, kata dia, kunjungan pasien terus melonjak hingga 53 persen. Sebulan terakhir, jumlah kunjungan sekitar 1.300 pasien, meningkat 700 orang dari bulan sebelumnya.

“Sebanyak 90 persen pasien memang peserta BPJS. Jadi bagi pasien BPJS kelas II pun kami rawat di kelas III, itu pun dengan persetujuan pasien,” ungkapnya.

Selain minimnya sarana dan prasarana, kata Ridwan, pelayanan di RSUD Cikalongwetan belum optimal lantaran masih kekurangan sumberdaya manusia (SDM). Untuk SDM, saat ini baru tersedia sekitar 250 orang dari kebutuhan 360 orang.

“Kita kekurangan SDM sebanyak 120 orang.
Itu untuk tenaga administrasi, medis, para medis, dan dokter,” ujarnya seraya menyebut secara bertahap RSUD Cikalongwetan berkomitmen menjadi RS rujukan di KBB.

Meski SDM masih terbatas, kata Ridwan, petugas medis di RSUD Cikalongwetan saat ini masih bisa menangani semua pasien yang datang. Dengan demikian, ia memastikan tidak ada pasien yang ditolak.

“Semua pasien yang datang kami layani, tidak dibeda-bedakan. Sejauh ini, semua pasien tersebut bisa ditangani oleh petugas rumah sakit. Sebagian besar pasien berasal dari Bandung Barat, tetapi ada juga yang dari daerah sekitar,” ungkapnya.

Untuk mengoptimalkan pelayanan, pihaknya pun mengusulkan anggaran Rp 2,5 miliar untuk melengkapi sarana dan prasarana serta SDM tersebut. Secara keseluruhan, biaya operasional RSUD Cikalongwetan tahun ini sekitar Rp 13 miliar, itu pun sebagian besar untuk

“Pada 2019 nanti, diusulkan tambahan biaya operasional menjadi Rp 24 miliar sesuai dengan kebutuhan kelengkapan sarana, prasarana, dan SDM. Jumlah tersebut termasuk untuk menambah jumlah tempat tidur menjadi 150 unit, yang sekarang baru 50 unit,” pungkasnya. (Sep/ded)