Peran Strategis Pembina Asrama

Peran Strategis Pembina Asrama
Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan

Menitipkan anak di sekolah asrama (boarding school) menjadi pilihan sebagian orang tua masa kini. Adapun pembentukan karakter yang dianggap lebih maksimal menjadi alasan bagi mereka untuk menjadikan sekolah asrama sebagai rumah kedua bagi anak – anaknya. Rutinitas yang dilaksanakan selama anak berada di lingkungan sekolah tersebut dipandang mampu membentuk anak menjadi pribadi – pribadi yang mandiri dan berkarakter.

Selain itu dengan menyekolahkan anak di sekolah asrama, orangtua tidak perlu khawatir dengan berbagai gangguan yang berpotensi merusak proses tumbuh kembang anak. Pergaulan bebas serta penggunaan telepon pintar (smart phone) yang tidak terkendali merupakan sebagian contoh dari gangguan yang dimaksud.

Salah satu pihak yang berperan penting dalam proses pembentukan karakter anak di sekolah asrama adalah pembina / wali asrama. Pembina asrama berperan sebagai orangtua kedua bagi anak selama mereka berada di lingkungan asrama. Berbeda dengan guru yang hanya bertugas saat jam pelajaran berlangsung, pembina asrama berkewajiban mendampingi anak sejak sebelum adzan shubuh berkumandang sampai mereka kembali tidur. Pembina asrama bertanggungjawab atas terlaksananya seluruh kegiatan rutin yang dilakukan oleh anak setiap harinya. Kesehatan fisik dan mental anak yang dibinanya juga menjadi bagian penting dari tugasnya sebagai orangtua kedua bagi anak.

Dalam hal pembentukan karakter anak, pembina asrama bertugas untuk menanamkan nilai – nilai positif kepada anak – anak didiknya. Memastikan anak melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah serta membaca dan menghafal Al-Qur’an setiap harinya adalah tanggungjawab dari pembina asrama. Selain itu nilai – nilai kemandirian, gotong royong serta sikap saling menghargai satu sama lain merupakan nilai yang perlu dikembangkan di lingkungan asrama. Untuk itu seorang pembina asrama perlu memahami karakter dari masing – masing anak didiknya. Perbedaan asal daerah serta latar belakang ekonomi dan sosial orangtua tentunya berpengaruh terhadap karakter yang dimiliki masing – masing anak.

BACA JUGA:  Bantuan Anggaran Pusat untuk Penanganan Covid-19 di Jabar Capai Rp 225 Miliar, Begini Rinciannya

Adapun ilmu yang berkaitan dengan pedagogik serta psikologi pendidikan menjadi modal dasar bagi seorang pembina asrama dalam menjalankan tugas – tugasnya. Berbagai macam permasalahan menyangkut anak biasa kita temukan dalam kehidupan asrama. Anak yang tidak siap untuk hidup dan belajar bersama di sekolah asrama biasanya sering membuat masalah agar mereka dikeluarkan oleh sekolah.

Dalam hal ini seorang pembina asrama berperan penting dalam memberikan semangat dan dukungan kepada anak. Ia harus mampu menjadi pendengar sekaligus penasihat yang baik bagi anak – anaknya.

Selain memiliki bekal pedagogik dan pengetahuan yang berkaitan dengan psikologi perkembangan anak, seorang Pembina asrama juga haruslah mampu memposisikan dirinya sebagai teladan arau role model bagi anak – anak yang dibinanya. Kepribadian seorang Pembina asrama akan sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Saat Pembina asrama mendidik anak – anaknya dengan penuh kasih sayang, rasa menghargai serta mampu memberikan rasa aman, maka anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang senantiasa menyayangi dan menghormati orang – orang yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, ketika seorang Pembina asrama selalu mengedepankan hukuman bagi anak – anak yang dianggap bermasalah, tidak mustahil anak pun akan melakukan hal serupa kepada orang lain.