Catat! Resepsi atau Hajatan Hanya di Tempat Berizin, Bupati Belum Izinkan Digelar di Rumah

Resepsi atau Hajatan
SIMULASI: Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika saat menghadiri kegiatan Simulasi Adaptasi Kebiasan Baru (AKB) yang digelar Gabungan Pelaku Usaha Pernikahan Purwakarta (GPUPP) di Hotel Harper, Bungursari, Purwakarta. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Pemerintah Kabupaten Purwakarta berencana melakukan relaksasi larangan kegiatan resepsi atau hajatan. Namun, tetap dengan berbagai syarat dan ketentuan yang harus dijalankan oleh para pelaku usaha Wedding Organizer (WO).

“Kami akan buat dulu SOP-nya dan gedung mana saja yang bisa dipergunakan untuk dipakai resepsi. Mohon dicatat, resepsi hanya bisa dilakukan di gedung yang sudah kami izinkan,” kata Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika pada Simulasi Adaptasi Kebiasan Baru (AKB) yang digelar Gabungan Pelaku Usaha Pernikahan Purwakarta (GPUPP) di Hotel Harper, Bungursari, Purwakarta, Selasa (14/7).

Menurutnya, hajatan atau resepsi belum bisa dilakukan di rumah warga, kecuali hanya akad nikah saja. Pihaknya juga meminta komitmen dari pemohon resepsi agar tetap menerapkan protokol kesehatan.

Baca Juga: Dikdik: Jangan Ada Resepsi Pernikahan di Subang, Masyarakat Diminta Menahan Diri

“Misalnya, jangan ada buku tamu, tamu undangan dibatasi. Jika melanggar, terpaksa kami bubarkan. Satu lagi, warga yang akan menggelar resepsi saat mengajukan permohonan harus didampingi oleh wedding organizer,” kata Ambu Anne, panggilan akrab bupati.
Selain itu, pihaknya juga mengapresiasi kegiatan simulasi resepsi pada era adaptasi kebiasaan baru yang digelar GPUPP. “Mudah-mudahan ini bisa menjadi solusi,” ujar Ambu Anne.

Di tempat yang sama, Panitia Pelaksana Simulasi Resepsi pada era Adaptasi Kebiasaan Baru GPUPP Deri Nurendi mengatakan, GPUPP terdiri dari seluruh vendor baik WO, grup musik, katering dan lain-lain yang konsen pada usaha penyelenggaraan hajatan atau resepsi pernikahan.

“Dengan simulasi ini, diharapkan outputnya bisa diketahui oleh klien kita atau lebih luasnya masyarakat umum,” kata Deri.

Komitmen untuk melaksanakan protokol kesehatan

Di masa adaptasi kebiasaan baru ini, pihaknya berkomitmen untuk melaksanakan protokol kesehatan dan mengikuti seluruh anjuran pemerintah dalam setiap kegiataan yang melibatkan para vendor WO. Khususnya, dalam konteks resepsi pernikahan.

BACA JUGA:  Balita Diduga Tenggelam di Danau Jatiluhur

“Lalu, apa saja yang akan dilakukan dalam penerapan AKB dalam resepsi ini. Mulai dari kedatangan para tamu harus pakai masker dan mencuci tangan,” ujar Deri.

Kemudian, sambungnya, jika ada musiknya, tidak ada sumbang lagu dari para tetamu. Di pelaminan pun, kata dia tak ada tradisi salaman. Untuk foto, diarahkan untuk tidak berdekatan dan lain-lain, sesuai standar protokol kesehatan.

“Kemudian untuk makanan, ada sejumlah opsi, mulai dari menggunakann nasi boks atau katering. Untuk tamu, kita batasi hanya 50 persen dari kapasitas gedung,” kata Deri.
Dirinya pun berharap simulasi ini dapat diterima positif oleh Pemda Purwakarta. “Kami dari GPUPP berharap bisa segera memulai bisnis, karena ini merupakan mata pencaharian kami,” ucap Deri. (add/ysp)