Dampak Tumpahan Minyak PHE-ONWJ, Nelayan Tangkolak Rugi Rp70 Juta

KARAWANG-Musibah tumpahan minyak mentah di anjungan YYA-1 PHE-ONWJ, diklaim telah tuntas sejak 21 September 2019 kemarin.

Bahkan, pihak PHE-ONWJ mengaku, bakal mengembalikan seluruh ekosistem laut seperti semula. Sebelum tercemar tumpahan minyak mentah kemarin.

Di sela-sela kegiatan peresmian PRPM Pasir Putih, di Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Vice Presiden Media and Relation PHE, Ifki Sukarya menuturkan, tumpahan minyak di anjungan YYA-1 berhasil ditutup sekitar tanggal 21 September 2019.

Ifki menjelaskan, saat ini timnya di lapangan, masih terus membersihkan sisa-sisa tumpahan minyak di lautan. Tak hanya itu, untuk ekosistem di laut serta lahan yang terkontaminasi. PHE-ONWJ mengaku siap untuk pemulihan seluruhnya sampai tuntas. Termasuk, dampak sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat nelayannya.

“Kompensasinya sudah kami turunkan dua gelombang. Kami dituntut akuntabel, karena ini di awasi BPK,” ungkapnya.

Faktanya, apa yang diutarakan Ifki ditepis oleh nelayan Tangkolak, Cilamaya Wetan. Lantaran hingga saat ini, uang ganti rugi atas kerusakan alat-alat tangkap mereka. Belum juga dikeluarkan.

Pengelola TPI Tangkolak, Muhamad Suparto menuturkan, dua bagan yang hancur akibat aktifitas kapal-kapal besar PHE-ONWJ di ring-1. Hingga kini belum juga diganti rugi.

Parto mengatakan, pihak TPI sudah berulangkali berkirim surat dengan Dinas Perikanan Karawang. Namun, hingga kini hasilnya nihil.

“Ada dua bagan pak yang hancur. Satu bagan itu Rp. 35 juta. Kami hanya terima uang kompensasi, Rp. 1,8 juta ajah,” ungkapnya.

Pamong Desa Sukakerta itu mengatakan, pihaknya tak akan berhenti menagih. Baik pada DKP Karawang, maupun PHE-ONWJ, yang menyebabkan bagannya di laut hancur.