Hujan Mulai Turun, Petani Mulai Tanam Palawija

MENGGARAP: Sejumlah petani di Desa Cikeris Kecamatan Bojong, mulai menggarap lahan sawahnya, menyusul musim hujan sudah mulai turun. Desa Cikeris merupakan daerah komoditas tanaman sayuran dan palawija. DAYAT ISKANDAR/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Para petani sayuran dan palawija Desa Cikeris Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta mulai bergairah. Mereka mulai menggarap lahan pertanian, menyusul mulai intensnya hujan yang turun dalam kurun waktu sepekan terakhir, di daerah pertanian di kaki Gunung Burangrang dengan ketinggian 500 meter dpl.

Sejumlah petani di Desa Cikerispun telah sepakat untuk mulai, bercocok tanam, seiring datang muism hujan. Musim kemaraupun nampaknya sudah mulai berganti, lahan sawah sudah lama tak ditanami.

Disebutkan Ramdan, ada sejumlah komoditas unggulan seperti cabai merah,tomat dan buncis,serta kacang panjang,akan mulai dibudidayakan diareal lahan,yang dikerjakan secara berkelompok itu.

“Komoditas,sayuran yang kami sebutkan itu, merupakan produk unggulan hasil pertanian disini, makanya sekarangpun akan kami usahakan sayuran sejenis,” papar Ramdan lebih lanjut.

Namun demikian, meski tanah sudah mulai digarap, kendala permodalan masih menghantui sejumlah petani di Desa Cikeris.

“Ini sample saja dulu,luasnya tak seberapa, sebab untuk menggarap areal pertanian yang ada, untuk produksi yang lebih banyak warga tani disini butuh modal awal yang cukup besar,”
terang Ramdan.

Hanya saja sejumlah petani disana, masih kebingungan, harus bagaimana mengajukan bantuan usaha pertanian, yang tak terlalu membebani petani.

“Kalau ada kredit ringan tanpa agunan, dan bunga rendah sangat membantu petani disini,” tutur Ramdan yang diamini,rekan rekan petani lainnya.

Modal tani, yang diperlukan petani sayuran, yaitu untuk pembelian pupuk buatan, upah biaya pengolahan lahan, biaya pemeliharaan termasuk pembelian pestisida dan plastik untuk menutup permukaan tanah,

“Permukaan tanah,perlu dilapisi plastik, guna menghindari percikan air hujan langsung, gangguan tikus dan mengawetkan pupuk serta tak mudah larut disapu air hujan,” tuturnya.

“Untuk biaya modal awal cukup besar, bisa mencapai Rp 20 hingga Rp 25 juta perhektar.” pungkasnya.(dyt/dan)