Bernazar Berenang di Sungai Citarum yang Berujung Maut

DITEMUKAN: Petugas BPBD Karwang berhasil mengevakuasi jenazah Suparta (56) pria asal Dusun Rumambe, Desa Anggadita, Klari yang hilang di aliran Sungai Citarum pada Rabu (26/2). AJI LEKSMANA/PASUNDAN EKSPRES

Akibat Berenang di Aliran Sungai Citarum

Karawang – Suparta (56) pria asal Dusun Rumambe, Desa Anggadita, Klari yang hilang di aliran Sungai Citarum pada Rabu (26/2) lalu akhirnya ditemukan pada Jumat pagi pukul 09.20 WIB, Jumat (28/2).

Tim pencari gabungan yang terdiri dari berbagai elemen seperti Basarnas, BPBD, PMI, KRI, Polisi, TNI, dan aparatur desa setempat akhirnya berhasil menemukan korban setelah dua hari pencarian.

“Setelah dua hari akhirnya kita temukan jasad korban”, jelas Aang, anggota Satgas BPBD yang turut turun dalam pencarian saat ditemui di Kantor BPBD.

Kejadian tersebut berawal dari korban yang bernazar untuk berenang di aliran sungai apabila muka air naik. Selanjutnya pada Rabu siang sekitar pukul 13.00 saat muka air Citarum mulai meninggi korban melompat terjun ke aliran sungai Citarum di Dusun Rumambe menggunakan pakaian satpam.

“Ketika air naik, korban langsung melempar cetok (topi petani) ke sungai, lalu melompat ke aliran sungai”, tutur Aang.

Ingin mengulang masa kecilnya

Dari informasi yang berhasil dihimpun melalui saksi dan warga sekitar, korban bernazar karena ingin mengulang masa kecilnya yang sering bermain di sungai sembari menggembala kerbau.

“Dari informasi yang didapat, alasan bernazar dan terjun ke sungai karena ingin nostalgia masa kecil korban yang sering bermain di sungai dan menggembala”, ungkap Aang.

Selanjutnya Satgas menerima laporan warga meninggal pada Rabu sore, lalu keluarga korban mendatangi Satgas untuk melaporkan secara resmi anggota keluarganya tenggelam.

“Dari sore udah ada laporan, trus sekitar jam 5 sore ada keluarga korban dateng minta tolong,” ucapnya.

Selepas itu, meruntut pada aturan SOP pencarian korban tenggelam, tim pencari baru dapat melakukan pencarian pada Kamis pagi.

“Kalau untuk pencarian di air, SOP-nya jam 07.00-17.00, di luar itu gak bisa, kecuali kalau di darat bisa kita pencarian malam,” lanjutnya.

Korban ditemukan tak bernyawa

Berikutnya pada Kamis pencarian dimulai pada pukul 07.00 menggunakan dua perahu karet, lalu ditunda sementara karena turun hujan deras, dan dilanjutkan kembali pada pukul 10.00. Penyusuran dilakukan hingga pukul 17.30 dengan jarak radius sejauh 5 hingga 6 kilometer dari lokasi hilangnya korban, namun tidak menemukan hasil.

Pada Jumat akhirnya pencarian dilanjutkan dimulai sejak pukul 07.00 pagi dengan harapan menemukan titik keberadaan korban, dengan radius pencarian diputuskan diperluas hingga 10 KM.

“Selanjutnya berdasar hasil evaluasi pada Rabu malam, akhirnya pencarian pada Kamis kita perluas sampe 10 KM”, kata Aang.

Akhirnya pada pukul 09.20 korban ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa dan tubuh mulai membusuk tersangkut di tanaman ilalang pinggir sungai dengan jarak sekitar 8 kilometer dari titik hilangnya korban.

“Alhamdulillah akhirnya ketemu pada jam 09.20, jaraknya sekitar 8 km dari lokasi terakhir keberadaan korban, daerah Purwadana kesananya lagi,” ucapnya.

Diketahui korban hidup seorang diri karena sudah ditinggal meninggal oleh istrinya dan anak-anaknya merantau setelah menikah, dengan kegiatan harian korban biasa menjaga jembatan perahu Rumambe.

“Korban hidup sendiri, kesehariannya biasa jaga jembatan perahu Rumambe, biasa yang nagihin uang bayar lewatnya,” tutup Aang. (lek/ded)