Tak Melaut, Nelayan Nyambi jadi Kuli dan Tani

TIDAK MAKSIMAL: Tangkapan nelayan tidak maksimal karena cuaca ekstrem, sehingga banyak yang menganggur dan cari kerja serabutan. USEP SAEFULOH/PASUNDAN EKSPRES

KARAWANG-Puluhan nelayan di Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran, tidak berangkat melaut sejak sepekan terakhir. Pasalnya, terjangan angin kencang dan ombak besar, membuat resiko nelayan disana semakin tinggi. Akibatnya, nelayan setempat, mengisi waktunya dengan membersihkan perahu dan merapihkan alat tangkapnya. Agar awet dan tidak cepat rusak.

Salah satu nelayan Ciparagejaya, Tarmin (27) mengatakan, harga rajungan dalam sepekan terakhir mulai berangsur normal. Jika pada awal tahun 2019 harga rajungan hanya diangka Rp. 35 ribu per kilogram.

Namun saat ini, sudah hampir kembali normal diangka Rp. 90 ribu hingga Rp. 100 ribu per kilogramnya. Namun, dampak dari cuaca buruk, membuat penghasilan nelayan tidak maksimal. “Iya pak, sudah 6 hari tidak melaut. Anginnya kencang, ombak juga besar. Lebih berisiko. Jadi kami cuma beraktifitas dengan bersih-bersih perahu,” ujar Tarmin.

Senada Engkus Warsidi (35), nelayan lain menjelaskan, untuk membuat dapur rumahnya tetap ngebul. Para nelayan di Ciparagejaya, nyambi dengan bekerja sebagai kuli atau bertani. “Sementara kerjanya apa aja, seadanya, yang penting dapet penghasilan. Kemarin saya kuli, rencana besok mau ikut tanam padi,” katanya.

Tak hanya di Desa Ciparagejaya, nelayan di Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan, juga Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, juga sudah lama tidak melaut.

Mereka mengaku, selain hasil tangkapannya tak terlalu banyak. Harga rajungan dan ikan yang masih fluktuatif, membuat mereka malas melaut.(use/vry)